
Matahari sudah tenggelam sejak satu jam yang lalu, pemandangan lampu kota yang bisa di lihat dari jendela kamar Rumah Sakit menjadi hiburan tersendiri bagi Kian. Biasanya ia menikmati pemandangan seperti ini dari Green Area di kantor maupun di balkon Penthouse, namun kali ini ia justru memandanginya dari kamar Rumah Sakit. Betapa takdir manusia adalah rahasia Tuhan. Bahkan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi satu jam ke depan.
Suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam mengalihkan perhatian Kian untuk sesaat, ia menoleh lemah pada sosok Ann yang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian rapi. Merasa di tatap oleh Kian, Ann mendongah dan tersenyum padanya.
"Aku mau ke supermarket, kamu mau titip sesuatu?" ucap Ann berdusta. Sedari tadi pikirannya berkecamuk mencari alasan agar bisa keluar sebentar dan menemui Daren.
Kian menggeleng, ia tahu bila Ann sedang berbohong, dan memaksa Ann untuk berkata jujur tentunya hanya akan menambah masalah baru di antara keduanya. Sejujurnya, Kian sudah lelah untuk terus berdebat.
"Tidak." Kian menyahut singkat.
Sambil melipat T-shirt di bagian lengan, Ann melangkah mendekat ke ranjang Kian dan memandanginya cukup lama. Tanpa bersuara, bahkan tanpa mengungkapkan isi hatinya, Kian paham bila Ann merasa bersalah padanya. Sorot matanya lebih lembut belakangan hari ini.
__ADS_1
"Bila butuh sesuatu, segera telefon aku, oke?" saran Ann bimbang.
Kian mengangguk, seutas senyum yang tersungging seolah menjadi jawaban baginya.
"Baiklah. Aku berangkat, ya?"
Kian mengangguk lagi, masih dengan senyuman itu. Namun Ann masih tak bergerak dari tempatnya berdiri, seolah terasa berat untuk pergi. Ia masih menimbang akankah melanjutkan rencananya untuk pergi dalam keadaan berdusta atau pergi dengan mengatakan alasan yang sesungguhnya.
Ann menunduk keki, ia menghela nafas panjang dan berbalik. "Bye, jangan jauh-jauh dari ponselmu, oke?! Aku akan menelefonmu nanti!"
"Iya, nikmatilah waktumu, Ann."
__ADS_1
Ann menoleh lagi, ekspresi Kian yang tenang dengan seutas senyum entah mengapa justru membuatnya semakin merasa bersalah. Hatinya tercubit, terasa semakin nyeri setiap ia menganyunkan langkah menjauh.
Dengan ragu dan nafas tertahan, Ann memegang handle pintu cukup lama. Keraguan kembali menyergap di hatinya, setelah menemani Kian 24 jam penuh selama beberapa hari ini entah mengapa meninggalkannya dua jam saja sudah membuatnya khawatir. Ann menengok ke belakang, ia menekan handle pintu ke bawah dan membukanya dengan lebar lantas melangkah pergi.
Tepat di saat pintu lift terbuka, Ann bergegas masuk tanpa memperhatikan seseorang yang baru keluar dari sana. Debat antara pikiran dan hatinya yang berkecamuk membuat Ann tak menyadari seorang wanita yang menggandeng dua orang bocah keluar dari lift barusan. Namun, tepat di saat pintu lift hampir tertutup dan Ann telah menekan tombol menuju basement, saat itulah tatapan Ann beradu dengan bocah lelaki yang familiar baginya. Ann mengernyit untuk sesaat, ia pernah melihat bocah itu sebelumnya ..., tapi di mana?
Selama di Rumah Sakit, Ann sangat jarang keluar dari kamar dan ia yakin bila bocah itu bukan pasien di ruang President Suite karena setahunya di sana hanya di huni oleh dua orang pasien, yaitu Kian dan seorang lagi adalah pasien lansia. Ann berpikir sejenak, ia pernah melihat bocah itu, tapi di mana??
Tting.
Ann memghembuskan napas panjang dan mengayunkan langkah keluar dari lift. Ia memilih untuk mengabaikan bocah tadi dan bergegas menuju tempat mobilnya diparkir. Ia sudah terlambat menjemput Daren.
__ADS_1
...****************...