" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 110 " Hampir Saja Terjadi Pelecehan "


__ADS_3

Ntah sudah berapa kali Shane memintanya, membuat Sofie merasa kelelahan. Tapi Shane tidak perduli, ia tetap ingin bercinta pada Sofie.


Mau tak mau, Sofie pun tetap melayaninya. Hingga larut malam, perut Sofie pun keroncongan. Shane mendengarnya. Dan itu membuat Sofie sangat malu.


" Kamu lapar ya?" tanya Shane


Sofie hanya menganggukan kepalanya sambil menutup kedua matanya.


" Ya uda, nanti kita lanjutkan lagi,"


" Apa? lanjutkan lagi ?"


" Ia, kamu ga tahu, dia masih memintanya !"


Shane menunjukkan senjatanya yang masih saja berdiri tegap itu. Sofie pun menutup wajahnya dengan selimut.


" Hey, kenapa?" tanya Shane.


" Kenapa juga dia terus berdiri tegap? tega banget sih?" ucap Sofie dari dalam selimut.


" Ya mana saya tahu, itu kan haknya. " ucap Shane tersenyum.


" Tapi inikan sudah larut malam, saya capek !"


" Sayang, kamu bisa berdosa lho kalau kamu menolaknya !"


" Menolak apanya ? bukannya uda berulang kali?"


" Jadi gimana, dia ga mau tidur, lihat nihh...!" Shane kembali memperlihatkannya pada Sofie.


Sofie menutup kedua matanya


" Kamu ga kasihan sama dia?" tanya Shane sambil tersenyum.


" Kamu minum apa sih kenapa bisa selama ini ?" tanya Sofie


" Ga ada, mungkin juga karena uda kelamaan, jadi dia mau balas dendam. Ayok dong !" rengek Shane dengan manjanya.


Akhirnya Sofie pun melayaninya kembali. Shane tahu cara membuat Sofie agar ia merasa bergairah lagi. Tak ada henti - hentinya, dan benar saja Sofie pun kembali bergairah lagi. Cairan putih bening itu pun akhirnya mendarat, Sofie pun merasa senang. Sofie juga melihat kalau Shane sudah merasa kelelahan.


" Makasih ya !" ucap Shane sambil mengecup bibir Sofie.


Sofie hanya tersenyum. Dan Shane pun langsung tertidur pulas. Sofie lah yang membersihkan bekas - bekas peperangan mereka berdua , lalu ia pergi mandi di tengah malam.


****

__ADS_1


Pagi hari pun tiba, Sofie sudah bangun dari tidurnya. Masih ada rasa kantuk. Tapi ia ingat kalau hari ini suaminya masuk kantor.


Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, ia pun membangunkan Shane dari tidurnya.


Mungkin karena kelelahan, Shane pun malas untuk bangun. Sofie pun memarahinya.


Karena mendengar repetan Sofie akhirnya Shane pun bangun juga. Sofie sudah menyiapkan pakaian kantornya.


Setelah selesai sarapan, Shane pun pergi ke kantor. Sesuai jadwalnya, Sofie pun pergi mengajar privat. Sofie memesan taxi online. Dalam perjalanan, Sofie terus berdoa agar suaminya tidak melihat nya.


Dan tibalah ia dirumah anak didiknya. Seperti biasa, Pak Bryan tahu jadwal les anaknya, dan ia pun sengaja berlama - lama dirumah.


Sofie melihat kalau kedua orang tua James, ada disana. Ia pun merasa risih dengan tatapan Pak Bryan. Ia selalu menebarkan senyum untuk Sofie. Sofie pun mulai tidak nyaman.


" Sofie, James uda nungguin kamu dari tadi !" ucap Pak Bryan.


" Ia Pak, maaf Pak kalau saya terlambat."


Sofie pun langsung masuk ke kamar James. Perasaan Sofie mulai tidak tenang. Tatapan Pak Bryan sepertinya lain.


Benar saja, Pak Bryan menyuruh istrinya pergi ke kantor untuk mengkontrol situasi kantor mereka.


Istri Pak Bryan mau saja disuruh tanpa ada rasa curiga. Pak Bryan pun masuk ke kamar James, ia pura - pura melihat perkembangan anaknya itu.


" Pa, Papa ga ke kantor?" tanya James.


