
Malam yang dinantikan Sofie pun tiba, Sofie dan bibi Janet merayakan ulang tahun Bibi Janet yang ke 60 tahun.
Sofie mencoba menghubungi Shane, agar Shane ikut juga merayakannya. Karena Shane benar - benar sayang pada Bibi Janet, Shane pun ikut serta dalam acara tersebut.
Sofie sangat senang sekali. Shane bisa ikut bersama dengan mereka. Malam itu Bibi Janet sangat bahagia sekali bisa merayakan ulang tahunnya bersama dengan Shane dan Sofie.
" Shane dan Sofie, Bibi sangat berterima kasih sekali pada kalian berdua, kalian sangat baik pada Bibi. "
Bibi Janet pun menangis. Sofie segera memeluknya.
" Bibi jangan bersedih ya? kita sayang sama Bibi. Bibi itu uda seperti Ibu kita, Ibu yang selalu menjaga dan melindungi serta memberikan cinta kasih buat kita." Ucap Sofie.
" Selamat ulang tahun ya Bi, tanpa Bibi saya juga ga akan bisa seperti ini, sehat sampai sekarang. Bibi uda merawat saya dari kecil. Bibi uda seperti Ibu buat saya. Bibi tetap sehat dan bahagia selalu ya....!'' Ucap Shane.
Shane juga memeluk Bibi Janet. Sofie sangat senang sekali, melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Bibi Janet, wanita yang sudah tua itu.
" Oh ya, tadi saya uda masak, sekarang kita makan ya. Kamu ikutan juga makan ya?" Pintanya pada Shane.
Shane hanya menganggukkan kepalanya. Sofie menyediakan semua makanan itu. Shane selalu melihat Sofie. Sofie selalu memberikan senyum manisnya.
Shane tersadar kalau ia sudah mempunyai Agnes. Ya, Agnes yang akan menjadi istrinya.
Mereka pun makan malam bersama. Sofie memasak makanan yang enak dan lezat. Sofie memberikan yang terbaik untuk Bibi Janet, tapi dalam hati kecilnya, ia merasa sedih karena ia akan meninggalkan Shane dan Bibi Janet.
Ia tak mau kalau ia akan menjadi pengganggu dirumah tangga Shane dan Agnes nanti. Sofie pun berniat akan pergi dari rumah itu.
Berat rasanya melihat Shane dan Agnes akan menikah, karena Sofie mulai mencintai Shane.
Tapi apa boleh buat, Shane tak pernah menaruh rasa cinta dan kasih sayangnya pada Sofie. Shane lebih memilih Agnes dari pada nya.
Selama ini Shane membencinya, tapi Sofie tetap sabar dengan perlakuan kasar Shane terhadapnya. Bekerja sebagai art dirumah Shane, tanpa di bayar membuat Sofie merasa sakit dan terlalu hina.
Kepolosan dan kesabarannya lah yang membuat ia tetap bertahan sampai sekarang. Dan malam ini Sofie mengatakan sesuatu kepada mereka, kalau ia akan pergi dari rumah itu.
" Gimana makanannya, Bi, Shane? kalian suka?" Tanya Sofie
Shane hanya diam sambil menikmati makan malamnya.
" Makanannya enak sekali, nak. Terimakasih ya Sofie...!" Ucap Bibi Janet.
" Bi, Shane..saya mau bilang sesuatu buat kalian. Selama ini kalian sudah berbaik hati mau menerima saya disini. Saya hanya mau bilang, kalau saya uda dapat pekerjaan yang baru, saya akan mengajar kembali."
Shane menghentikan makanannya. dan menatap Sofie.
" Ohh gitu. Ya uda terserah kamu." Kata Shane seperti rada kesal mendengar ucapan Sofie.
__ADS_1
" Sofie, kamu mau pergi nak?" Tanya Bibi Janet.
" Ia, Bi. Saya akan mengajar kembali, tapi saya janji, saya akan sering melihat keadaan Bibi."
Shane menghentikan makannya dan ia pun pergi meninggalkan meja makan itu.
" Bi, saya akan bicara pada Shane. Bibi lanjutkan makannya ya..!"
Sofie pergi mengejar shane.
" Shane, maaf kalau saya mengatakan ini ketika kita makan. Maaf kan saya ya, saya tidak etis."
" Ga papa, santai aja. Saya mau tidur dulu. " Shane meninggalkan Sofie
" Ya, baiklah. Silahkan...!" xs
Sofie pun meninggalkan kamar Shane dengan perasaan sedih .
****
Pagi - pagi sekali, Agnes datang kerumah Shane. Agnes semakin rajin datang kerumah itu , apakah karena mereka mau nikah ? ntahlah, tapi mereka semakin dekat.
