" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 109 " Malam Yang Indah "


__ADS_3

Malam itu, Dion diam - diam mengirim pesan pada Sofie. Ia menanyakan kabarnya.


Ting...


Pesan masuk.


Tapi sayangnya, pesan tersebut dibaca oleh Shane. Sedangkan Sofie sibuk membuatkan kopi untuk suaminya.


Shane membaca pesan demi pesan. Shane hanya tertawa, tapi dalam hatinya, ia merasa geram. Ia mencoba membalas pesan tersebut. Ia ingin melihat gimana reaksi Dion setelah menerima pesan dari Sofie.


Karena Sofie masih sibuk di dapur, akhirnya Shane lah yang membalasnya.


Dion : Hai Sofie, apa kabarnya?"


Sofie : Hai juga, saya baik - baik aja !"


Dion : Syukurlah, saya senang mendengarnya ,"


Sofie : Ya,"


Dion : Sofie, maaf kalau saya uda mengganggu waktu mu. Ntah kenapa saya selalu memikirkan mu. Oh ya, Shane lagi apa?"


Sofie : Shane ada disamping saya. Kenapa juga kamu masih mikirin saya? bukannya kamu uda punya Agnes ?"


Dion : Ya, tapi saya bener - bener ga bisa lupa sama kamu. Kamu ga bisa marah dong, karena perasaan ini ga bisa bohong."


Sofie : Oh begitu "


Dion : Besok ada waktu ga? kita ketemuan ya, di cafe Grumpy !"


Sofie : Oke !"


Shane langsung menghapus semua chat dari Dion. Ia tak mau Sofie mengetahuinya.


Karena Sofie datang dengan membawakan secangkir kopi, Shane pun menghentikan membalas chat dari Dion.


" Kenapa? kok murung gitu ?" tanya Sofie


" Ga papa, mungkin karena kelamaan nungguin kamu,"


" Oh. Ini kopinya, silahkan diminum !"


Shane menatap istrinya itu. Ternyata Dion masih menyimpan rasa padanya. Shane tidak menyangka, kalau Dion masih memikirkan Sofie. Rasanya ingin sekali menimpuk Dion, tapi itu tidak lah mungkin. Itu masalah perasaannya. Itu adalah hak dia.


Shane hanya percaya pada Sofie, Sofie tidak akan melakukan hal yang bodoh. Shane pun menyeruput kopi hitamnya. Ia kembali diam.


" Kenapa jadi melamun ?" tanya Sofie

__ADS_1


" Sofie, saya mau nanya sama kamu. Boleh ?"


" Boleh, apa itu?"


" Kalau ada seseorang yang masih memikirkan mu, masih berharap sama kamu, apa reaksi mu ?"


Sofie terdiam.


" Kenapa seperti itu pertanyaannya ?"


" Kamu jawab aja !"


" Tergantung orang itu seperti apa. Apakah ia sudah menikah atau belum. Dan itu adalah hak nya, itu masalah perasaannya, saya ga bisa melarangnya. Sekarang intinya ada sama kita, kalau kita merespon perasaannya, itu artinya kita sama aja seperti dia, mempunyai perasaan sama orang lain yang sudah memiliki pasangannya sendiri, itu bisa dikatakan perlakuan bodoh. Tapi jika seseorang itu masih sendiri belum ada ikatan apa pun, ya ga masalah kita merespon balik perasaannya, dan itu jika ada dijalan yang benar."


" Oh gitu !"


" Siapa yang masih memikirkan mu? apakah ada wanita lain ?"


" Kalau ia, kenapa? "


" Itu terserah pada mu, itu hak mu. Saya ga bisa melarang mu. Kalau itu baik sama mu, silahkan. Kalau tidak baik menurut mu, abaikan. Simpel kan ?"


" Mungkin menurut mu simpel, tapi tidak dengan kenyataannya,"


" Kalau kamu tahu, kenapa harus bertanya sama saya? kamu tahu, saya itu ga bisa sepenuhnya percaya sama kamu, karena saya ga bisa 24 jam menjaga mu, menjaga perasaan mu, menjaga cinta mu. Jadi kalau ada di luar sana yang suka sama kamu, itu hak orang tersebut. Dan kamu, kamu hanya bisa mengatakan ia atau tidak untuk orang tersebut. Kita uda sama - sama dewasa, bukan anak ABG lagi, jadi kita harus saling memahami."


