
Menjelang malam, Kian dan Ann memutuskan untuk pulang. Suasana jalanan yang cukup lengang membuat mobil melaju dalam kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Ann yang masih sangat syok dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui tak sekalipun membuka mulut. Ponselnya yang berdering berkali-kali di dalam tas pun tak ia pedulikan sama sekali.
Sementara itu, Kian yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa menghela dan menghembuskan napasnya beberapa kali sembari tetap fokus pada kemudi.
Krukk krukk ...
Suara perut Kian yang kelaparan sontak membuat Ann menoleh pada lelaki di sampingnya.
"Kalo kamu lapar berhentilah dulu untuk beli makan," perintah Ann lirih, suaranya terdengar sangat tak bersemangat.
"Tidak apa, aku makan di rumah saja nanti. Kamu juga belum makan, kan? Biar aku masak sesampainya di rumah," sahut Kian tak enak hati. Bagaimana mungkin ia bisa enak-enakan makan sementara Ann bermuram durja seperti itu!
"Aku nggak lapar, Kian. Kamu aja makan sendiri."
__ADS_1
"Kamu hanya makan sedikit sewaktu di rumah Suster Narsih tadi. Bagaimana bisa kamu bilang tidak lapar!"
"Aku nggak selera. Jangan memaksaku." Ann membuang muka dengan kesal.
Helaan napas Kian yang berat membuat wanita itu menoleh lagi padanya.
"Ternyata benar kata pepatah yang mengatakan bahwa menjadi nggak tahu itu lebih menenangkan. Sekarang aku menyesal sudah mengetahui kenyataan bahwa aku adalah anak yang nggak diinginkan oleh Mamaku," sesal Ann dengan kepala tertuntuk.
Kian terdiam, bibirnya seketika kelu untuk bersuara. Posisinya dan Ann saat ini sama, anak terbuang yang tak diharapkan hadir di dunia.
"Kamu sempurna, Ann. Di mataku kamu sangat sempurna. Bagaimanapun masa lalumu, jangan pernah membuatmu terpuruk. Kamu masih memiliki Pak Jonathan yang sangat menyayangimu."
Ann tersenyum kecut, ia berpaling dari tatapan tajam Kian padanya. "Kamu hanya belum tahu bagaimana rasanya, Kian!" rutuk Ann dengan wajah kaku.
__ADS_1
Mendengar hal itu, sontak Kian menepikan mobil yang ia kendarai dan berhenti. Ann yang tak siap saat tiba-tiba Kian membelokkan mobilnya ke kiri hanya bisa memekik tertahan.
"Aku tahu, Ann. Aku tahu persis bagaimana rasanya dibuang. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi anak yang tidak diharapkan oleh orang tua. Aku sudah lebih dulu tahu hal itu puluhan tahun yang lalu dibanding kamu, dan bisakah kamu bayangkan bagaimana rasanya melalui rasa sakit itu seorang diri?" cecar Kian sambil membalik tubuh Ann dan mencengkram erat kedua bahunya.
"Kian, kamu menyakitiku." Ann melirik lengan Kian yang terulur di bahunya.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini terjadi bukan karena salah kita. Kita hanyalah korban, Ann. Tolonglah, jadilah kuat seperti Ann yang dulu pertama kali aku kenal," pinta Kian memohon.
Ann tergugu, napasnya tertahan setelah mendengar ucapan Kian. Terlebih dua mata yang saat ini sedang menatapnya itu terlihat sangat tulus dan penuh cinta.
Melihat Ann tak merespon, Kian akhirnya melepas cekalannya dan kembali bersandar di kursi kemudi. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Mengapa sulit sekali membuat Ann yakin bahwa ia jauh lebih beruntung dibanding dirinya!! Kian menghela napas panjang, tangannya kembali mencengkram erat setir mobil dan bersiap untuk melajukannya kembali.
"Kian." Ann meraih tangan yang terkepal di setir mobil itu dan menariknya perlahan.
__ADS_1
...****************...