
Rasa rindu Dion tak bisa lagi ia tahan. Ia semakin rindu pada wanita yang sudah membuatnya mabuk kepayang.
Ia memberanikan diri untuk menemui Sofie. Ia tak takut jika berhadapan pada Shane.
Pagi itu, ia sudah ada di rumah sang mafia. Ia mencoba menekan bel rumah itu, dan tak berapa lama, Bibi Janet datang.
" Hai, Bi. Apa ada Sofie ?" tanya Dion
" Ya, Sofie nya ada. Tapi dia lagi bersama suaminya. Maaf !"
" Oh, begitu. Apa Bibi bisa tolong panggilin? sebentar aja !"
" Ya, tunggu lah sebentar."
Bibi Janet pun memanggil Sofie. Tapi dari atas balkon Shane melihatnya. Ia tahu jika yang datang itu adalah Dion. Shane langsung turun.
" Bi, siapa yang datang ?" tanya Shane pura - pura tidak tahu.
Bibi Janet terdiam. Ia takut kalau Shane tahu yang datang itu adalah Dion.
" Bibi kenapa diam?"
" Dion, Tuan. Teman nak Sofie !"
" Oh. Ga usah panggil Sofie, biar saya aja yang menemuinya. "
Shane pun keluar.
" Kamu mau cari Sofie ?"
Dion terkejut mendengar suara itu.
" Shane ?"
" Ya, kamu mencari Sofie ?"
" Ya, apa Sofie nya ada ?"
" Ada. Ada urusan apa kamu?"
" Ini bukan urusan mu. Ini urusan saya dengan Sofie. "
" Saya suaminya, jadi saya harus tahu, kamu itu punya urusan apa dengan Sofie. "
" Huufff...kasihan sekali Sofie, harus punya suami seperti kamu. Kamu terlalu mengekangnya, Shane."
" Mengekangnya?"
" Ya. Kamu terlalu mengekangnya."
" Sekarang pergilah, jangan membuat saya semakin emosi."
" Saya ga akan membuat diri mu emosi, asalkan kamu mengijinkan Sofie bertemu dengan saya."
" Saya ga akan mengijinkannya, kamu ngerti ? sekarang pergi lah, sebelum batas kesabaran saya habis."
" Saya ga akan pergi."
Mendengar keributan itu, Sofie langsung keluar. Ia terkejut melihat suaminya sedang ribut dengan Dion.
" Shane, Dion...!"
" Kamu masuk Sofie !" titah Shane
" Shane, kamu ga boleh gitu. Kamu bisa ga sih sedikit baik aja sama orang !"
" Tergantung orangnya, Sofie !"
__ADS_1
" Dion, maaf ya !"
" Sofie, Sarah nyariin kamu."
"Nyari'in Sofie? bukannya Sofie uda berhenti ngajar les?"
" Ya, saya uda berhenti kok."
" Sofie, Sarah itu kangen banget sama kamu !"
" Kangen sama Sofie? bukannya Sarah itu juga anak murid Sofie? kenapa harus kangen? padahal tiap hari kan mereka ketemu. Uda deh, ga usah cari alasan kamu Dion. Sekarang pergilah !"
" Shane, kamu ga boleh gitu !"
" Sofie, saya pergi dulu ya, jaga diri mu dari pria brengsek ini. Tolong ajari dia sopan santun."
" Kamu itu kalau ngomong dijaga ya!
Dengan cepat Shane menarik kera baju milik Dion.
" Shane, uda dong jangan ribut, malu dilihat orang."
" Tunggu aja giliran mu, saya akan berikan kamu pelajaran!" tantang Shane.
" Saya ga takut. Permisi !"
Dion pun pergi meninggalkan mereka berdua.
" Shane, kamu itu kenapa sih ? bisa ga sih kamu itu nahan emosi kamu itu?"
" Ga, saya ga bisa. Saya ga mau kalau kamu itu di dekati sama pecundang itu."
" Terserah. Kamu itu payah !"
Sofie pergi masuk kedalam rumah. Ia sangat kesal sekali pada suaminya itu. Setiap bertemu dengan Dion, pastilah mereka selalu ribut.
" Sofie, tunggu..!"
" Apa lagi ?"
" Saya ga mau kamu itu dekat - dekat dengan pria lain, apalagi seperti Dion."
" Dekat bukan berarti punya hubungan yang spesial. Dion itu baik."
" Bela aja dia trus !"
" Bukannya membela dia, tapi Dion itu emang baik, anaknya juga sopan."
" Ia, dia sopan. Ga kayak saya, saya ga pernah sopan."
" Terimakasih Shane, akhirnya kamu sadar !" Sofie tersenyum tipis.
