" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 117 " Shane Berjanji "


__ADS_3

Akhirnya Sofie pun mendapatkan penanganan khusus selama di kota B. Untuk seminggu ke depan, Shane harus cuti dikarenakan Sofie belum sadarkan diri.


Terpaksa Shane harus bekerja dari jarak jauh, ia tetap memantau perkembangan dikantor. Mau tak mau, akhirnya Shane mengatakan kepada seluruh pegawainya, apa sebenarnya yang terjadi.


Semua merasa kasihan. Dan kabar ini pun sampai ke telinga Pak Bryan, Dion, Agnes dan Paman Sammy. Semua merasa sedih. Shane meminta pada semua teman, klien , kerabat dan sahabat untuk terus mendoakan Sofie, agar cepat sadarkan diri.


Dion sendiri sangat khawatir akan keadaan Sofie. Ingin rasanya ia pergi ke kota B untuk melihatnya, tapi itu sangatlah mustahil, dikarenakan ada Agnes yang sedang hamil.


Diam - diam, Dion selalu memantau perkembangan Sofie melalui salah satu dokter di rumah sakit itu. Dan kebetulan, salah satu dokter yang menangani Sofie adalah sepupunya sendiri.


Sudah hampir seminggu Sofie di rawat di rumah sakit itu, belum juga ada tanda - tanda pemulihan untuknya. Shane tidak putus asa, ia selalu mendampingi istrinya itu. Doa dan air mata selalu di panjatkan untuk istri tercinta.


" Sayang, bangun lah ! oh ya, saya janji kalau kamu uda baikan, kamu boleh bekerja lagi. Kamu boleh ngajar musik lagi, kita akan cari sekolah internasional yang bagus untuk kamu bekerja nanti. Sofie, saya tahu kamu pasti bisa mendengarkan saya, saya hanya minta sama kamu, bangunlah, lihatlah saya disini, disini saya selalu menunggu mu. Sayang, saya minta maaf untuk semua kesalahan yang uda pernah saya buat sama kamu. Bangunlah Sofie, saya mohon !"


Air mata Shane kembali mengalir.


" Jangan pernah tinggalkan saya Sofie, hanya kamu yang saya miliki, bangunlah....!"


Shane terus memanjatkan doa, dan suatu mujizat pun terjadi pada diri Sofie. Air matanya mengalir, Sofie mendengarkan ucapan suaminya itu. Jari jemarinya mulai digerakkannya. Shane melihat apa yang terjadi pada istrinya itu. Ia pun segera berlari memanggil dokter.


Dokter dan perawat pun tiba diruangan itu. Dokter itu langsung memeriksa keadaan Sofie. Dokter itu pun tersenyum.


" Ibu Sofie sudah melewati masa kritisnya. Ibu Sofie sudah sadar, Pak !"


" Benar kah, Dok ?"


" Ya, Pak !"


Shane terus mengucap syukur untuk kesembuhan istrinya itu, Shane sangat bahagia.


" Ibu Sofie , kalau Ibu mendengarkan saya, tolong buka mata Ibu perlahan - lahan !"

__ADS_1


Sofie mendengarkan apa yang dikatakan Dokter itu. Ia pun membuka matanya perlahan - lahan. Ia pun menangis.


" Sayang, jangan nangis, saya ada disini, kamu sekarang baik - baik aja !" ucap Shane


Sofie pun membuka kedua matanya, Sofie melihat kalau ia sudah berada di sebuah kamar. Ia begitu ketakutan, ia mengingat ombak besar yang menyeret nya. Ia mengingat bagaimana ketika ia di dasar lautan yang sangat luas, terombang - ambing, tidak bisa sama sekali berenang, Sofie mengira mungkin itulah hari terakhir hidupnya, harus seperti itulah ia pergi, tapi nyatanya Tuhan masih berbaik hati padanya. Sofie terus menangis. Shane langsung memeluknya.


" Apakah saya selamat ?" tanya Sofie .


" Ia sayang, kamu selamat. Kamu ga usah takut lagi, sekarang kamu ada disini !"


" Ombak itu ?" Sofie mencoba mengingatnya lagi.


