(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kian adalah Papa


__ADS_3

Beberapa jam kemudian di rumah megah milik Jonathan. Ann duduk berhadapan dengan Papanya itu dengan tatapan sendu. Ia hendak membuka mulut sebelum kemudian Jonathan bangkit dari kursinya, mengambil sesuatu di meja kerjanya lantas kembali ke sofa dengan membawa selembar kertas.


Ann nampak familiar dengan kertas itu, sebuah tiket pesawat. Lagi. Ann mendessah frustasi.


"Berangkatlah kalian berdua ke Swiss weekend depan. Hanya seminggu. Lalu setelahnya semoga keinginan Papa cepat terkabulkan!"


"Pa."


"Apa Papa harus menunggu selama itu untuk menimang cucu? Setahun?"


Ann mengangguk pasti. Ia menatap Jonathan dengan penuh harap. Setidaknya ini adalah usaha terakhirnya untuk merayu. Ia tak bisa membayangkan bila harus berangkat ke Swiss! Bisa-bisa ia pulang dalam keadaan hamil sungguhan. Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi!


"Tidak. Keputusan Papa nggak akan berubah. Berangkatlah kalian berdua hari jumat pekan depan." Jonathan menatap putrinya dengan tajam.


"Pa, please. Papa nggak mau kan kalo kisah Papa terulang kembali?"

__ADS_1


Jonathan termanggu, ia menatap Ann dengan pandangan menelisik. "Maksudmu?"


"Papa menikah dengan Mama tanpa cinta, begitupula denganku dan Kian. Kami butuh waktu untuk menumbuhkan cinta di antara kami, Pa."


"Dan dengan Daren di antara kalian?" 


Ann terhenyak. Bibirnya seketika kelu.


"Tidak, Ann. Jangan ulangi kesalahan Mamamu. Kian adalah lelaki yang baik. Kamu akan menyesal seumur hidupmu bila melepas Kian."


"Justru karena dia terlalu baik, Pa. Makanya aku nggak mau Kian semakin tersiksa hidup bersamaku!"


"Kian berbeda, Pa. Dia selalu mau berkorban dan rela tersakiti. Ak - aku ..." Ann menangkup wajahnya saat tetes air matanya tak lagi bisa terbendung.


Jonathan menghela dan menghembuskan napasnya berkala, ia lantas berdiri dan duduk di samping putri cantiknya.

__ADS_1


"Kian adalah Papa. Kami tidak pernah menyesal berkorban untuk orang yang kami sayangi, camkan itu baik-baik, Ann. Bukan cinta namanya bila tak butuh pengorbanan," hibur Jonathan seraya mengusap punggung Ann dengan lembut.


"Nanti akan ada saatnya kamu yang harus berkorban untuk Kian. Itulah yang namanya cinta. Semoga kalian berdua tidak terlambat menyadari kehadiran cinta itu di antara kalian," timpal lelaki berusia 56 tahun itu bijak.


Ann tak menyahut, air matanya tak bisa lagi dibendung. Sekelebat wajah Kian melintas di kepalanya, momen tadi pagi pasti sangat menyakitkan untuk Kian. Ann meremas dadanya yang terasa sakit setiap kali ia membayangkan Kian. Apakah ini sinyal bila hatinya mulai disinggahi oleh lelaki aneh dan konservatif itu? Tidak, tidak mungkin secepat ini!


Bukankah sejak awal tembok kokoh itu sudah menjadi benteng pertahanan di hati Ann? Mengapa kini seolah semua semakin sulit saat Kian selalu saja mengalah dan berlaku baik padanya.


"Papa yakin tidak salah pilih. Kian yang terbaik. Jangan melihat Kian dari statusnya, Ann. Lihatlah kebaikannya dan semua pengorbanannya untuk kita."


Ann mengernyit. Untuk kita?


"Tidak ada bantahan lagi kali ini. Kalian harus berangkat suka atau tidak suka!" timpal Jonathan sebelum Ann sempat bertanya.


Meskipun tak yakin bila Kian akan mau berangkat ke Swiss, Ann tak banyak menyanggah perintah Papanya. Ia akan memikirkan alasan untuk menolaknya nanti, yang penting sekarang jangan membuat Papanya curiga.

__ADS_1


"Baiklah, Pa. Kami akan berangkat."


...****************...


__ADS_2