
"Syukurlah kalo sudah boleh pulang, aku juga sudah jenuh berada di sini!" keluh Kian berdusta. Ia memperhatikan setiap perubahan mimik wajah Ann, namun wanita itu berpaling dan memilin ujung selimut Kian.
"Iya. Syukurlah. Kamu juga bisa istirahat dengan tenang nanti sesampai di rumah kita."
"Rumah kita?"
"Iya, rumahmu dan aku. Rumah kita, kan?"
"Itu rumah Papa, bukan rumahku, Ann," elak Kian sungkan.
"Papa menghadiahkan rumah itu untuk kita berdua. Buktinya kamu juga marah besar pas tempo hari Daren datang ke rumah!"
"Apa kalian terbiasa bertemu di rumah tanpa sepengetahuanku?" tanya Kian memotong, ia baru ingat bila pertanyaan ini sempat mengusik hatinya.
Ann menggeleng, ia mengawasi Kian dengan takut. "Baru sekali itu, kamu cek aja CCTV di rumah kalo nggak percaya!" elaknya.
"Benarkah?"
"Suwer! Kalo aku bohong biar aku disamber berondong!"
Raut Kian yang tegang sontak merenggang. Ia tertawa mendengar jawaban Ann. "Ooo jadi seleramu berondong, ya? Hmm, baiklah!" goda Kian sinis.
Ann terbelalak kesal. "Ih, sori ya! Gini-gini aku digilai sama berondong-berondong di kantorku!"
__ADS_1
"Oh, ya? Apa mereka belum tahu kalo kamu sudah menikah, huh?!" Kian menarik tangan Ann dan memperlihatkan cincin nikah yang tersemat di jari manisnya.
Ann tertawa, ia menarik tangannya dari genggaman Kian dan mencubitnya. "Kalo cuma cuci mata kan nggak apa, ya, kan? Bosen di rumah lihat yang tua-tua mulu!" sindir Ann tergelak setelah memberi penekanan pada kata tua.
Mendengar perkataan Ann, Kian sontak menarik wanita itu dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas. "Biarpun tua gini, tenagaku masih muda, tahu!" sungut Kian kesal, tawa Ann yang renyah seolah sedang menyindir harga dirinya.
"Hahaha ... mana ada kaya gitu! Tua ya tua aja nggak usah sok-sokan muda!"
"Apa kamu bilang, huh!? Dasar pecinta berondong!" Kian ganti menggelitik perut Ann hingga istrinya itu tertawa semakin keras.
Tubuh Ann yang mungil menggelinjang kegelian di ranjang Kian yang sempit, membuat Kian harus sedikit bergeser karena khawatir istrinya terjatuh. Semakin malam bukannya semakin sunyi, kamar Kian malah semakin riuh oleh gelak tawa keduanya. Tanpa sadar tangan Kian menyenggol payudara Ann yang montok, ia tertegun sesaat dan menghentikan gerakan tangannya.
"Maaf, Ann," pinta Kian merasa bersalah. Ia menarik tangannya dengan ketakutan.
Melihat ekspresi lelaki yang sedari tadi nampak bahagia itu berganti panik, Ann menghentikan tawanya dan beringsut duduk lagi. Padahal Ann tak keberatan karena Kian pasti melakukannya tanpa sengaja.
Kian mengangguk cepat, ia tak lagi berani beradu tatap.
"Sejak kapan nomorku menjadi nomor darurat di ponselmu?"
Deg. Kian terkesiap. Usai menonton talk show sore itu, ia kepikiran semalaman dan memutuskan untuk memasukkan nomor Ann ke daftar panggilan cepat di ponselnya.
"Apa kamu keberatan? Aku akan merubahnya bila kamu tak berkenan."
__ADS_1
"Bukan itu, kamu selalu mengalihkan pertanyaan. Aku tanya sejak kapan?"
"Sejak kamu menjadi istriku," sahut Kian berdusta. Tak mungkin ia jujur dan berkata yang sesungguhnya bila nomor darurat itu atas saran sebuah talk show di televisi. Bisa-bisa Ann menertawainya lagi.
"Berarti sudah lama?" tanya Ann lagi memastikan.
"Iya. Tapi bila kamu tak suka, aku akan menggantinya nanti."
"Mau diganti nomor siapa emang?"
Kian mengedik tak tahu, memasukkan nomor Jonathan bukan ide yang brilian mengingat mertuanya itu punya riwayat penyakit jantung meski tak kronis.
"Akan aku ganti nomor Lukas," usul Kian seketika.
Ann tertawa, ia mengibaskan tangannya cepat. "Tak masalah, selama kamu betah dengan kecerewetan Lukas. Haha ..."
"Kalian berdua sama cerewetnya," ejek Kian sinis.
"No! Enak aja. Lukas adalah jelmaan Papa dalam wujud yang berbeda."
"Apa bedanya denganmu, kamu 'kan anak Pak Jonathan!"
"Kamu mau aku gelitikin lagi, huh?" ancam Ann seraya mendekat ke tubuh Kian.
__ADS_1
"Tidak. Tidak! Tidurlah Ann, kembalilah ke tempat tidurmu!"
...****************...