
Sofie menangis hiteris. Bibi Janet memeluknya, ia menenangkan nya.
Bibi Janet merasa bersalah, ia telah meminta pada Sofie agar mau menggantikan posisi Agnes.
Tapi apa yang terjadi, Sofie tidak sedikit pun dihargai oleh Shane. Shane telah menyia - nyiakan kebaikan dan perjuangan Bibi Janet.
Sofie sangat lelah dan ia pun istirahat. Bibi Janet menunggu Agnes, ia ingin berbicara pada Shane.
Sudah ada 3 jam, Agnes berada di dalam kamar Shane. Ntah apa saja yang mereka lakukan disana.
Dan akhirnya Agnes pun keluar dari kamar itu dengan wajah yang sangat sumringah. Sepertinya ada tanda - tanda kebaikan yang terjadi.
Bibi Janet langsung naik ke atas dan ia langsung menemui Shane. Wanita tua itu langsung menangis dihadapan majikannya itu.
" Bibi kenapa menangis? ada masalah, Bi?"
" Tuan Shane, saya minta maaf kalau saya sudah terlalu ikut campur. Ini masalah Sofie dan Agnes. Tuan tahu sendirikan, kalau saya lah yang meminta Tuan menikah dengan Sofie? Tuan, saya merasa tidak enak pada Sofie. Tuan, saya mohon dengan sangat jangan tinggalkan Sofie, Tuan. Sofie adalah anak yang baik. Dia sangat sayang pada Tuan. Tolonglah Tuan, berikan kebahagiaan pada Sofie. Tuan tahukan, dia sudah banyak menanggung kesedihan."
" Maksud Bibi apa?"
" Tuan, apakah Tuan akan memilih Agnes ? tadi Sofie melihat Tuan dan Agnes dan Sofie sangat terpukul sekali."
" Sofie ada dirumah ini? "
" Ia Tuan. Tolong Tuan, jangan tinggalkan Sofie. Saya mohon dengan sangat..."
" Bi, saya tahu Bibi ingin saya bahagia kan? Bibi adalah orang yang sudah menolong saya, saya ga akan tinggalkan Sofie, Bi. Tapi Bi, saya belum bisa menyukainya. Perasaan saya belum ada pada Sofie. Bibi ga usah takut, saya ga akan tinggalkan Sofie. Saya akan coba perlahan - lahan mencintainya. Bibi ga usah takut. Saya tetap menghargai Bibi dan Sofie. Bibi harap maklum ya...!"
" Tuan Shane...?"
" Ya, Bi. Maafkan saya ya. Saya uda terlanjur cinta pada Agnes, Bi. "
" Jangan nodai pernikahan mu, Tuan. Agnes sudah mempunyai tunangan dan mereka akan segera menikah."
" Ga Bi, saya ga akan nodai pernikahan saya. Tapi saya minta maaf, saya belum bisa mencintai Sofie. "
Bibi Janet kembali menangis. Lagi - lagi Sofie mendengarkan pembicaraan mereka.
Sungguh amatlah terpukul hatinya, ketika mendengarkan bahwa Shane belum bisa menerimanya.
Sofie sadar, dia bukanlah wanita yang pantas buat Shane. Mengemis cinta pada lelaki yang sudah menodainya bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
Sofie pun memberanikan dirinya menemui Bibi Janet dan Shane.
" Bi, tidak perlu memohon seperti itu. Jika cinta dipaksakan itu tidak baik, Bi. Yang ada hanya kebencian. Shane...saya tidak memaksakan kamu harus memilih siapa, saya sudah ikhlas, kalau kamu mau kembali pada Agnes, silahkan. Kalau itu yang bisa membuat kamu bahagia. Ya, dulu saya memang punya perasaan , tapi setelah saya jalani, saya memang ga pantas buat kamu. Saya lah yang salah, saya uda mengganggu mu, saya uda terlalu ikut campur urusan mu. Bi, Shane....kalian sudah sangat baik kepada saya, saya bisa bebas dari kehidupan Paman dan Bibi saya. Shane, kembali lah pada Agnes. Saya sangat setuju jika kalian hidup bersama." Kata Sofie, ia sebisa mungkin menahan air matanya.
" Sofie.....ini semua salah Bibi, nak."
" Tidak, Bi. Saya lah yang salah. Andai saja saya tidak mencampuri masalah pekerjaan Paman saya, mungkin saya tidak akan seperti ini. Tapi yakinlah, Shane dan Agnes akan bahagia, Bi. Ini cincin pernikahan yang kamu beri, Shane. Ini punya Agnes bukan punya saya. Agnes lah yang pantas memakainya bukan saya." Sofie pun membuka cincin pernikahan itu dan meletakkannya di nakas kamar itu.