" Kan uda saya bilang, itu hak dia dan sekarang tergantung saya, saya mau menanggapi perasaannya atau tidak. Kalau ia, itu sama aja saya itu wanita murahan. Kenapa? karena kita uda punya pasangan masing - masing. Kamu tahu, saya itu istri kamu, saya itu jantung rumah tangga mu. Kalau saya hancur, hancurlah rumah tangga mu. Kalau uda hancur apakah masih bisa di satukan? bisa, tapi uda ga seperti dulu lagi."


"Kamu yakin tidak akan pernah ingat dia lagi ?"


" Dibilang ga ingat lagi, itu mustahil. Namanya memori otak, semua terekam. Dan kita ga tahu waktu. Bisa aja saya bilang saya ga akan ingat dia lagi, eh..tiba - tiba aja, saya ketemu sama dia. Saya ga mau jadi orang munafik. Saya tahu mana yang seharusnya saya lakukan atau tidak. Mungkin belajar dari pengalaman, dan saya ga mau saling menyakiti di antara pasangan masing - masing. "


Shane terdiam.


" Justru saya bertanya ini sama kamu. Sekarang kamu uda banyak berubah. Kamu uda sering bertemu dengan banyak orang, banyak wanita cantik, godaan di luar sana banyak. Shane, kalau masalah Dion, saya ga ambil pusing. Sekarang kamu lakukan aja yang terbaik buat kamu, kalau kamu baik, yakinlah balasan dari kebaikan mu itu ada hasilnya. "


Sofie pun menangis.


" Saya tahu diri Shane, banyak masalah yang uda saya jalani. Kalau boleh meminta, saya ga mau kembali ke masalah itu. Berat, sakit itu lah terjadi. Jadi kamu ga usah takut, saya itu macem - macem ,"


Shane tersenyum.


" Makasih Sofie, semoga kamu tetap menjadi istri idaman buat saya !"


" Saya bisa jadi istri idaman kamu, kalau kamu bisa memperlakukan saya dengan baik, kamu tulus memberikan cinta dan kasih sayang mu untuk saya."


Shane pun langsung memeluk Sofie dan mencium keningnya. Shane malihat jam di dinding diruang tamu itu.

__ADS_1


" Kita ke kamar yuk !" ajak Shane


Sofie langsung tersenyum.


" Masih ada beberapa piring kotor, saya cuci dulu ya !" ucap Sofie tersenyum .


" Besok kan masih ada waktu ,"


" Kata mendiang Bibi Janet, jangan pernah biarkan ada piring kotor di dapur, pantang !"


" Tega banget sih, ayo dong !"


" Kamu duluan aja, nanti saya nyusul. "


" Ya uda saya bantu kamu bersihin piringnya !"


" Serius ?"


" Ia, dua rius ,"


Shane dan Sofie pun beranjak pergi ke dapur. Sofie pun mulai membersihkan piring - piring kotor itu. Shane hanya duduk melihatnya dan sesekali memainkan ponsel miliknya.


Karena merasa lama menunggu, diam - diam Shane memeluknya dari belakang. Sofie sangat terkejut sekali.


" Cepatan dong !" titah Shane


" Ia, bentar dikit lagi !"


" Dari tadi dikit lagi..dikit lagi !"


" Hahaha, ia sabar ya !"


" Gimana mau sabar, katanya kamu pengen punya anak !"


Sofie pun membalikkan tubuhnya.


" Ia, Shane bawel !"


" Keknya kamu yang bawel. "


Karena semakin tidak sabar, Shane langsung menyambar bibir istrinya itu. Shane terus saja melakukannya, Sofie pun jadi kalang kabut. Sofie mencoba menghentikannya, tapi Shane terus saja melakukan aksinya.


Shane melucuti baju Sofie, dan kancing depan pun terlepas. Lagi - lagi Sofie mencoba menghentikannya, ia tak mau bercinta di dapur.


Shane pun tahu ke inginan istrinya itu. Shane langsung menggendong Sofie naik ke atas.


Perasaan Sofie semakin takut. Ia tahu kalau mereka sudah bercinta, Shane tidak hanya memintanya sekali saja. Pria dingin itu menyimpan hasrat yang sangat tinggi dalam bercinta.

__ADS_1


Walaupun sudah lama hidup bersama, untuk hal ini Sofie masih malu - malu. Terkadang Shane tahu apa yang harus ia lakukan untuk tidak membuat Sofie menjadi malu. Malam itu adalah malam yang sangat indah buat mereka berdua. Di mansion yang sangat luas, hanya mereka berdua saja yang tinggal, itu membuat Shane semakin candu untuk bercinta pada Sofie.


__ADS_2