(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Seseorang dari Masa Lalu


__ADS_3

"Mas Kian, kan?"


Kian menoleh, perempuan itu sudah berdiri di samping kursinya. Kian mengangguk dengan gugup.


"Masih inget sama aku, nggak?" lanjut gadis itu lagi.


Kian menggeleng sebagai jawaban.


"Aku putrinya Suster Narsih, yang dulu ngerawat nenek Mas Kian!"


Kian terbelalak tak percaya. Benar! Pantas saja Kian seperti pernah mengenalnya. Dulu mendiang Nenek Sofia pernah di rawat secara intensif oleh perawat yang tinggal tak jauh dari rumah. Dan perempuan ini sering mengantar Suster Narsih ke rumah Kian.


"Sudah inget sekarang?"


Kian mengangguk. "Maaf, ya," ucapnya merasa bersalah. Bagaimana mungkin Kian bisa melupakan orang-orang yang sudah banyak berjasa di masa lalunya.


"Namaku Zoya. Sepertinya Mas Kian juga baru tahu tentang namaku."


Kian tersenyum kikuk. "Iya, maaf ya, Zoya!"


Perempuan bernama Zoya itu tersenyum, lantas beringsut duduk di kursi sebelah Kian. "Aku baru seminggu ini diterima kerja di sini. Sepertinya kita akan sering bertemu setelah ini!" jelas Zoya dengan santainya. Ada cekungan lesung pipit di pipinya saat ia tersenyum.


"Kamu di bagian apa?"

__ADS_1


"Aku reporter. Mas Kian sendiri?"


"Aku campers!"


"Ooh," lirih Zoya, ia melirik kotak makanan di depan Kian.


Kian yang menyadari bila Zoya sedang memperhatikan kotak makanannya yang masih utuh sontak menggeser kotak itu padanya.


"Makanlah, aku masih kenyang!"


"Eh, tapi Mas Kian kan belum makan siang juga?!"


"Tidak apa. Aku belum lapar. Makanlah, sebentar lagi waktu istirahat berakhir."


"Mas Kian tinggal di mana sekarang?" tanya Zoya di antara kunyahan makanannya.


"Di deket sini. Makanya kalo aku lapar nanti tinggal pulang aja."


"Oh ya, waaah. Tapi di daerah sini rumahnya mahal-mahal loh! Hebat ih Mas Kian bisa beli rumah di tengah kota gini!"


Kian tersenyum sumbang. Bila bukan karena menikah dengan Ann, mungkin Kian masih tinggal di rumah kontrakan di pinggiran kota yang jauh dari mana-mana.


"Bagaimana kabar Suster Narsih? Beliau masih sehat, kan?" tanya Kian penasaran. Terakhir kali ia bertemu dengan suster itu saat pemakaman Nenek Sofia.

__ADS_1


"Mama sehat, masih sibuk dengan aktifitasnya sebagai Suster panggilan. Mas Kian sudah menikah?" Zoya memperhatikan cincin silver yang melingkar di jari manis Kian.


"Ah, iya. Baru menikah beberapa minggu yang lalu." Kian menyembunyikan tangannya dengan keki.


"Wah, masih pengantin baru dong!" celoteh Zoya terkekeh.


Kian tersenyum masam. Tidak ada bedanya pengantin baru maupun pengantin lama, bagi Kian, hal itu hanyalah status di atas kertas.


"Aku malah baru jadi janda, haha ..."


Kian tertegun. "Bukannya terakhir kali kita bertemu, kamu masih skripsi. Memangnya kapan menikahnya?"


"Mendadak, Mas Kian! Nikah karena aku dah isi duluan, jadi ya gitu deh, setelah nikah baru ketahuan belangnya! Dan nggak pake lama aku langsung ajukan cerai. Daripada mentalku diserang dan bikin aku jadi benci sama bayiku, jadi mending aku buang aja dia ke laut!" Zoya tertawa renyah saat menceritakan permasalahannya.


"Anakku sudah gede sekarang, bulan depan dia genap dua tahun. Mama yang ngebantu aku ngerawat dia," lanjut Zoya sumbang.


"Maaf Zoya, aku ikut sedih mendengar ceritamu."


"Aaah, santai saja, Mas Kian! Akupun cerita kaya gini karena aku sudah ngerasa dekat sama Mas Kian." Zoya melahap suapan terakhir makanannya lantas meneguk air mineral yang Kian sodorkan.


"Kapan-kapan kalo ada waktu, main-mainlah ke rumah! Mama pasti seneng ketemu Mas Kian!"


*******************

__ADS_1


__ADS_2