" Saya permisi..." Ucap Sofie
Sofie langsung keluar dari kamar itu. Ia masih menahan air matanya. Bibi Janet langsung mengejarnya.
" Sofieeeee.....tunggu nak."
Sofie pun menghentikan langkahnya.
" Bibi.....!"
" Sofie, maafkan Bibi nak." Ucap bibi Janet sambil membungkukkan tubuhnya.
" Jangan lakukan itu, Bi. Bibi ga salah. Ijinkan saya pergi, Bi. Bibi dan Shane baik - baiklah disini."
" Sofieeeeee...jangan tinggalkan Bibi nak...!!"
Shane tidak bisa berkata - kata. Ia hanya bisa menyesali perbuatannya karena telah menodai Sofie. Ntah mengapa, ia tidak pernah bisa menghargai Sofie. Padahal Sofie sudah banyak berbuat kebaikan untuknya, tapi Shane tetap saja tidak bisa menerimanya, dan ia sangat membencinya.
Shane mengirimkan pesan pada Sofie.
..." Tunggu saya di taman depan"...
Pesan pun terkirim dan tersampaikan pada sofie. Ia pun membacanya.
Sofie masih menghargai Shane. Ia menunggu Shane ditaman depan.
Tak berapa lama, Shane pun tiba ditaman itu.
Sofie menghapus air matanya. Ia tak mau terlihat menangis. Ia berusaha tegar dan kuat .
" Saya mau minta maaf karena kelakuan saya . Saya merasa bersalah. Saya ga akan tenang kalau saya ga minta maaf sama kamu. Anggaplah kejadian yang dulu tidak pernah ada. Saya berharap kamu akan menemukan pria yang benar - benar sayang sama kamu. Kita akhiri semua ini dengan baik dan tidak ada saling dendam. Kamu ikhlas kan maafiin saya?"
Mendengar ucapan Shane, Sofie pun tak bisa menahan air matanya. Ia pun menangis. Hatinya benar - benar hancur. Seenaknya saja Shane mengatakan kejadian itu tidak pernah ada.
__ADS_1
Hidupnya hancur karena Shane. Sofie benar - benar diterpa masalah yang besar. Baru saja ia merasakan pernikahan yang baginya sangat sakral dan tiba - tiba saja Shane harus memutuskannya.
Sofie hanya terdiam, ia hanya bisa menangis. Lalu Shane pun pergi meninggalkannya.
****
Sudah hampir 2 bulan, Shane dan Sofie tidak saling komunikasi. Ternyata Shane tidak bisa menahan rindunya pada Sofie, istrinya itu.
Shane mencari jalan gimana caranya bisa komunikasi lagi dengan Sofie. Rasa gengsi dan selalu menjaga image itulah sifat Shane Denaro.
Malam hari, Shane sangat gelisah tidur. Ia pun menanyakan alamat kontrakan Sofie pada bawahannya.
Begitu mengetahui alamat kontrakan Sofie, Shane langsung pergi menemuinya. Tak lupa ia membawa bantal dan selimutnya.
Bibi Janet tidak mengetahui kepergian Shane. Ia sudah tak sabar ingin menemui Sofie. Mobil pun berlaju sangat kencang.
Tepat di alamat yang dikatakan bawahan Shane, ia pun turun dari mobilnya. Ia mencari - cari kontrakan Sofie.
Dan akhirnya ia pun menemukan rumah kontrakan yang mungil itu, banyak bunga bermekaran di depan rumah kontrakan itu.
Shane mencoba menghubungi Sofie. Tapi ia tak menjawab telpon dari Shane. Shane mencoba mengetuk pintu rumah itu.
Ia mengetuk pintu rumah kontrakan itu perlahan - lahan. Ia takut kalau ketahuan tetangganya Sofie.
Malam itu, Sofie belum tidur. Ia masih mengerjakan tugas dari sekolah.
" Tok...tok...tok...tok...."
Sofie menghentikan pekerjaannya. Ia melihat jam dinding, sudah pukul 23.30.
Dalam benak Sofie mungkin itu tetangganya yang baru pulang kerja. Ia pun melanjutkan pekerjaannya lagi.
Pintu kembali diketuk. Kali ini ketukannya sangat kuat sekali. Sofie pun mengintip dari bilik jendela.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat Shane sudah membawa bantal dan selimutnya dan ia berdiri didepan pintu rumah kontrakannya.
Sofie langsung membuka pintu rumah itu.
" Shane...?"
" Kenapa lama sekali membuka pintunya? kamu tahu saya uda kedinginan diluar...!"
__ADS_1
Sofie masih tidak percaya, bisa - bisanya suaminya itu datang menemuinya dimalam hari. Belum saja dipersilahkan masuk, Shane langsung nyelonong masuk kerumah itu.