
"Nenek Sofia bukan Nenek kandungku, Ann."
Ann terperanjat. Ia menoleh dan menatap Kian dengan iba.
"Jangan mengasihaniku. Kenyataannya memang seperti itu." Kian tersenyum sumbang seraya menatap lautan yang luas membentang di hadapannya. "Aku berusia enam tahun saat wanita itu meninggalkanku di rumah Nenek Sofia." Ia lantas menolehi Ann, masih dengan senyum getir itu.
"Maaf, Kian."
"Maaf untuk apa, Ann? Kamu hanya mendengarkan ceritaku. Justru aku yang bersalah karena sudah menyalahi salah satu pasal itu. Maaf, ya."
"Stop meminta maaf terus! Kamu semakin membuatku nampak seperti orang jahat!" sungut Ann kesal, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Jangan bilang begitu, Ann. Aku tidak bermaksud—"
"Tapi kamu selalu saja meminta maaf atas hal yang berada di luar kontrolmu sendiri. Itu membuatku jadi semakin merasa bersalah!"
"Iya, maaf. Eh, tidak. Baik. Mulai saat ini aku tidak akan mengatakan kata itu padamu." Kian menarik tangan Ann gugup melihat wanita itu mulai naik pitam.
__ADS_1
"No physical touch, Kian!!"
Sontak Kian melepas genggaman tangannya dan mundur menjauh. Dadanya mulai bergemuruh karena rasa bersalah.
"Aku mau pulang!" Ann menarik topinya dan bersiap untuk berdiri namun dengan sigap Kian kembali menarik tangannya agar tak pergi.
"Ann, please. Bisakah kita tetap di sini sampai sunset?"
Ann terpaku menatap manik mata Kian yang memohon padanya. Tangan hangat yang kotor oleh butiran pasir itu masih menggenggam pergelangan tangan Ann meminta persetujuan. Pandangan mengiba itu membuat Ann gamang.
"Baiklah. Hanya sampai sunset." Ann kembali duduk di pasir.
Dari kejauhan, Ann hanya menyaksikan tingkah Kian yang menggelikan. Ia berlarian di pinggir pantai seolah tanpa beban. Membiarkan celana boxernya basah dan memamerkan pantatnya yang seksi. Ann terhenyak, ia menelan salivanya gugup. Tidak, tidak, dia tidak boleh lengah! Hanya melihat pantat dan dada Ann berdebar hangat?! Oh, yang benar saja!
"Ann, kemarilah!" panggil Kian dari tengah pantai.
Ann melambaikan tangan sebagai tanda menolak. Ia tidak suka air laut yang asin. Belum lagi panas terik yang pasti akan membuat kulitnya gosong!
__ADS_1
"Miss, mau saya foto?"
Ann tersentak, Lukas tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya sambil menadahkan tangan meminta kamera Kian yang teronggok di samping Ann.
"Boleh, nih!" Ann menyerahkan kamera itu sembil tetap duduk tenang.
Lukas menerima kamera itu dengan heran karena Ann tak bergeming. "Miss Ann tidak mau berfoto juga?!"
"Tidak, Lukas. Thanks! Saya tidak bawa baju ganti."
"Tapi di depan ada toko pakaian, Miss."
Ann menatap tajam pada Lukas. Apakah sikap Papa menurun pada asistennya itu?! Mereka sangat mirip! Sama-sama pemaksa.
"Baik. Kalo gitu saya mau foto Mas Kian dulu. Permisi, Miss." Lukas berlalu dan setengah berlari menghampiri Kian yang kini sedang duduk santai di bibir pantai, membiarkan ombak yang datang dan pergi membasahi kakinya.
Ann menarik napasnya berat. Pada akhirnya ia berdiri, mengenakan topi pantainya dan menyusul dua lelaki menyebalkan itu.
__ADS_1
"Ayo foto kami, Lukas!"
*********************