(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kamulah yang Pertama


__ADS_3

"Kamu menyukainya?"


Kian mengecup pipi Annastasia saat tangan istrinya itu memainkan buwung di bawah sana. Setelah mencoba menembus dinding pertahanan itu berkali-kali, akhirnya Kian berhasil dan mereka berdua menikmatinya tanpa membuat Ann merasakan kesakitan lagi.


Bahkan Ann seolah tak rela saat Kian harus menyerah di lima menit pertamanya. Ann ingin terus merasakannya lagi, lagi dan lagi.


"Kian ..."


"Hmm."


"Setelah ini, kamulah yang menghandle perusahaan Papaku."


Kian terbelalak, ia mengawasi manik mata Ann yang sedang menatapnya. "Aku tidak bisa."


"Kenapa tidak bisa? Kamu bahkan belum mencobanya!"


"Aku tidak suka bekerja di belakang meja, Ann."


Ann mencebik sedih. "Tapi aku ingin segera hamil, Kian. Aku tidak mau menundanya lagi!"


Mendengar permohonan istrinya yang mengiba itu membuat Kian akhirnya menyerah. "Baiklah, tapi aku tidak berjanji bisa melakukannya sebaik kamu."


"Kamu pasti bisa, Kian! Selama kita mengobrol tentang pekerjaanku, kamu selalu bisa mengimbangi bahkan memberi jalan keluar yang nggak terpikirkan olehku."


"Itu karena aku sok tahu ..." Kian terkekeh sendiri.


Ann kembali mencebik, membuat Kian semakin gemas dan ingin menidurinya lagi.


"Kamu sudah menanamkan benih kecebongmu di sini. Apa kamu yakin masih tega lihat aku kelelahan, huh?"


"Baiklah, baik, Istriku. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau," sela Kian mengalah. Ia mengecup bibir tipis itu sekali lagi.


"Btw, kamu suka anak pertama kita cowo atau cewe?" tanya Ann sembari kembali bersandar di dada bidang Kian dengan manja.


Kian berpikir sejenak. "Sepertinya memiliki keduanya akan seru, seperti Roy dan Rey!"


"Nggak mau! Aku nggak mau punya anak cewe!" tukas Ann kesal saat Kian menyebut nama Rey.


Kian membelai rambut Ann dengan lembut. "Memangnya kenapa?"


"Aku nggak mau punya anak cewek seperti Rey! Pasti akan sangat merepotkan saat harus berebut perhatianmu!"


"Apa? Hahaha ..." tawa Kian sontak membahana mendengar penjelasan istrinya.


"Aku mau semua perhatianmu hanya untukku, Kian. Bukan yang lain!"


"Iya." Kian mengecup pucuk kepala Ann dengan mesra. "Baiklah, semuanya milikmu, Ann."

__ADS_1


Dengan usil Kian menarik tangan Ann dan membawanya kembali bawah sana yang mulai menegang. Ann terkesiap, apakah Kian menginginkannya lagi? Setelah empat kali mereka melakukannya setengah hari ini?


"Aku lapar, Kian ..." rengek Ann akhirnya sembari mendongah dan mengiba seperti anak ayam yang meminta makan pada induknya.


"Baiklah. Ayo kita makan dulu."


Ann tersenyum riang dan lebih dulu bangkit dari atas tubuh Kian namun sayangnya lelaki itu masih tak rela melepasnya. Ann kembali terjatuh di dada bidang dan hangat itu sekali lagi.


"Kiaaaan ...."


"Cium dulu, baru setelah itu aku akan memasakkan sarapan untuhmpp--"


Ann lebih dulu meloloskan permintaan Kian sebelum suaminya itu meminta. Ciuman yang membuat Kian ketagihan. Dan pada akhirnya, ciuman itu berubah menjadi desa-han saat dengan liciknya Kian mencuri-curi kesempatan. Ia kembali memasukkan milikknya ke dalam sangkar yang masih terbuka lebar.


"Kian ... stop, uhhh ..." Ann kembali mende-sah saat hendak menolak gesekan yang memabukkan itu.


"I love you, Ann ..."


Satu jam setelahnya di meja makan, Kian menyuapi istrinya sembari menonton tivi. Keduanya telan-jang, tak lagi malu untuk membelai, mencium bahkan mengusap bagian favorit masing-masing.


"Bagaimana kalo malam ini kita mengundang wanita siluman itu makan malam di sini?" usul Ann tiba-tiba.


Kian menghentikan kunyahan di mulutnya dan melirik Ann keki. "Kamu mau berdebat lagi dengannya?"


"Nggak lah! Hahaha ..." tawa Ann keras. "Aku malah mau berterima kasih sama dia. Dia sudah berjasa karena kembali menyatukan kita!"


Napas Kian yang sedari tadi tertahan sontak terhembus lega. "Baiklah, aku akan menelefonnya, bisa minta tolong ambilkan ponselku di meja?"