" Oh begitu."


Sofie pun terdiam. Dirumah itu tidak ada seorang asisten rumah tangga. Dengan perginya Mama James ke kantor, itu artinya tinggal mereka bertiga dirumah itu. Perasaan Sofie pun mulai tidak enak. Pak Bryan selalu saja melihat Sofie mengajari anaknya itu. Pak Bryan semakin mendekatkan tubuhnya ke Sofie. Ia mencoba meraba rambutnya.


Karena merasa tidak nyaman, Sofie pun harus berbohong. Ia meminta ijin pada James dan Pak Bryan untuk pergi ke toilet yang ada di belakang. Awalnya Pak Bryan menyuruh Sofie ke toilet yang ada dikamar James. Tapi Sofie menolaknya.


Akhirnya Pak Bryan pun memberikan ijin. Ia pikir dengan perginya Sofie ke toilet belakang, memberi respon padanya.


Sofie pun keluar dari kamar James. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung melarikan diri, ia pun tak sempat lagi memakai sepatunya.


Akhirnya Sofie pun bisa keluar dari rumah itu. Ia berjanji tidak akan lagi mengajar privat. Mungkin ini teguran dari Tuhan, karena selama ini Sofie menyembunyikan masalah ini dari suaminya.Sofie terus berlari. Ia pun menangis.


Karena Sofie belum kunjung masuk ke kamar James, Pak Bryan pun keluar.


" Sofie...Sofie...kamu ada dimana?"


Pak Bryan terus memanggil Sofie. Tapi Sofie tidak kunjung keluar. Dan ia pun melihat pintu depan terbuka.


" Sofie kabur ? sialan !" gerutu Pak Bryan.

__ADS_1


" Awas aja kamu Sofie, kamu bakalan jatuh ke pelukan saya !" ucap Pak Bryan.


James pun menghampiri Papa nya.


" Pa, Miss Sofie kemana?"


" Dia uda pergi !"


" Pergi ? pergi kemana? jadi saya gimana dong?"


" Tenang nak, nanti Papa akan cari guru les kamu yang lebih baik lagi !"


" Papa sih liatin Miss Sofie terus, jadi Miss Sofie pergi kan , Papa payah !"


James pun masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, ia pun menangis.


****


Akhirnya Sofie pun tiba di mansion. Merasa jijik, ia pun segera mandi. Padahal sama sekali Pak Bryan belum saja ada menyentuhnya.


Melihat lelaki paru baya itu, Sofie jadi takut untuk keluar rumah. Ia takut kalau mereka bertemu dan Pak Bryan melakukan kejahatan.


Selesai mandi, ia langsung menghubungi Shane. Ia meminta Shane agar cepat pulang. Tapi sayangnya, Shane tidak dapat memenuhi keinginan istrinya itu. Karena malam ini Shane lembur, Sofie pun berniat pergi ke kantornya.


Ia membawa bantal dan selimut. Ia sangat takut sendirian di mansion. Tanpa sepengetahuan Shane, Sofie pun tiba dikantor itu. Ia tak perduli lagi pada pegawai Shane, semua melihat kalau Sofie datang membawa perlengkapan tidur.


Cklekk...pintu pun terbuka.


Sofie langsung berlari memeluk Shane. Sofie tidak melihat kalau di sana ada pegawai lain yang sedang bersama suaminya itu.


Sofie menangis dengan histerisnya. Shane pun heran mengapa Sofie tiba - tiba datang dan langsung memeluknya dengan tangisan histeris.


" Tolong tinggalkan kami berdua !" ucap Shane kepada para pegawainya.


Para pegawai itu pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Shane mencoba menenangkan Sofie.


" Sofie, kamu kenapa?" tanya Shane


Sofie terus saja menangis.


" Sofie, kamu tenang dulu ! kamu bisa jelasin kan , kamu kenapa? apa yang terjadi sama kamu?"


Lagi - lagi Sofie menangis dan tidak mau menjawab pertanyaan suaminya itu.

__ADS_1


" Baiklah, sekarang nangis lah terus, nanti aja ceritanya. "


Suara tangisan Sofie pun semakin kencang. Ia semakin memeluk erat tubuh suaminya itu. Shane pun sangat heran, apa yang terjadi pada istrinya itu.


__ADS_2