" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 82 " Meninggalnya Bibi Janet"


__ADS_3

Perawat itu pun menepati janjinya, ia langsung menghubungi suami ibu Sofia Agatha, Shane Denaro. Ia memberitahukan kalau istrinya sudah melewati masa kritisnya.


Mendengar kabar baik itu, Shane pun sangat bahagia, akhirnya Sofie telah sadar. Shane pun langsung pergi ke rumah sakit.


Shane memberitahukan pada Bibi Janet. Bibi Janet pun sangat senang mendengar kabar baik ini.


Tiba dirumah sakit, membuat Shane menjadi gugup, ia takut kalau Sofie masih marah padanya.


Cklekkk...


Pintu ruangan itu pun terbuka. Shane melihat jika istrinya itu tertidur sangat lelap sekali.


Shane duduk di sebelahnya. Ia mengecup kening istrinya itu, lalu ia duduk dan ia memegang jari - jemari istri nya itu. Perlahan Sofie pun terbangun. Ia melihat jika Shane sudah berada di sampingnya.


" Hai...!" sapa Shane.


" Kamu?"


" Ya, tadi perawat menghubungi saya, katanya kamu uda siuman, makanya saya langsung kesini. Gimana, apa lukanya masih sakit?"


" Ga usah sok perhatian kamu, sekarang keluar, saya ga sudi melihat mu, keluarrrrr....!" bentak Sofie.


" Sofie, kamu tenang dulu !"


" Saya ga bisa tenang kalau kamu disini, kamu pembohong !"


" Saya bisa jelasin semuanya, ini ga seperti yang kamu kira. "


Sofie menangis, ia kembali mengingat kejadian itu.


" Sofie, maafkan saya ya!"


Sofie hanya diam. Ia menatap wajah suaminya itu.


" Saya janji, saya akan membalaskan dendam mu pada Paman Sammy. Saya akan mencari mereka."


" Ga usah. Ga usah sok jadi pahlawan buat saya, sekarang kamu keluar, keluarrrrrr....!"


" Saya minta maaf Sofie, saya akan jelasin semuanya. Saya hanya ikut membantu Paman Sammy."


" Saya ga perduli, mau kamu ikut membantu dia, atau apa pun itu, saya ga perduli. Jelas - jelas kamu itu pembohong, saya ga sudi lihat orang pembohong."


" Jadi, mau kamu apa?"


" Kita akan ambil jalan kita masing - masing. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita. Saya yakin, kamu pasti bisa berubah kalau kita pisah" ucap Sofie .


" Pisah?"


Sofie menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ya, ini yang terbaik untuk kita. Saya ga bisa hidup kalau terus - terusan seperti ini, saya ga kuat. Saya kecewa sama kamu !" Sofie menangis.


" Jadi gimana dengan Paman mu?"


" Saya akan mengikhlaskannya, biarlah Tuhan yang akan membalaskan perbuatannya. Shane, cobalah untuk berbuat baik, tinggalkan yang perlu ditinggalkan. Selama ini saya uda mencoba sabar menghadapi mu, tapi apa? saya gagal. Kamu uda membuat saya kecewa, diam - diam kamu menghianati saya."


" Maafkan saya Sofie, saya khilaf."


" Khilaf aja terus . Mulai sekarang, jangan pernah lagi menemui saya, jangan pernah lagi menghubungi saya, sampai disini aja hubungan kita."


" Kamu beneran akan meninggalkan saya?" tanya Shane dengan sangat hati - hatinya.


" Ya, saya lelah dengan semua ini. "


" Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Permisi !"


Shane keluar dari kamar itu. Ia membanting pintu ruangan dengan sangat kuat.


Sofie hanya diam ketika Shane keluar dari kamar itu. Sofie tidak mau kalau terus - terusan harus menghadapi sikap Shane yang tidak pernah bisa berubah.


Shane begitu marah, ia tidak terima kalau Sofie meninggalkannya. Tiba - tiba saja ponselnya berdering, Shane mengabaikanya. Ia tak mau berbicara pada siapa pun. Ponsel itu pun kembali berdering. Shane melihatnya, ternyata dari Agnes.


Sudah lama juga ia tidak mengetahui kabar wanita itu. Disaat ada masalah, wanita itu selalu ada.


" Hallo...." ucap Shane


" Shane, apa kabarnya?"


" Jawaban kamu singkat sekali !"


" Kamu mau apa?"


" Ga, saya hanya kangen aja sama kamu. Sekarang saya uda di Indonesia, ketemuan yuk !"


