
Pukul 08.00 KST.
Kian dan Ann sudah berada di dalam mobil menuju Kota Seogwipo. Tujuan hari ini adalah Camellia Hill Botanical Garden. Ann bersikeras ingin mengunjungi tempat itu. Karena kemarin terjadi insiden, jadi acara jalan-jalan ditunda hari ini.
Satu jam perjalanan akhirnya mobil minivan hitam itu tiba dan parkir di dekat pintu masuk. Lukas membukakan pintu untuk Ann sementara Gilang, driver yang sejak kemarin menemani pasutri itu, membukakan pintu untuk Kian.
"Kalian menunggu di sini, kan?" tanya Ann memastikan.
Lukas dan Gilang mengangguk bersamaan.
Kian lekas menyangklong tas ranselnya dan mengalungkan kamera miliknya.
"Selamat bersenang-senang, Miss Ann dan Mas Kian!" teriak Lukas memberi semangat di kejauhan saat Ann dan Kian sudah hampir sampai di pintu masuk utama.
Ann menoleh dan mendengus jengkel. Kian yang menyadari bila Lukas sedang menggodanya hanya bisa mengabaikan.
Suara kicauan burung dan wangi bunga Camellia semerbak menyambut Ann begitu ia masuk ke dalam taman seluas 172.000 meter persegi. Karena mereka berdua datang di saat musim panas, hanya beberapa jenis bunga Camellia saja yang mekar.
__ADS_1
"Kita ikuti rute di peta ini, Ann." Kian sudah berdiri di samping Ann seraya membentangkan sebuah peta yang tadi ia minta dari petugas di loket.
Ann memperhatikan peta yang Kian tunjukkan untuk sesaat. "Nggak perlu, sudah ada papan petunjuknya, tuh!" Ann menunjuk sebuah papan tanda panah di setiap jalan.
"Tapi ini juga penting, biar kita nggak tersesat dan tahu rute yang mau di tuju!"
"Ah, kamu kaya Papa! Teratur banget hidupnya. Ngebosenin. Yuk, ah!"
Ann lebih dulu beranjak dari samping Kian dan berlari mendekati sebuah pot bunga besar.
"Ini bunga Hydrangea, kayanya kita ke sini di waktu yang nggak tepat. Sekarang lagi Hydrangea Season," gumam Ann lirih.
Setelah berjalan cukup jauh dan melihat berbagai macam jenis tanaman, mereka berdua tiba di Green House yang berisi berbagai macam bunga. Ada bunga Camellia juga di dalam sana, senyum Ann langsung merekah begitu melihat bunga itu mekar dengan sangat indah. Kian segera mengabadikan momen itu tanpa Ann tahu.
Keluar dari Green House, mereka tiba di dua kolam buatan yang sangat indah. Bunga teratai dan waterlily menghiasi kolam itu, membuat Ann kembali terpana. Angin sepoi-sepoi mengurai rambut Ann yang tergerai.
Cklik.
__ADS_1
"Duh, aku capek!" Ann menghempaskan tubunya di bangku kayu tak jauh dari kolam.
Kian mengeluarkan sebotol air mineral, memutar segel tutupnya dan memberikannya pada Ann.
"Makasih!" Ann menerima botol itu lantas meneguk isinya hingga tersisa separuh.
Kian akhirnya ikut duduk di sebelah Ann dan meluruskan kakinya yang mulai pegal. Jarak yang mereka tempuh sudah lumayan jauh, bahkan mungkin sudah separuh perjalanan.
"Kamu tahu nggak kenapa aku pengin banget ke sini?"
Kian menolehi Ann yang juga sedang menolehinya. Ia menggeleng pelan.
"Karena aku pengin melihat dengan mata kepalaku sendiri berbagai macam jenis bunga favoritku. Bunga yang namanya terselip di namaku."
"Annastasia Camellia Winata." Kian bergumam sendiri. Benar, kenapa ia tak terpikirkan hal itu.
"Filosofi bunga Camellia tuh indah banget, tahu! Dia terkenal sebagai bunga cinta abadi dan kesetiaan. Tahu kenapa?"
__ADS_1
****************