Lagi - lagi Sofie pun meninggalkannya.
****
Hari ini , Paman Sammy dan keluarganya akan pergi ke rumah Shane. Alasan mereka pergi adalah hanya untuk melepas rindu, karena anak - anak mereka selalu mendesak agar dapat bertemu dengan Sofie.
Mau tak mau, Paman nya itu pun mengijinkan Jesi dan Jason untuk bertemu dengan wanita yang dibencinya itu.
Ada rasa kesal, karena Paman nya masih saja mengingat kejadian di pulau itu, ia gagal membunuh Sofie.
Tapi Paman nya itu tidak akan tinggal diam, ia akan mengulangi perbuatannya itu, ia ingin Sofie sama seperti orang tuanya, mati di tangannya.
Tibalah mereka di rumah itu. Tanpa menunggu lama, Bibi Janet membukakan pintu buat mereka.
Bibi Janet pun mempersilahkan masuk. Jesi dan Jason sudah tak sabar ingin bertemu dengan Tante Sofie.
__ADS_1
Mendengar keluarga Pamannya datang, Sofie segera turun menghampiri mereka.
" Jesi - Jason !" panggil Sofie dari anak tangga kamarnya.
" Tante Sofie ?"
Mereka pun berlari memeluk Sofie. Pelukan yang begitu erat, ada rasa rindu yang terpendam di antara mereka.
Air mata anak - anak itu pun tumpah ruah ketika mereka bisa memeluk Sofie kembali.
" Kami sangat merindukan Tante Sofie !" ucap Jesi dengan Isak tangisnya.
" Ya sayang, Tante juga sangat merindukan kalian."
" Anak - anak, kembalilah duduk. Sopanlah sedikit." titah Bibi Mary.
" Tidak apa - apa, Bi. Biarkan saja mereka saling melepaskan rindu." sahut Shane menimpali.
" Shane ?" begitu melihat Shane, Bibi Mary jadi salah tingkah.
" Silahkan duduk, Paman dan Bibi Mary. Oh ya, ada angin apa Paman dan Bibi datang kerumah saya?"
" Shane, anak - anak ingin bertemu dengan Sofie. Katanya mereka merindukan Sofie. "
" Perasaan anak - anak memang tidak bisa di bohongi, Karena mereka masih polos dan apa adanya. Tidak seperti kebanyakan orang dewasa, selalu berpura - pura dan ada apanya. bukan begitu Paman?"
" Ya, kamu benar Shane." Paman Sammy mulai berkeringat.
" Bibi Janet tolong nyalahin AC nya, sepertinya Paman Sammy mulai kepanasan." titah Shane pada Bibi Janet.
Tanpa menunggu lama, Bibi Janet langsung menyalakan AC diruang tamu itu.
" Paman dan Bibi, kalian apa kabar?" tanya Sofie
" Kami baik baik aja, Sofie. Maafkan Paman, ketika kamu sakit, Paman ga bisa menjenguk mu, Paman Sibuk."
" Ia Paman, saya ngerti kok."
" Jadi gimana, apakah kamu sudah sehat betul?"
" Sofie sudah sehat, Paman. Tapi jiwa nya belum, belum sama sekali. Karena apa? dia masih trauma akan kejadian itu." ucap Shane.
Paman Sammy sedikit kesal pada Shane, karena Paman nya bertanya pada Sofie, tapi Shane selalu saja menimpali pembicaraan mereka.
" Kurang ajar sekali orang itu, Paman jadi kesal, Sofie."
" Ia Paman, saya akan mencari tahu siapa pelakunya dan saya akan menghancurkannya seperti bumbu dapur yang dihaluskan dengan mesin blender, gampangkan !" ancam Shane dengan nada bercanda.
Mendengar ucapan Shane, Paman dan Bibi Mary terdiam seribu bahasa. Paman Sammy tidak bisa berkutik sama sekali. Ia menelan air liurnya yang sudah mulai kering kerontang, karena ucapan Shane sangatlah menakutkan baginya.
" Paman haus? Bi, tolong buatin air minum!"
" Shane, kamu kenapa?" tanya Sofie berbisik pada suaminya itu.
" Saya ga papa, santai aja !" jawab Shane datar.
" Apa kamu mau melaporkan masalah ini?"
" Ga, Paman. Saya bukan tipe orang yang suka melaporkan masalah, apalagi masalah keluarga. Saya lah yang akan menghabisi orang tersebut."
" Kamu yakin menang?"
" Ya, saya yakin. Shane Denaro, tidak akan pernah kalah dan tidak akan pernah takut pada siapa pun, terlebih sama Paman sendiri, hahahaha..!"
" Saya ga punya salah sama kamu !"
" Baguslah !"
__ADS_1