
Seperti biasa di kala menjemput Daren, Ann selalu menunggu kekasihnya itu di kejauhan. Tepat di saat Daren keluar dari kantor Agency-nya, Ann akan melajukan mobilnya perlahan-lahan dan Daren akan masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru.
"Sudah tadi?" tanya Daren seraya melepas tas ranselnya dan melemparnya ke kursi belakang.
"Lumayan. Kita mau makan di mana, nih?" Ann balik bertanya sambil tetap serius dengan kemudinya.
"Sini biar aku yang nyetir, Beb. Minggirin dulu mobilnya," pinta Daren.
Ann menurut, ia melirik spion kiri dan meminggirkan mobil. Daren keluar lantas berlari mengitari kap depan mobil dan membuka pintu kemudi. Seperti biasa, Ann berpindah posisi tanpa keluar dari mobilnya.
"Gimana kemarin setelah ngobrol sama laki-laki itu? Kalian nggak berantem parah, kan?"
Ann menoleh pada Daren. "Nggak, kok. Dia ngerti."
"Baguslah. Jadi lain kali kalo kita keluar berdua gini, dia nggak perlu ikut campur!" Rahang Daren mengatup rapat.
Ann membuang muka ke luar jendela, sekelebat tatapan Kian yang menyayat hati saat di lift kembali melintas di kepalanya.
"Selama kalian di Jeju kemarin, dia nggak kurang ajar kan sama kamu?"
"Nggak. Dia sopan banget. Kami juga jarang mengobrol."
__ADS_1
"Hm, baguslah!" Daren menghembuskan napasnya lega.
"Oh iya, pagi hari sebelum aku berangkat ke Jeju, aku ngeliat kamu jemput seseorang. Siapa?"
"Jemput siapa?"
"Yaaa, mana aku tahu!" Ann mengedikkan bahunya cepat.
Daren berpikir sejenak. "Kamu berangkat hari apa emangnya?"
"Hari rabu tanggal 15." Ann melipat kedua tangannya di dada dan menatap Daren dengan tajam.
Daren tak menyahut, ia sedang berpikir dan mencoba mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan minggu lalu.
"Owh, ya Tuhan! Itu syuting, Beb!" Daren terkekeh dan membelai rambut Ann dengan lembut.
"Bohong!" Ann menepis tangan Daren dan berpaling.
"Sumpah. Emangnya waktu itu kamu lagi di mana? Kok nggak nyamperin!"
"Gimana mau nyamperin, kamu langsung pergi gitu aja!" sungut Ann cemburu.
__ADS_1
"Hahaha ... tapi aku beneran lagi syuting. Nanti aku mintakan cuplikan adegannya sama sutradara dan aku kirim ke kamu kalo nggak percaya," janji Daren seraya menarik tangan Ann dan menggenggamnya erat.
Ann menghembuskan napas kesal. Jadi dia cemburu pada adegan bohongan!? Betapa bodohnya! Ann bahkan sampai pingsan saking syoknya kala itu.
"Mana mungkin aku jalan sama cewek lain selain kamu. Nggak ada, Beb. Aku udah cinta mati sama kamu!" ucap Daren yakin.
Ann menoleh dan menelisik sorot mata kekasihnya.
"Aku kurang baik apa coba, sudah di tinggal nikah, masih betah nungguin, masih cinta juga!"
"Salah sendiri nggak mau nikah sama aku!"
"Siapa yang bilang nggak mau? I will marry you! Tapi nggak dalam waktu dekat ini," sela Daren cepat.
"Ya sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Sudah nggak penting buat dibahas."
Daren mengeratkan genggaman jemari Ann. "Jangan pernah meragukan cintaku sama kamu hanya karena aku mengulur waktu untuk menikah dengan kamu, Beb. Never ever do that!"
Ann tak menyahut, tatapannya tiba-tiba tertuju pada sebuah papan reklame dengan foto seorang lelaki berseragam hitam. Ann seketika ingat pada Kian. Sekelebat aroma parfumnya melintas di indra penciuman Ann, membuat debaran-debaran hangat sontak berdenyut di dalam dadanya.
"Beb, kamu dengerin aku, kan?" Daren menarik tangan Ann dan menciumnya.
__ADS_1
Ann tersentak, ia menoleh pada Daren yang sedang menatapnya sesekali. "Iya. Aku denger, kok!"
***************************