"Thanks." Kian mengecup bibir Ann singkat. Ia menyerahkan piring yang masih penuh itu pada Ann dan mulai menghubungi nomor Cinta.


"Halo, Mas Kian."


"Halo, Cinta. Kamu lagi di toko bakery?" tanya Kian cepat.


"Sekarang hari jumat, Mas Kian. Toko tutup."


"Oh iya benar, maaf aku lupa! Apa nanti malam kamu ada acara? Aku dan Ann mengundangmu makan malam di rumah kami."


Terdengar suara tawa Cinta di ujung sana. "Apakah kalian sudah berbaikan? Wah .. wah, sepertinya aku mencium aroma-aroma keringat nih!" godanya.


Kian menggaruk keningnya keki. "Ajaklah Roy dan Rey juga, oke? Kami menunggumu, bye!"


Tit.


Kian memutuskan sambungan telefon itu sebelum Cinta menggodanya lebih jauh. Ia lelas melempar ponselnya ke sofa di sebelah.


"Sudah?"

__ADS_1


Kian mengangguk sembari kembali mengecup bibir Ann dengan mesra. Entahlah bibir tipis yang dulu selalu mengumpat, berkata sinis dan menghina Kian itu seperti memiliki magnet yang kini selalu menariknya.


"Aku lupa kalo hari Jumat toko selalu tutup," lirih Kian.


"Kenapa tutup di hari Jumat?"


Kian mengedikkan bahunya. "Yang sempat aku dengar dari karyawan di sana, Cinta selalu berkunjung ke makam seseorang setiap hari Jumat."


"Seseorang?" tanya Ann heran. "Mungkinkah Papanya si kembar?"


"Mungkin ..." Kian menerawang sejenak. "Cinta selalu mengatakan pada di kembar bila Papanya sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi."


Ann menghembuskan napasnya berat. Entah mengapa ia jadi iba pada wanita siluman itu!


Cup.


"I love you!" ucap Kian saat menyadari bila istrinya tiba-tiba mellow. "Aku tidak akan menjadi seperti suami Cinta yang  pergi dan tak pernah kembali."


.


.


.


Sementara itu, belasan kilometer dari Penthouse Ann dan Kian. Cinta menatap tajam pada batu nisan marmer bertintakan emas itu cukup lama.


"Hai, Hari. Aku menunjungimu lagi." Cinta menaburkan bunga yang ia beli dari toko bunga di depan makam elit tersebut.


"Aku sudah menepati janjimu untuk tidak muncul di depanmu lagi usai kejadian itu. Tapi aku datang lagi saat kamu sudah tidak bisa melihatku dan anak-anak." Cinta tersenyum kecut. "Bagaimana rasanya? Nikmat sekali bukan mati penasaran karena tidak tahu jika benihmu ternyata tumbuh dengan baik bersamaku!"


Perlahan Cinta bangkit dari sisi makam dan kembali menatap batu nisan itu dengan tatapan kosong.


"Semoga istirahatmu damai di alam sana. Tenanglah, selamanya kamu dan keluargamu tak akan tahu tentang si kembar, karena selamanya mereka hanya milikku!" kecam wanita berpakaian serba hitam itu sambil memberi penekanan di akhir kalimatnya.


Dengan langkah santai, Cinta pun berbalik pergi meninggalkan pelataran makam elit yang hanya di tempati oleh para konglomerat. Makam itu menjadi saksi bisu tentang kisah kelam masa lalunya yang ingin ia kubur dalam-dalam bersama jasad lelaki pengecut itu di dalamnya. Cinta tak lagi dendam, ia semakin merasakan hidup dalam kedamaian setelah mengetahui kabar bila Ayah biologis Roy dan Rey itu meninggal karena kecelakaan. Dan yang lebih membuat Cinta lega adalah, orang yang paling ia takuti akan merebut si kembar kini telah mati tanpa ia pernah tahu bila perbuatan terlarang itu menghasilkan benih yang kini tumbuh sehat, lucu dan pintar.


Cinta semakin berlalu pergi, masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan makam bernisan tulisan emas dengan pahatan nama "Hariyandi Mahaputra".


...****************The End****************...


Bestie! Terima kasih telah setia membaca kisah Ann dan Kian sampai akhir.


Cerita tentang Kian dan Ann masih panjang, namun otor akan menyelipkan kelanjutan cerita tentang mereka di karya otor yang lain! Itulah mengapa semua karya otor akan berkaitan satu sama lainnya.


Misteri tentang kisah Cinta nanti akan otor buatkan ceritanya ya! Pastinya lebih seru. Bila ingin tahu siapa itu 'Hariyandi Mahaputra' silahkan membaca karya otor yang berjudul "Gadis Cacat Sang Kaisar".


Once more, sampai jumpa di karya otor yang lain ❤️ jangan bosan-bosan mampir dan baca ya!

__ADS_1


Salam sayang,


UmiLovi a.k.a Lalovi


__ADS_2