
Silau, Ann membuka mata tepat di saat seseorang baru saja menutup pintu kamarnya. Kepalanya terasa berat dan berputar-putar, Ann mencoba mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan semalam. Ia pulang dari kantor, menyetir sendirian ke pub, memesan minuman, bertemu Cinta, saling ejek dengan wanita siluman itu, adu kuat minum dan Kian.
Tunggu, Kian??
Ann sontak bangkit dari tidurnya, gerakan cepat saat tiba-tiba Ann beringsut duduk membuat kepalanya berputar-putar dan perutnya mulai bergejolak. Dengan gesit, ia menurunkan kakinya dan berlari ke kamar mandi, sesuatu seperti hendak meringsek ke luar dari dalam perutnya.
"Whoekk."
Ann berjongkok di closet dan mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.
"Uhuk ... whoeeek!"
Mual itu semakin menyiksa, semua isi perutnya sudah terbuang dan menyisakan aroma yang paling Ann benci. Tangan kirinya mulai menekan flush closet saat dirasa tak ada lagi yang akan keluar dari lambungnya. Dengan gontai Ann mulai bangkit dan keluar dari toilet. Peningnya masih terasa, badannya seperti sehelai kertas yang siap untuk terbang seandainya tertiup angin. Masih dengan langkahnya yang diseret, Ann beringsut keluar untuk mengambil air di dapur. Namun gerakan tangannya terhenti saat sayup-sayup Ann mendengar suara orang mengobrol di luar. Ia urung membuka pintu itu lebih lebar dan memilih untuk menempelkan telinganya di daun pintu.
Apakah ada maling?? Apakah malingnya sedang berdiskusi untuk memilah barang yang akan dicuri? Oh, tidak!! Jangan sampai maling itu menemukannya dikamar ini, Ann harus sembunyi!!
Pikiran sehat Ann masih belum sepenuhnya kembali setelah semalaman mabuk hingga teler. Halusinasi masih menderanya. Namun belum sempat Ann bersembunyi, suara lelaki yang sangat ia kenal membuat langkahnya terhenti. Kian?? Jadi malingnya adalah Kian??
__ADS_1
"Pa, saya mencintai Ann. Saya tulus mencintainya. Bahkan sampai detik ini saya merasa hidup saya kosong tanpa dia. Apakah saya tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua?"
Deg, sekujur tubuh Ann sontak memanas, bukan karena AC di kamar yang tak berfungsi namun karena pengakuan Kian.
"Selama Daren masih menjadi bayangan di hubungan kalian berdua, lebih baik kamu menyerah sebelum semakin dalam terjerumus."
Papa?
Ann kembali menempelkan telinganya di daun pintu. Jadi Kian bersekongkol untuk mencuri bersama Papanya?
Suara Papanya terdengar pilu kali ini, Ann menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Sebersit ingatan berkelebat.
"Karena akulah yang mendonorkan ginjalku untuknya!"
Bola mata Ann terbelalak. Ya, benar! Kian mendonorkan ginjalnya pada Papanya. Ingatan dan akal sehat Ann mulai kembali seiring dengan air matanya yang mulai menetes, tanpa sadar tubuhnya melorot dan bersimpuh di balik pintu.
"Pa, jangan berkata seperti itu. Saya tulus membantu anda, saya tulus ingin menunaikan amanah Nenek Sofia."
__ADS_1
"Kian ..." lirih Ann terluka. Kesadarannya telah kembali.
"Saya mohon, jangan katakan hal seperti itu lagi. Saya tulus melakukan semua itu seperti saya tulus mencintai Annastasia."
Suara Kian di luar semakin membuat Ann tersadar dari halusinasinya. Hatinya kembali sakit, luka itu kembali menganga ketika Ann mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ann sudah terlampau jahat karena menilai Kian sebagai lelaki yang matre selama ini.
"Baiklah. Bicarakanlah berdua dengan Ann. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Apapun keputusan kalian nanti, Papa akan mendukungnya."
Ann lekas menyeka air matanya, ia menutup pintu dengan sangat perlahan. Namun ternyata, Jonathan memperhatikan gerakan pintu itu dari luar.
Dengan mengulum senyum, Jonathan memberi kode pada Kian agar memperhatikan kamarnya.
"Dia sudah bangun, Papa pulang dulu, oke? Jangan lupa mandilah dulu sebelum mengakhiri semuanya di ranjang!" bisik Jonathan menggoda Kian.
Kian menoleh ragu pada pintu kamar yang dulu pernah menjadi kamar tidurnya. Begitukah? Akankah ranjang akan menjadi akhir dari penyelesaian masalahnya?
...****************...
__ADS_1