
Sudah pukul 23.00, Shane belum juga pulang. Sofie mulai cemas.
" Sofie...?" panggil bibi Janet.
" Bi..? bibi belum tidur ?" tanya Sofie
" Belum, nak. Kamu kepikiran sama Shane ya?" tanya bibi Janet.
" Ehhmmm...ga bi. Saya...?" jawab Sofie malu - malu.
" Sofie, kamu menyukainya?" tanya bibi Janet.
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Bibi tahu, nak. Wajah mu tidak bisa dibohongi. Kalau kamu mencintainya, bibi sangat mendukung sekali." Ucap bibi Janet tersenyum
Sofie menangis.
" Ntahlah, bi. Perasaan saya sepertinya lain. Saya takut bi, kalau saya jadi sayang sama dia. "
" Ga papa, nak. Itu hal yang wajar. Perjuangkan cinta mu. Kalau kamu yakin dengannya, bawa dalam doa mu."
" Bi...? tapi ini hanya kita berdua aja yang tahu ya bi, jangan beritahu Shane."
" Hahahahaha....., ia nak. Oh ya, kalau kamu mau tunggu Shane, tunggulah. Bibi duluan tidur ya..!"
" Ia Bi, makasih ya Bi."
" Sama - sama, nak."
Bibi Janet meninggalkan Sofie diruang tamu itu sendirian.
Tak berapa lama, Shane pun pulang. Sofie segera membukakan pintu untuk Shane.
" Kamu sudah pulang ?" tanya Sofie
" Sofie ? kamu belum tidur?" tanya Shane balik bertanya.
" Belum. Saya nungguin kamu." jawab Sofie.
" Nungguin saya?" tanya Shane sambil menatap Sofie.
Sofie hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu sudah makan?" Tanya Sofie memastikan.
" Sudah." Jawab Shane datar.
" Ohh..." Wajah Sofie berubah menjadi muram.
Shane meninggalkannya. Dan berlalu pergi ke kamarnya.
" Shane....!" panggil Sofie.
Shane pun menoleh..
" Ya ?" jawab Shane.
" Saya uda masak buat kamu. Saya masak makanan kesukaan kamu." ucap Sofie.
" Truss ?" tanya Shane
" Kamu ga mau mencicipinya ?"
Shane mengangkat bahunya dan terus melangkah ke kamarnya.
Sofie berdiri mematung. Ia tampak sedih. Shane tak mau mencicipi masakannya.
Sofie pun masuk ke kamarnya. Shane tahu kalau Sofie sedih karena ia tak mau makan masakan Sofie. Shane kembali turun dan pergi menuju dapur.
Shane melihat makanan yang dimasak oleh Sofie. Rasa lapar pun menghampiri perutnya. Aroma makanan itu menggugah selera Shane.
Shane mencoba pergi ke kamar Sofie. Ia mau Sofie menemaninya makan. Pintu kamar itu tidak dikunci. Ia melihat Sofie sudah tidur.
Shane kembali menutup pintu kamar Sofie. Shane pun menuju ke dapur. Ia pun mencoba makan masakan yang di masak oleh Sofie.
..." Ehhmmm...ternyata enak juga masakannya.." Ucap Shane sambil mengambil piring....
Shane terus melanjutkan makannya. Sofie tiba - tiba terbangun. Ia ingat jika makanan yang didapur lupa ia masukan ke kulkas. Sofie buru - buru ke dapur. Ketika sudah didepan pintu dapur, ia sangat terkejut ketika melihat Shane sedang makan dengan lahapnya.
" Hahhhh....??"
__ADS_1
Sofie pun menghampiri Shane.
" Gimana makanannya? enak ga?" tanya Sofie.
Sontak saja Shane kaget dan menghentikan makannya.
" Kamu? kamu mau apa? kamu lapar juga?"
Sofie tersenyum.
" Ga. Tadi saya lupa masukin makanannya ke kulkas, makanya saya bangun. Ga tahunya? ehh...kamu lagi makan. Kamu laparkan?"
" Ga. Saya tadi uda makan kok. Hanya saja , sayangkan kalau makanan ini ga dimakan. "
" Ia sih. Itu saya masakin buat kamu. "
" Ga perlu repot - repot. Lagian tugas kamu itu bersih - bersih rumah, bukan masak. Masak itu tugas bibi Janet. Masakan bibi Janet itu begitu sempurna, enak pake banget."
" Ia, saya tahu masakan bibi Janet itu enak. Tapi bibi Janet sudah tua, biarlah saya aja yang kerjai semua. Saya ikhlas kok."
" Baguslah. Kamu mau makan lagi ga?"
" Ga. Nanti saya gendut."
" Dasar wanita, mikiri fisik."
" Kamu mau tambah lagi? biar saya ambilin...!"
" Ga..''