Pagi itu, Agnes langsung masuk kekamar Shane. Tanpa ada basa basi menyapa Sofie pagi itu.
Ia mengikuti langkah Agnes. Diam - diam, Sofie mengintip apa yang mereka lakukan didalam kamar itu.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Sofie melihat mereka berdua. Shane baru saja selesai mandi.
Sofie harus menyaksikan adegan mesra mereka berdua. Shane dan Agnes sedang berciuman didalam kamar itu. Mereka berdua sangat romantis sekali.
Tangan Shane menjulur ke seluruh tubuh Agnes. Begitu juga sebaliknya. Mereka berdua melemparkan senyum dan saling memuji satu sama lain.
Sofie pun semakin di bakar api cemburu melihat aksi mereka berdua. Ingin rasanya ia menghampiri mereka berdua tapi apalah daya, Sofie bukan siapa - siapa di mata Shane.
Kehadiran Sofie diketahui oleh Shane. Shane melihat jika Sofie sedang mengintip mereka berdua. Shane menghentikan aksinya. Dan ia pun menutup pintu kamar itu.
Sofie meninggalkan kamar itu dan ia menangis. Sesak rasanya melihat orang yang ia cintai bermesraan dengan wanita lain.
Bibi Janet melihat Sofie menangis. dan ia pun menghampirinya.
" Kamu kenapa nak?" Tanya Bibi Janet
"Ga papa Bi, saya hanya kelilipan aja kok. Saya baik - baik aja, Bi." Kata Sofie sambil menghapus air matanya.
" Kamu yakin baik baik aja ? kamu ga mau cerita sama Bibi?" Tanya Bibi Janet.
__ADS_1
Sofie semakin menangis. Dan ia menggelengkan kepalanya.
" Ya sudah nak. Kamu istirahat aja dulu, jangan dipaksakan kerja. Kamu tenangkan dulu hati dan pikiran kamu." Titah Bibi Janet.
Sofie menggelengkan kepalanya. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Waktu pun berlalu, akhirnya Agnes pulang juga. Siang itu Sofie sedang menyetrika pakaian.
Shane turun dari kamarnya. Ia mencari - cari Sofie. Bibi Janet memberitahukan bahwa Sofie sedang menyetrika di ruangan belakang.
Shane pun menemui Sofie. Sofie yang sedang asyik menyetrika tiba - tiba saja di kejutkan oleh suara Shane.
" Lain kali jangan suka ngintip orang. Itu ga baik. Katanya kamu seorang guru, tapi kamu ga punya etika yang baik bertamu ke kamar orang. Mau kamu apa sih?" Tanya Shane dengan geramnya.
Sontak saja Sofie kaget.Ia pun menghentikan pekerjaannya.
" Ngintip kamu?" Tanya Sofie
" Ia. Kamu ngintip kita berdua kan? kamu mau bohong ?"
" Ga, saya ga bohong. Emang tadi saya lihat kalian berdua."
" Maksud kamu apa, ngikuti Agnes dan ngintipin kita berdua?" Tanya Shane lagi.
" Saya ga punya maksud apa - apa, saya cuma ga mau aja, kalian belum nikah kan tapi uda sering masuk kamar. Ga etis , ada Bibi Janet. Emang kalian berdua ga tahu malu ya...!"
" Kamu ga usah ceramah didepan saya. Kamu terus terang, mau kamu apa?"
" Ga ada. Uda ya saya mau lanjut lagi kerjanya. Silahkan kamu pergi."
" Kamu ngusir saya? kamu yang seharusnya pergi dari sini. Kamu tahu ga, saya jadi makin benci lihat kamu.
Muak saya lihat sikap kamu. Kamu itu pembantu ga tahu diri. Kamu tahu itu?" Bentak Shane pada Sofie.
Sofie diam seribu bahasa. Ia sudah berusaha menahan tangisnya, akhirnya tangisannya pun pecah.
" Kamu jangan nangis didepan saya, saya ga suka lihat air mata kamu itu. Menjijikkan....!" Ucap Shane
Shane pun pergi meninggalkan Sofie. Sofie sangat terpukul akan perkataan Shane. Ia pun terdiam.
Sudah bulat tekad Sofie, ia akan pergi meninggalkan rumah itu, karena baginya tidak ada lagi kedamaian yang ia rasakan dirumah itu.
Selesai menerima telpon dari Paman Sammy, Shane pergi meninggalkan rumah.
Diperjalanan Shane selalu mengingat Sofie. Ntah kenapa, ia sering sekali memarahi Sofie. Terkadang hanya kesalahan yang tidak begitu fatal, Shane pun marah besar kepadanya.
__ADS_1