(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Nona Perawat


__ADS_3

Hampir seminggu Kian di rawat di Rumah Sakit. Tak sedetikpun Ann meninggalkannya kecuali untuk mengambil keperluan Kian seperti baju dan membeli makan. Pekerjaan di kantor pada akhirnya Ann bawa ke Rumah Sakit dan ia kerjakan di sana sambil menunggui suaminya.


Beberapa kali Kian sudah berusaha membujuknya untuk pergi ke kantor dan melakukan hal-hal lain dengan normal namun Ann bersikeras menolak. Ia tak ingin meninggalkan Kian yang masih butuh bantuan meski untuk ke kamar mandi.


Teman-teman sedivisi Kian bergantian datang menjenguknya ke Rumah Sakit. Mereka harus bergiliran karena pihak Rumah Sakit melakukan screening yang ketat terhadap tamu yang datang menjenguk pasien. Dan setiap harinya hanya ada maksimal 3 orang tamu yang datang. Mengingat pasien harus beristirahat dengan maksimal agar cepat pulih.


Jonathan datang hampir setiap hari untuk mengecek keadaan menantu kesayangannya. Salah satu alasan kuat mengapa Ann bersikeras untuk tetap menjaga Kian adalah karena ancaman dari Papanya. Kian sendiri tak habis pikir, mengapa Jonatahan sangat suka mengintimidasi dan mengancam putrinya sendiri.


"Padahal Papa ngasi kita tiket ke Swiss loh. Harusnya sabtu besok berangkat, sih!" ucap Ann tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kian yang asyik memperhatikan keseriusan wanita itu saat mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Oh, ya?" sahut Kian singkat.


Sambil menutup laptopnya, Ann mengangguk cepat. "Nggak tahu deh masih bisa di refund atau nggak itu tiketnya."


"Kenapa kamu nggak berangkat aja sama dia?" cetus Kian seraya menyandarkan punggungnya yang mulai pegal karena sedari tadi duduk tegak.


"Sama Daren?"

__ADS_1


Kian mengangguk samar, ia membuang muka keluar jendela.


"Emangnya kamu nggak apa-apa, nih, ditinggal sendiri selama seminggu?"


"Tidak apa. Memangnya kenapa?" sela Kian cepat.


"Terus yang nyeka kamu dan bersihin luka kamu siapa? Suster?"


Kian mengangguk lagi seraya tersenyum lirih.


"Kan sudah jadi kewajiban mereka ngerawat pasien yang sakit."


"Justru aku lah yang lebih berkewajiban ngerawat kamu, kok malah Suster, sih!" sungut Ann cemberut.


Kian terkekeh, kali ini gerakan tawa tak lagi menimbulkan rasa nyeri pada luka operasinya. Namun Kian harus tetap waspada untuk tidak terlalu banyak bergerak.


"Kamu tidak bosan mendekam di ruangan ini tiap hari?" tanya Kian iba. Ann adalah wanita bebas yang aktif dan enerjik, menahannya di sini membuat Kian merasa bersalah.

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang, aku berkewajiban jagain kamu. Memangnya kalo aku yang sakit, kamu akan ninggalin aku terus gitu?" elak Ann seraya berdiri dan melangkah ke jendela, menutup tirai agar sinar matahari yang terik tak membuat silau seisi ruangan.


"Yaaa tergantung. Kamu kan punya dua pilihan."


Ann menoleh pada Kian dan mengernyit bingung.


"Kamu punya Daren. Kenapa nggak minta jagain sama dia aja!" lanjut Kian akhirnya.


Ann memutar bola matanya dengan gemas lantas beringsut duduk di samping ranjang Kian yang lebar.


"Hei, Tuan Pahlawan. Kamu rela selamatin anak kecil dan bertaruh nyawa tapi kamu pamrih sama istrimu sendiri, huh?!" cecar Ann tak terima.


Kian tertawa, kali ini lebih lebar dan lama. Melihat sorot mata Ann yang selalu menatapnya dengan tajam saat sedang marah atau berdebat membuat Kian merasa puas bila berhasil menggodanya.


"Ya sudah, maaf ya, Istriku. Aku janji kalo suatu saat kamu yang sakit, aku akan jagain kamu 24 jam sampai kamu sembuh." Kian membalas tatapan Ann dengan teduh. "Tapi kalo aku boleh memohon sama Tuhan, lebih baik biar aku aja yang sakit daripada kamu," timpalnya lirih. "Kamu harus selalu sehat, Ann. Karena kamu harus jaga dan ngerawat Papa, dahulukan Papa dibanding aku. Apapun yang terjadi suatu saat  nanti."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2