
Indonesia, 13.50 WIB.
Kian menarik tas kopernya masuk ke dalam kamar dan menarik napasnya dalam-dalam. Kini ia sudah kembali ke penthouse mewah yang dihadiahkan Pak Nathan padanya dan Ann. Liburannya sudah usai, jadwal cutinya sudah habis dan besok ia sudah harus kembali bekerja.
Beberapa hari kemarin terasa berlalu begitu cepat dalam ingatan Kian. Naik pesawat untuk pertama kali, menikmati wangi taman bunga Camellia, makan malam dengan view romantis di dekat pantai, bermain ombak di pantai Jungmun, bersepeda, menaiki kristal kano menyusuri pantai Udo Island, makan ice cream kacang khas Udo Island, tidur di sebelah Ann dan mendengar suara dengkuran halusnya. Tanpa sadar seutas senyum tersungging di bibir Kian yang tipis. Bahkan ia mendapat bonus jackpot dihari pertama menginjakkan kaki di hotel. Senyum Kian semakin melebar membayangkan betapa konyolnya ia sampai terjebak meminum Tangerine Juice berisi obat perangsang itu!
Mulai hari ini, semua yang telah ia lewati kemarin akan ia anggap hanya sebuah mimpi. Ya, hanya sebuah mimpi indah yang tak akan pernah terulang lagi. Kian merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan memejamkan mata. Selama di pesawat, semalaman ia tak bisa tidur nyenyak, entah karena harus kembali menghadapi realita atau karena suasana di pesawat yang temaram.
Selama berada di hotel Jeju Island kemarin, Kian sengaja tidur terakhir hanya untuk memastikan lampu masih dalam keadaan menyala saat ia tertidur. Ann tentu saja tak suka bila tidur dengan lampu menyala, maka dari itu Kian sengaja tidur terakhir untuk memastikan Ann tak mematikan lampu. Perbedaan yang semakin hari semakin kentara ini membuat Kian berusaha untuk menjaga jarak. Dan mulai besok, ia akan memastikan tak ada celah bagi Ann untuk menyelinap ke dalam hatinya.
Kian memejamkan mata sejenak, nanti malam ia dan Ann akan berkunjung ke rumah Jonathan. Jadi lebih baik ia beristirahat dahulu.
Sementara itu di lantai atas, Ann baru saja selesai mandi dan mengeluarkan beberapa pakaian kotor yang sudah ia sisihkan di tas lain. Sore nanti, Jasa Laundry langganannya akan menjemput semua pakaian-pakaian kotor ini jadi sebisa mungkin Ann memilahnya dulu sebelum bersantai. Ponselnya beberapa kali terdengar berdenting sejak ia sibuk membereskan baju-baju kotor. Ann tak mengindahkannya dan memilih untuk sibuk bebenah karena nanti malam ia dan Kian akan mengunjungi rumah Papanya. Tak ada lagi waktu untuk beberes. Ia harus segera melakukannya sebelum keteteran.
Dan dua jam setelah itu. Sambil menikmati sore yang tenang, Ann duduk di ayunan yang berada di dekat kolam sembari mengecek ponselnya. Beberapa pesan dari nomor asing. Dan dua chat dari DAREN! Telunjuk Ann sontak menekan pesan chat itu dengan sedikit gugup.
[Ann, I miss you.]
Deg. Jantung Ann serasa berhenti berdetak saat membaca deretan kata di layar ponselnya. Setelah dua minggu menghilang, Daren datang kembali sambil mengatakan rindu?!
[Masih bolehkah aku mendengar suaramu, Ann? Aku benar-benar rindu.]
Seluruh tulang belulang di tubuh Ann terasa luruh seketika. Rayuan macam apa ini! Mengapa hanya dengan membacanya tiba-tiba jari jemari Ann reflek menekan angka 1 hingga panggilan ke nomor Daren tersambung seketika.
"Halo, Ann!"
Ann terkesiap, suara itu. Suara hangat yang dulu hampir setiap hari ia dengar. Ann menyentuh bibirnya yang tiba-tiba terasa kelu.
"Beb, I miss you," bisik Daren melanjutkan.
__ADS_1
"I-i miss you too, Daren."
"Can we meet? Please."
"Hari ini aku sudah ada janji untuk pergi ke rumah Papa," sesal Ann sedih.
"Kamu sudah membaca berita?" tanya Kian tiba-tiba.
"Berita apa? Tentangku lagi?"
"Ya, tentangmu. Tentangmu yang selalu menemaniku dari titik nol hingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang."
"Daren."
"Maaf, Beb. Aku terlambat menyadari bila aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Kamu serius tentang berita itu?"
"Ijin?"
"Iya, ijin. Aku takut kamu tidak siap dengan segala konsekwensinya bila aku mengungkap jati diri wanita penyemangatku!"
Ann menahan debaran di dadanya yang semakin menderu. Wanita penyemangat?
"Bolehkah aku mengungkap jati dirimu sebagai wanita penyemangatku ke media?"
"Daren, tapi aku sudah menikah!"
"Apa wanita yang sudah menikah nggak boleh bersahabat dengan pria lain? Mereka hanya tahu kita bersahabat. Jadi tak ada yang aneh bila suatu saat mereka melihat kita bersama di suatu tempat. Kita nggak perlu lagi merahasiakan segalanya, Ann!"
__ADS_1
Ann menghela napasnya berat. Begitukah? Apakah boleh bila ia berpura-pura lagi untuk kesekian kali setelah pernikahannya pun hanya sebuah kepura-puraan belaka.
"Bila kamu siap, besok datanglah ke acaraku. Aku sudah konfirmasi dengan Mas Diki dan dia setuju untuk menampilkanku di acara interviewku besok siang."
"Besok jam berapa?"
"Setelah makan siang, Beb. Aku akan kabari tempatnya besok, oke?!"
Ann menghembuskan napas sejenak. "Oke. Akan aku pikir-pikir lagi."
"Terima kasih, Beb. I miss you."
"I miss you too, Beb."
"Sampai jumpa besok, I love you!"
"Love you more!"
Tit.
Ann tersenyum lega, napasnya mulai kembali rileks dan tenang. Ia membuka laman news update di ponselnya, mencari berita tentang Daren di beranda Selebritis. Dan benar, sebuah artikel muncul di sana.
"PERNYATAAN DAREN THOMAS TENTANG SOSOK MISTERIUS WANITA PENYEMANGAT DI BELAKANG KESUKSESANNYA. SIAPAKAH WANITA ITU?"
Senyum Ann semakin merekah senang. Akhirnya setelah sekian lama hubungan mereka berdua tak terendus media, kini ia dan Daren bisa menikmati waktu dengan bebas tanpa takut ketahuan lagi.
"Thank you, Daren," bisik Ann penuh haru sambil mengusap foto Daren yang muncul di layar ponselnya.
Hati Ann menghangat hanya dengan membayangkan Daren yang selalu memperlakukannya spesial dengan bisikan kata-kata mesra. Secuil rindu yang mengendap di relung hatinya selama dua minggu ini sontak membuncah dengan liar mencari muara. Dan kini, Ann telah menemukan muara itu di diri Daren. Kekasih sejatinya.
__ADS_1
*******************