" Maaf, tapi saya ?"


" Kamu takut dengan Sofie? tenang aja, ga bakalan tahu kok istri culun kamu itu. Ntar kita ketemuan di tempat favorite kita ya !"


" Ya."


" Shane, kamu baik - baik aja kan? ga ada masalahkan?"


" Saya baik - baik aja, ga ada masalah."


" Syukurlah. ya uda nanti malam kita ngobrol lebih banyak lagi, saya punya banyak cerita yang mau saya sampein ke kamu."


" Ya, terimakasih."


Shane menutup telponnya.

__ADS_1


" Agnes, disaat ada msalah gini dia selalu ada. Sedangkan Sofie ?Ahh..ntahlah, Sofie kalau itu yang kamu mau, it's okey buat saya !"


Shane kembali ke ruangan dimana Sofie terbaring. Pintu kamar itu kembali dibuka.


cklekk..


" Sofie, saya akan bayar semua biaya pengobatan kamu. Jaga diri kamu baik - baik, semoga kamu cepat sembuh." ucap Shane


Sofie masih marah padanya, ia tidak mau mendengarkan ucapan suaminya itu, melihat wajahnya saja ia tidak mau.


" Sofie, mungkin kamu benar juga, saya ga boleh lagi melihat kamu. Oh ya, saya akan secepatnya pergi dari kota ini, saya akan membawa Bibi Janet. Terimakasih banyak untuk semua kebaikan mu, mudah - mudahan saja, saya bisa berubah seperti yang kamu harapkan. Saya minta maaf ya, saya permisi."


Shane melangkah perlahan, ia berharap Sofie melarangnya untuk pergi dan mengajaknya kembali padanya. Tapi sangat disayangkan, rencananya meleset dari perkiraan, Sofie tidak mau mendengarkan ucapan suaminya itu sama sekali.


Shane hanya bisa pasrah, ternyata Sofie benar - benar tidak mencintainya lagi.


Shane menutup pintu ruangan itu, lalu ia pergi. Dan Sofie pun langsung menangis ketika ia melihat bahwa Shane, suaminya itu tidak berada di ruangan itu lagi.


Ingin rasanya ia mengejarnya namun karena kondisi Sofie yang kurang baik, ia pun tidak bisa berbuat apa - apa.


Keputusan Sofie sudah bulat, ia akan mengakhiri semua ini dengan Shane. Walaupun sebenarnya, ia masih sayang pada pria singing itu. Ya, inilah jalan tebaik untuk mereka berdua.


****


Dikediaman Tuan Shane.


Bibi Janet mendadak sesak nafas ketika ia sedang memasak. Kepalanya pusing, matanya mulai berkunang - kunang, ia semakin lemas dan tak berdaya.


Ia mencoba menghubungi Shane, tapi ponsel majikannya itu tidak bisa dihubungi. Ia juga menghubungi Sofie, tapi ponsel milik Sofie pun tidak bisa juga dihubungi.


Tubuh wanita paruh Bayah itu pun terjatuh ke lantai, masakan yang dimasaknya pun semua tumpah tak bersisa.


Bibi Janet mencoba untuk bertahan, tapi sayangnya nafasnya sudah mulai naik turun.


Dan akhirnya wanita paru baya itu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Bibi Janet pergi tanpa sepengetahuan Shane dan Sofie.


Shane kembali pulang. Ia mencoba menekan bell rumah itu, tapi Bibi Janet tidak kunjung datang untuk membukanya. Shane mencoba mengetuk pintu itu dengan kuat tapi tetap saja Bibi Janet tidak membukakan pintu rumah itu.


Shane mencoba membuka pintu itu sendiri, ternyata pintu rumah itu tidak terkunci.


" Bi, kenapa pintu rumahnya ga dikunci? Bibi Janet...Bibi...!'' panggil Shane


Tidak ada jawaban sama sekali. Shane pergi menuju dapur, ia pun sangat terkejut ketika melihat Bibi Janet terkapar di lantai.


" Bi, Bibi..bangun Bi...Bi..bangun Bi..!"


Shane menggoyangkan tubuh Bibi Janet, tapi tidak bergerak sama sekali. Shane memeriksa denyut nadinya.


" Bi, Bibiiiiiiii.....!" Shane memeluk tubuh wanita yang sudah dianggap seperti ibunya itu.

__ADS_1


" Jangan tinggalkan saya Bi, bangun Bi...Bibiiiiii...!"


Shane terus menangis, ia terus menggoyangkan tubuh Bibi Janet yang mulai tampak kaku itu.


__ADS_2