" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 114 " Cemburu "


__ADS_3

Hari mulai sore, Sofie belum juga pulang . Shane sudah terlebih dulu tiba di mansion.


Shane mencoba menghubungi istrinya itu. Tapi sayangnya ponselnya tidak aktif. Shane mulai khawatir. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada Sofie.


Shane pun pergi mencarinya. Dan tiba - tiba saja, ponselnya berdering.


" Dion...? ada apa dia menghubungi saya?" gumam Shane.


Shane menerima telpon dari Dion.


" Kamu pasti lagi mencari Sofie, kan?" tanya Dion.


" Kok kamu tahu?" Shane balik bertanya.


" Tadi dia datang ke dokter kandungan, "


" Ke dokter kandungan?"


" Ia, masa sih kamu suaminya ga tahu ?"


" Ia, saya emang ga tahu. Akhir - akhir ini saya sibuk sekali."


" Sangking sibuknya ga ada waktu buat istri, ya kan? istri datang ke dokter kandungan aja, kamu sendiri ga tahu. Suami macam apa kamu ?"


" Saya ga mau ribut dengan mu, tolong kamu ga usah ikut campur urusan rumah tangga saya !"


" Shane, gimana saya ga ikut campur, saya itu kasihan sama Sofie. Semenjak kamu jadi pimpinan perusahaan mu, sekarang lupa sama istri, lupa apa kemauan istri kamu."


" Cukup Dion, kamu ga usah ceramah sama saya ! sekarang uruslah rumah tangga mu !"


" Shane, kalau kamu ga bisa buat bahagia Sofie, sebaiknya lepaskan dia !"


" Oh..kamu ga ingat , kalau dulu kamu itu pahlawan hubungan kami, kamu kan yang dulu ngedukung hubungan kami, dan sekarang kamu seenaknya aja menyuruh saya untuk melepaskan Sofie? kamu pikir saya ga bisa membuat dia bahagia ?"


" Kalau kamu bisa, seharusnya Sofie itu hamil. Nyatanya apa? kamu tahu, dia itu sangat merindukan anak. Peka dong jadi suami !"


" Kamu ga usah ngajari saya, saya tahu mana yang terbaik untuk istri saya , paham ?"


" Baiklah, sekarang carilah Sofie, mungkin dia lagi bersedih atau menangis."


" Dia istri saya, saya berhak atas dia. Dan kamu, uruslah istri mu itu, mungkin dia juga butuh kasih sayang mu. Kamu ga usah sok perduli sama istri orang."


" Shane , sampai kapan pun Sofie itu tetap di hati saya, ingat itu !"


" Jangan cari masalah sama saya, kalau mau hidup mu tenang dengan Agnes , jangan ganggu keluarga saya,"


" Saya ga perduli apapun latar belakang mu dulu, karena buat saya Sofie segalanya !"


" Bajingan kamu, Dion !"


Shane langsung mematikan ponselnya. Shane sangat geram akan ucapan Dion. Dion menghinanya. Shane kembali mencari Sofie. Hari mulai gelap. Shane kembali mencoba menghubunginya. Lagi - lagi ponselnya tidak aktif.


" Sofie, kemana kamu pergi ?" gumam Shane .


Shane selalu saja mencarinya, disemua tempat di telusurinya.


****


Sofie terus saja menangis. Semenjak Shane sudah bekerja di kantornya, Shane tidak punya waktu lagi untuknya.

__ADS_1


Malam itu Sofie berada ditaman seorang diri. Ia menangis dan terus saja menangis. Shane melewati taman itu, dan ia melihat ternyata Sofie ada disana.


Buru - buru Shane menepikan mobilnya dan ia langsung berlari menemui Sofie.


Shane perlahan berjalan mendekati istrinya itu. Ia mendengarkan tangisan Sofie yang begitu teramat sedih.


" Apa ada masalah?" tanya Shane.


Mendengar ada suara suaminya, Sofie langsung menghentikan tangisannya. Ia pun menoleh kebelakang. Sofie menghapus air matanya.


" Kalau ada masalah kenapa ga di bicarakan sama saya?" tanya Shane lagi.


Sofie masih saja diam. Ia mencoba tidak menangis lagi, tapi air matanya terus saja mengalir.


" Mau sampai kapan kamu nangis terus? Sofie, kamu kenapa?"


" Ga papa, saya baik - baik aja kok !"