Sofie melihat jam dinding, sudah pukul 01.00 dini hari. Itu artinya telah berganti tanggal. Shane hari itu juga ulang tahun.
" Saya punya sesuatu buat kamu."
" Apa?"
" Tunggu ya."
Sofie mengambil cake ulang tahun yang ia buat untuk Shane.
" Ini untuk mu, selamat ulang tahun ya...!"
Shane menatap tajam mata Sofie. Mata Shane berkaca - kaca.
Shane menggelengkan kepalanya.
" Makasih banyak Sofie. Kamu kok tahu tanggal lahir saya? bibi Janet memberitahu mu?"
" Ga. Waktu saya lagi bersihkan kamar kamu, saya lihat kartu identitas kamu. Makanya saya tahu."
" Oh begitu."
" Ayo tiup lilinnya."
Shane meniup lilin di cake ulang tahun itu. Sofie tak henti - hentinya memberikan senyum manisnya buat Shane. Kini Sofie semakin sayang pada Shane, pria sombong, angkuh dan seorang mafia kejam itu.
Ntahlah, ntah apa yang membuat Sofie bisa menjadi suka pada pria aneh itu.
****
Pagi hari Bibi Janet telah sibuk di dapur. Sedangkan Sofie pagi ini membersihkan rumah. Tiba - tiba saja, ada dua orang pria datang kerumah Shane. Tak lain mereka adalah bawahan Shane.
" Maaf, Shane nya masih tidur."
" Sofie, tolong bangunkan Tuan Shane, ada yang perlu kami katakan. "
" Baiklah, saya akan mencoba membangunkannya. Silahkan duduk."
Sofie naik keatas membangunkan Shane.
" Shane, bangun ada tamu."
" Uhhh..kamu menganggu tidur saya aja sih?"
" Dibawah ada tamu. Mereka bawahan kamu. Katanya ada hal yang penting."
" Bilang ke mereka, saya siap - siap dulu."
" Ia."
Ketika Sofie hendak keluar, Shane menarik tangan Sofie dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Shane.
__ADS_1
" Shane...?"
Shane tersenyum.
" Kamu masih ingat ga?"
" Ingat apa?"
" Ketika saya....? Sambil merapikan rambut Sofie.
" Jangan lakukan itu. Saya mau kerja. Pekerjaan saya banyak sekali." Sahut Sofie.
" Ia saya tahu."
" Lepaskan saya. Bersiap - siaplah mereka sudah menunggu mu."
Shane melepaskan dekapannya. Dan Sofie pun pergi meninggalkan kamar Shane.
" Shane akan segera turun, kalian tunggulah." Kata Sofie pada kedua orang itu.
" Baiklah." Jawab salah satu bawahan Shane.
Tak berapa lama, Shane pun turun. Ia segera menghampiri para bawahannya itu.
" Ada berita apa?" Tanya Shane
" Bos, sekarang ada misi yang akan segera kita selesaikan."
" Apakah Sammy ikut dalam hal ini?" Tanya Shane lagi.
" Awalnya ia, tapi ia segera mengundurkan diri."
" Kenapa?"
" Dia tidak mau ikut dalam komplotan kita lagi."
" Apa?"
" Dengar - dengarnya dia sudah mempunyai komplotan lain, Bos. Dan Sammy lah ketua dari komplotan itu."
" Ohh, jadi semenjak dia kaya raya, dia keluar dari komplotan kita? dan dia mau menyaingi saya?"
Pembicaraan mereka amatlah serius, Sofie mendengar semua apa yang mereka bicarakan.
..." Paman Sammy belum berubah juga. Ternyata masih sama aja."...
...Gumam Sofie...
Shane dan bawahannya pun mengakhiri pembicaraannya. Dan mereka pun pergi.
" Mau sarapan sekarang ? " tanya Sofie pada Shane
" Antar kekamar saya."
Wajah Shane pun mulai lain. Raut wajahnya mulai tampak emosi.
Shane naik keatas. Dan Sofie membawakan sarapan untuknya.
" Ini sarapannya. Silahkan dimakan. "
" Sofie....!"
" Ya...?"
" Jangan pergi. Temani saya sarapan."
" Tapi ? tapi saya banyak kerjaan dibelakang."
" Kamu tahukan kalau sama saya jangan pernah membantah atau menolaknya."
" Ia, maaf. "
" Kamu uda sarapan belum?" Tanya Shane.
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Kita bareng sarapannya." Tawar Shane
" Ga, terimakasih. Nanti aja saya sarapannya. Kamu sarapan aja dulu." Sahut Sofie
Sofie melihat tempat tidur Shane berantakan, Sofie pun mulai merapikannya. Sofie juga melihat lemari pakaian Shane juga berantakan.
__ADS_1
Ketika Sofie sedang merapikan lemari pakaian Shane, Bibi Janet memanggil - manggil Sofie.