
*Flash Back On*
Di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai oleh pengunjung, Ann berada di antara mereka. Berjalan lurus tanpa menoleh menuju sebuah Store Di*r yang menjadi merk favoritnya. Langkah kakinya sontak terhenti saat sepatunya merasakan sesuatu yang lengket saat ia berjalan. Ann menarik nafasnya gusar. Tidak, sepatu mahalnya tidak boleh sembarangan menginjak sampah!
Ann mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang terdekat dengan posisinya berdiri sekarang. Beberapa meter darinya ada sebuah kursi kosong. Dengan langkah pincang karena sedikit berjinjit, Ann menghampiri kursi itu dan menghempaskan pantatnya begitu saja di kursi.
Sepertinya ia menginjak permen karet, sepatunya terasa lengket saat bergesek dengan lantai. Ann memiringkan salah satu telapak kakinya agar ia bisa melihat benda apa yang teronggok di alas sepatu mahalnya. Dan saat melihat sesuatu yang molor berwarna cokelat menempel di bagian bawah sepatunya, Ann mendesah putus asa.
"Permisi, ini kursi saya!"
Ann tersentak, reflek ia menoleh pada seorang lelaki yang sudah berdiri di sebelahnya dengan tatapan menyelidik.
"Sudah ada tulisan ini, kan? Apa tidak bisa baca?" Lelaki itu menunjuk sebuah plat di tengah meja. Plat silver bertuliskan 'Reserved'.
Ann menatap tajam pada lelaki itu dengan kesal. Ia menarik beberapa lembar tisu di meja dan tak mempedulikan lagi lelaki yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Halo? Anda mengerti bahasa manusia, kan?"
"Ck. Bisa diam nggak, sih! Aku cuma pinjem kursimu sebentar buat bersihin permen karet sialan ini!" sungut Ann seraya mengangkat kakinya ke atas kursi dan membersihkan permen karet itu dengan jijik.
Lelaki tadi mengawasi Ann dengan kaget. Dia yang punya kursi tapi kenapa justru dia yang diomeli?!
Karena iba melihat Ann nampak kesusahan membersihkan permen karet yang sangat lengket menempel di sepatunya, lelaki itu berjongkok setelah lebih dahulu menarik selembar tisu. Ia membantu Ann membersihkan permen itu dengan sigap tanpa rasa jijik sama sekali.
Ann yang kaget dengan respon lelaki itu sontak menahan nafasnya dengan gugup. Terlebih saat dengan telaten dan hati-hati lelaki itu membersihkan sisa-sisa permen yang belum bisa di singkirkan. Tak kurang akal, lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. Ujung kartu yang keras dan siku membuatnya lebih mudah membersihkan permen karet itu.
Ann memperhatikan kartu yang digunakan lelaki itu, sebuah kartu member Store jam tangan mahal.
"Terima kasih," ucap Ann singkat begitu sepatunya sudah bersih dari sampah menjijikkan itu.
"Your welcome, nama saya Daren!" Lelaki itu mengulurkan tangannya dengan ramah.
Ann membalas jabatan tangan itu. "Annastasia."
"Waw, nama yang cantik. Maaf tadi sudah membuatmu marah ..." Daren menggantung ucapannya.
"Ann, panggil saja Ann!" sela Ann menjelaskan.
__ADS_1
"Maaf, Ann!"
Ann tersenyum dan mengangguk. Ia berdiri dan menyelempangkan kembali slingbagnya.
"Terima kasih sekali lagi, Daren! Bye!" Ann melambaikan tangan kanannya dan berbalik.
"Wait, Ann! Boleh minta nomor ponselmu?!"
*Flash Back Off*
Ann mengerjapkan matanya dan menatap Daren dengan nanar.
"Kamu mencintaiku, kan, Beb?! Kenapa kamu masih takut melakukannya denganku?!" tanya Daren heran.
Ann menggeleng dan berdiri dari sofa. Reflek Daren menarik tangan Ann hingga gadis itu oleng dan tubuhnya membentur tubuh Daren.
"Daren! Aku akan sangat membencimu bila kita melakukannya sekarang!"
"Beb, jangan kolot! Kita sudah sama-sama dewasa. Kita saling mencintai. Apalagi yang kamu takutkan, huh?!"
Ann menggeleng sekali lagi dan mendorong tubuh Daren agar menjauh darinya. "Terserah kamu menganggapku apa. Aku hanya nggak mau dijamah oleh lelaki selain suamiku!"
Plak.