" Kalau kamu baik - baik aja, kamu ga akan menangis,"


" Kangen aja sama orang tua,"


" Beneran kangen ?"


Sofie menganggukan kepalanya.


" Bukannya kamu nangis, karena Agnes uda hamil?"


Sontak saja Sofie terkejut mendengar kan ucapan suaminya itu. Kenapa juga Shane tahu kalau Agnes sudah hamil ?


" Kamu tahu dari mana kalau Agnes uda hamil?" tanya Sofie.


" Kamu ga perlu tahu , saya itu tahu dari mana. Yang jelas kamu pasti sedih karena itu kan?"


" Jangan bohong, mata mu memberitahukannya, kalau kamu itu sedih. Sofie, mungkin Tuhan belum kasih ijin untuk kita punya anak, kamu ga usah sedih gitu !"


Sofie mencoba tidak menangis lagi.


" Kamu tahu kan, kalau saya itu melarang kamu untuk bekerja, ya itu alasannya, kamu itu biar ga capek. Jadi ga ada alasannya untuk cemburu pada orang lain, sekarang itu rejeki mereka. Dan kamu , kamu harus sabar !"


" Tapi saya bosan !"


" Bosan kenapa?"


" Saya ga mau berdiam diri terus, saya mau kerja."


" Kamu itu bisa ga sih dikasih tahu?"


" Percuma aja saya dirumah, kalau kamu juga lama - lama pulang dari kantor. "


" Saya kerja , kerjaan dikantor itu banyak !"


" Kalau begitu ga usah larang saya kerja. Kamu pernah ga sih mikir, kalau orang jenuh itu gimana?"


Shane diam. Sofie kembali menangis.


" Mau kamu apa sekarang ?" tanya Shane.


" Kita pulang !" Sofie beranjak dari tempat duduknya, ia terus berjalan.

__ADS_1


" Sofie, kalau saya lagi ngomong di dengar !"


Sofie terus berjalan.


" Sofieeeee......!" teriak Shane


Sofie tidak perduli dengan teriakan suaminya itu. Ia terus berjalan. Shane mengejarnya dan menarik tangannya.


" Jangan gitu dong ! kamu ga boleh sedih terus !" ucap Shane.


" Tau, ahh...!"


" Sofieeee...hei.. jangan ngambek dong. Oke..oke..kita akan liburan, saya akan ambil cuti !"


Mendengar ucapan Shane, Sofie langsung tersenyum.


" Benar kah?"


" Ia, bener. Uda jangan ngambek lagi !"


" Awas kalau bohong !"


" Emang saya pernah bohong ya? uda jangan ngambek lagi, sekarang senyum !"


" Ga ah...kayaknya kamu ga ikhlas !"


" Ikhlas Sofieee...!"


" Janji ya !"


" Ia, saya janji. Kita akan liburan !"


Shane langsung memeluk Sofie dan mencium keningnya.


" Sekarang kita pulang ya !" ajak Shane.


****


Pak Bryan masih tidak habis pikir. Ia masih tidak percaya kalau Sofie ternyata adalah istri Shane Denaro, teman bisnisnya itu.


Padahal Pak Bryan, telah menaruh hati padanya. Pak Bryan selalu saja galau, ia selalu melamun. Istrinya pun selalu bertanya ada apa dengan suaminya itu.


" Akhir - akhir ini, kamu sering termenung. Apa ada masalah ?" tanya Istri Pak Bryan.


" Ga..!"


" Kamu selalu menyembunyikan sesuatu dari saya, kenapa? kenapa kamu ga pernah jujur?"


" Saya mau jujur apa?"


" Kamu ga ingat perjanjian kita dulu, kalau punya masalah, sebaiknya kita saling terbuka."


" Maaf sayang, tapi saya benar ga menyimpan sesuatu dari kamu, "


" Baiklah kalau kamu ga mau cerita. Tapi sepandai - pandainya tupai melompat akan jatuh juga, sepandai - pandainya kamu menyembunyikan masalah, suatu hari juga akan ketahuan, apalagi kalau saya tahu kamu menyembunyikan masalah wanita, saya ga akan pernah memaafkannya !"


" Kamu apa - apa’an sih selalu curiga sama saya ?"


" Ia, saya selalu curiga sama kamu, karena kamu itu pernah bermain api."

__ADS_1


" Tutup mulut mu, kamu ga usah bahas masalah itu ."


Mama James pun menangis.


__ADS_2