" Ibu Sofie, tenangkan hati dan pikiran Ibu. Jangan ingat lagi kejadian itu !"


Sofie kembali menangis.


" Tuhan masih menginginkan kita untuk selalu bersama, kamu ga usah takut , saya janji akan selalu ada buat kamu, jagain kamu !"


Sofie terus menangis, sepertinya ia masih shock akan kejadian itu. Dokter dan perawat pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Shane menceritakan gimana dulu nilai di sekolahnya, masalah percintaannya juga, ia mengaku baru Sofie lah wanita yang benar - benar membuatnya jatuh cinta hingga terlalu bucin sampai sekarang. Aneh bagi Shane, tapi ia mencoba jujur pada istrinya itu.


Shane terus bercerita, tapi tidak ada komen apa pun dari sang istri. Tatapan Sofie seperti kosong, ia sedang memikirkan sesuatu. Masih tidak percaya ia masih hidup.


Shane pun kelelahan, ia tidak tahu harus bercerita apa lagi.


" Sofie, kamu istirahat lagi ya !"


Sofie menggelengkan kepalanya. Lagi - lagi air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.


" Sofie, saya mohon jangan nangis lagi !"

__ADS_1


" Saya takut !"


" Ga ada yang perlu di takuti, sayang ! semuanya akan baik - baik aja !"


" Saya takut, laut itu ternyata serem."


" Serem bagi orang yang ga tahu renang. Kalau kita tahu renang, kita bisa bersahabat dengannya. Kamu belum pernah lihat saya surfing kan? suatu saat, saya akan ajak kamu untuk melihat saya lagi surfing, pasti kamu akan menyukai laut,"


" Shane, kalau saya uda sembuh, tolong jangan marahi saya, hiks..hiks..hiks..hiks...!"


" Hahahaha, kenapa harus marah? lagian saya harus marah karena apa?"


" Saya minta maaf, saya pergi ke pantai ga ijin sama kamu ! lagian saya belum pernah pergi ke pantai, saya ga tahu pantai itu gimana, maafkan saya, Shane !"


" Jadi kamu belum pernah ke pantai?"


" Belum ,"


" Hahaha..!"


" Kenapa ketawa ?"


" Kamu lucu, saya baru tahu ternyata masih ada orang yang belum pernah pergi ke pantai !"


" Gimana saya bisa kenal pantai, dari kecil saya kan di rawat dan dibesarkan Paman dan Bibi, mereka tidak pernah membawa saya jalan - jalan, masa kecil saya itu sangat menyakitkan , Shane ! beda dengan kamu, walaupun kamu dari kecil di tinggal orang tua, tapi setidaknya, kamu dikelilingi orang - orang yang sayang sama kamu, apa yang kamu minta, akan langsung tersedia di hadapan mu, tapi tidak dengan saya, Shane !"


Shane pun terdiam. Ia telah membuat hati istrinya itu sakit hati dan bersedih.


" Sofie, maafkan saya ya ! Tuhan tahu kalau kamu itu orang baik, makanya Tuhan mempertemukan kita berdua. Saya janji, saya akan selalu ada buat kamu, saya akan berusaha membuat kamu bahagia, apapun kata orang di luar sana tentang saya, saya akan tetap menjadi suami yang baik buat kamu, buat anak - anak kita nanti. "


Sofie kembali menangis.

__ADS_1


" Sofie, kamu tahu kan, saya itu ga bisa hidup tanpa kamu, setahun kita berpisah, saya ga bisa jauh dari kamu, hanya kamu wanita satu - satunya di dunia ini yang bisa membuat saya jatuh cinta sampai saya merasa sepertinya diri saya ini bukan Shane yang sebenarnya. Jadi saya mohon, kamu harus kuat, sehat selalu dan jangan pernah tinggalkan saya sendiri !"


Shane mencium kening istrinya itu. Sofie merasa bahagia bisa memiliki suami seperti Shane, walaupun sebenarnya pria dingin ini belum bisa sepenuhnya seperti kebanyakan laki - laki lain, bisa selalu romantis. Ya, Sofie selalu berharap suaminya itu seperti dalam cerita drakor, hidup penuh cinta.


__ADS_2