Tanpa sadar tangan mungil Ann melayang di pipi Daren mendengar umpatan itu. Ann menatap Daren dengan dingin.
Daren yang kaget dengan respon Ann sontak menyentuh pipinya yang terasa panas. Ia membalas tatapan Ann tak kalah dingin. Sesaat tadi hormon testosteronnya meningkat drastis ketika bibir mereka bersentuhan, dan kini berganti hormon cortisol yang menguasai. Ini kali pertama Ann menamparnya.
"Kamu tahu dengan jelas aku menikah karena terpaksa. Kamu pun nggak mau meninggalkan dunia gemerlapmu demi aku. Nggak seharusnya kamu mengatakan hal itu sama aku, Daren!" teriak Ann murka.
Daren menghembuskan nafasnya penuh emosi. Ia berdiri dan membiarkan dadanya yang bidang bersentuhan lagi dengan tubuh Ann. Reflek Ann mundur untuk menghindarinya.
"Kalo kamu mau meniduriku, let's get married! Apakah sesusah itu kamu meninggalkan kesenangan pribadimu?!"
"Aku melakukan ini semua demi bisa membahagiakan kamu, Beb! Aku ingin setara denganmu agar kamu bisa membanggakan aku di depan kolega dan teman-teman bisnismu!"
"Tanpa kamu menjadi artis pun aku sudah bangga denganmu, Daren!"
__ADS_1
"Bulshit! Kenyataannya kamu selalu merendahkanku dengan hadiah-hadiah mewahmu itu!"
Ann terhenyak mendengar kejujuran Daren. Ia tak pernah berpikir untuk merendahkan Daren dengan menghujaninya berbagai macam hadiah.
"Itulah kenapa aku bertekad menjadi artis terkenal agar aku bisa punya nama tanpa embel-embel nama besar Papamu!"
"Hentikan, Daren! Sekarang aku semakin yakin bila keputusan Papaku untuk segera menikahkanku sudah tepat setelah mendengar semua ini darimu." Ann menatap Daren dengan sedih.
"Beb, jangan salah paham! Aku berkata jujur agar kamu paham bahwa selama ini aku melakukan segalanya juga demi kebaikan kamu!"
Ann menggeleng dan perlahan mundur menjauh dari Daren. "Cukup, Daren. Jangan katakan apa-apa lagi. Ini benar-benar akan menjadi kali terakhir aku menemuimu!"
"Beb! Aaakh, kenapa jadi seperti ini, sih!" rutuk Daren kesal seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah. Aku minta maaf, Beb. Aku janji nggak akan mengulangi hal itu lagi. Aku janji."
"Stop it. Aku sudah kehilangan rasa percayaku padamu."
Daren menarik tubuh Ann dan memeluknya dengan erat. Ann berusaha untuk memberontak namun kungkungan lengan Daren sangat kuat menahan tubuhnya.
"Maafin aku. Jangan tinggalin aku, Beb!" lirih Daren di telinga Ann penuh sesal.
Ann menggeleng sambil tetap berusaha lepas dari pelukan Daren. Karena tak kunjung berhasil, akhirnya Ann menggigit lengan lelaki itu dengan penuh kekuatan.
"Arrgggg!" erang Daren kesakitan seraya reflek melepas pelukannya.
Ann berlari menjauh dari lelaki itu dan menatap tajam padanya.
"Beb, kenapa kamu memperlakukanku dengan kasar begini, sih!" Daren mengusap bekas gigitan Ann yang membuat lengannya memerah.
"Karena kamu sudah memperlakukanku seperti pelacur! Kamu pantas untuk itu."
"Beb, I'm sorry! Harus berapa kali sih aku minta maaf sama kamu, huh? Kenapa kamu seperti nggak paham sama bahasa manusia?!" keluh Daren frustasi. Kepalanya semakin berdenyut nyeri karena sejak tadi emosinya tak kunjung mereda.
"Aku janji. Aku bersumpah nggak akan menjamahmu lagi seperti tadi. Oke? Please, Beb. Aku lagi sakit dan kamu sejak tadi membuat emosiku semakin nggak terkontrol!" lanjut Daren putus asa. Ia mengusap lengannya yang masih terasa perih karena bekas gigitan Ann tadi sepertinya membuat kulitnya mengelupas.
Tatapan tajam Ann meredup perlahan. Ia kembali iba pada Daren yang sedari tadi menjadi sasaran amukannya. Apakah menganiaya kekasih juga termasuk KDRT? Oh bukan, mungkin lebih tepatnya KDHP, Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran!
__ADS_1
**********************