
Suara gemericik air shower dan uap panas yang ditimbulkan dari air hangat yang keluar dari sana, semakin membuat gelora di dalam tubuh Kian dan Annastasia membara. Setelah berdebat dan rebutan kamar mandi, akhirnya mereka memutuskan untuk benar-benar mandi berdua.
Untuk pertama kalinya, Ann melihat tubuh Kian tanpa sehelai benangpun, saat melihat luka diperut suaminya itu, air mata Ann kembali menetes. Ia mengusap luka itu dengan sedih.
"Maafkan aku dan Papaku, Kian ... hiks," lirih Ann tak kuasa menahan air mata. "Gara-gara kami, kamu jadi harus hidup dengan satu ginjal selamanya."
Kian merengkuh Ann dan kembali memeluknya. Meskipun ini kali kedua ia melihat Ann telanjang, namun rupanya ia masih sangat gugup. Kian masih bingung harus melakukan apa.
"Jangan bilang begitu, Ann. Aku bahkan rela menukar nyawaku untuk kalian." Kian hanya bisa mengeratkan pelukannya.
Menangis di bawah guyuran hangat air shower membuat seluruh tubuh Ann semakin terasa panas, entah karena emosinya atau karena benda keras milik Kian yang mulai tegang di bawah sana. Sesekali Ann meliriknya keki, apakah benda besar itu yang nantinya akan menusuknya? Oh, tidak! Pasti rasanya akan sangat menyakitkan, bukan??
Pikiran Ann tak lagi kalut pada rasa bersalahnya, ia justru ketakutan melihat senjata Kian yang telah menegang sejak mereka masuk ke dalam kamar mandi.
"Kian ..."
"Hmm ..." sahut Kian masih tak lepas memeluk Ann.
"Bisakah kamu turunkan itu?" Ann menunjuk buwung Kian dengan keki. Buwung itu terlihat seperti jari telunjuknya dalam versi puluhan kali lebih besar.
__ADS_1
Kian menunduk, ia memperhatikan miliknya yang memang sudah menegang sedari tadi. Tak bisa Kian pungkiri, nalurinya sebagai lelaki normal pasti menuntut lebih.
"Aku tidak bisa."
Ann mendongah. "Kenapa tidak bisa?"
"Karena dia sedang mencari sangkarnya."
"Ap--hmpp."
Belum sempat Ann menyela, Kian lebih dulu mencium bibir tipis itu. Sudah sejak tadi malam Kian menahan untuk tidak menciumnya, dan sekarang ia tak bisa mengulur waktu lagi.
Saat perlahan milik Kian hendak meringsek masuk, Ann mengernyit kesakitan. Ia mendorong Kian perlahan.
"Sakit, Kian," lirih Ann takut.
"Sakit?" Kian mengernyit bingung.
Harusnya gua Ann tak sesempit ini bila memang dia tak perawan, Kian merasa seperti sedang memasuki lubang semut.
__ADS_1
"Kamu masih perawan?" lirih Kian seolah tak percaya dengan miliknya sendiri.
"Tentu saja! Kamu pasti sudah teracuni sama pemikiranmu sendiri!" sungut Ann kesal sembari mengusap percikan air shower yang membasahi wajahnya.
Kian tersenyum lega, ia semakin semangat mendorong miliknya masuk.
"Tahanlah sedikit lagi, Ann. Nanti pasti sakitnya hilang."
Ann mengangguk pasrah, ia memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang besar dan keras itu terus berusaha mencari jalan di bawah sana. Hentakan demi hentakan membuat Ann semakin tersiksa.
Melihat Ann yang tak betah sakit itu terlihat sangat tak nyaman, Kian akhirnya menghentikan usahanya. Ia mengusap pipi Ann dengan lembut.
"Kenapa berhenti?" tanya Ann saat ia menyadari milik Kian tak lagi meringsek masuk.
"Aku ingin melakukannya di ranjang agar kamu bisa lebih santai."
...****************...
🫣 Otor nggak lihat! Otor nggak dengar! Otor nggak berani komen! Otor masih folozz ...
__ADS_1