(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Frustasi


__ADS_3

Semalaman Ann tak bisa tidur. Pikirannya melantur ke mana-mana. Ia tak habis pikir Daren tega membiarkannya menikah dengan lelaki pilihan Papanya. Ulu hatinya terasa sakit seperti tertusuk belati yang sudah berkarat, tersayat dan terlukai.


Tiga tahun menemani Daren tanpa pernah memprotes waktunya yang selalu dikalahkan oleh syuting, roadshow dan sederet kesibukan lainnya. Ann tak pernah meminta lebih. Ia selalu berusaha memahami posisi Daren dan mengalah padanya.


Mentari sudah menyapa sejak tiga jam yang lalu dan Ann masih betah bersembunyi di balik selimutnya yang tebal dan hangat. Hari ini ia sudah harus memberi keputusan pada Papanya. Dan ia sudah pasrah pada apapun yang akan terjadi nanti. Dengan siapapun ia akan menikah dan seperti apapun orangnya, mungkin dialah jodoh Ann yang sebenarnya.


Tidak. Ann tidak dibutakan oleh harta. Ia hanya berusaha realistis dan pasrah. Papanya benar, ia tidak bisa terus menerus menunggu Daren.


Perlahan Ann mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di sandaran ranjang. Tepat di saat itu, ponselnya bergetar di meja nakas. Ann meliriknya sekilas.


Love is calling...


Ann membuang muka dan membiarkan ponsel itu terus bergetar tanpa berniat untuk mengangkatnya. Hatinya terlanjur sakit atas penolakan Daren semalam, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan setelah semalam ia mengakhiri semuanya. Tidak ada lagi Daren dalam lembaran kisah hidupnya.


Ann turun perlahan dari ranjang dan memutuskan untuk mandi sebelum turun menemui Papanya. Rasa pening spontan mengganyang kepalanya saat Ann berdiri dan hendak mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Kurang tidur, makan tidak teratur dan depresi sepertinya membuat tubuhnya mulai memberontak. Sejenak Ann menghentikan langkahnya dan bersandar di dinding. Air matanya kembali menetes namun dengan cepat Ann menyekanya. Ia tak ingin lagi menangisi Daren.


Satu jam kemudian, Ann turun ke lantai satu menggunakan lift. Ia takut pingsan bila nekat turun melalui tangga. Kepala dan tubuhnya masih terasa ringan seperti kapas.


"Di mana Papa, Bik?" tanya Ann saat ia tak menemukan Papanya di meja makan.


"Di taman, Non. Sedang ngobrol sama tamunya tadi," sahut Bik Sum sopan.


Ann memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Ia meminta Bik Sum membuatkan seporsi omelet dan susu cokelat hangat secepatnya. Suasana hatinya boleh buruk, namun ia tetap harus mengisi perutnya dengan makanan.


Setengah jam kemudian, usai sarapan dan menghabiskan susu cokelatnya, Ann menyusul Papanya ke taman di bagian samping rumahnya yang megah dan luas. Ia menemukan Papanya sedang asyik mengobrol dengan seorang lelaki di gazebo di dekat kolam renang.


"Oh, itu Ann!" Papanya tersenyum lebar saat melihat Ann berjalan mendekat ke tempat mereka berdua mengobrol.


Jonathan berdiri dan menyusul Putrinya. Ia menggandeng Ann menuju gazebo tadi.


Ann memperhatikan lelaki yang duduk di gazebo dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Kian, kemarilah!" titah Jonathan saat ia melihat Kian masih duduk di tempat semula.


Lelaki bernama Kian itu berdiri, ia menatap Ann sekilas namun kemudian menunduk lagi dengan gugup. Kedua tangannya saling menggenggam dengan erat.


Ann memindai penampilan Kian. Not bad. Tingginya hampir menyamai Daren, bahkan mungkin lebih tinggi sedikit.


"Dia Kian, calon suamimu!"


Ann terbelalak. Ia menolehi Papanya dengan syok. Jonathan tersenyum dan mengangguk pasti. Ann kembali memperhatikan Kian yang sesaat lalu ia pikir hanyalah calon karyawan baru di rumah ini.


Penampilan Kian yang tadinya nampak lumayan keren seketika berubah menjadi sangat lusuh di mata Ann. Tidak mungkin ia menikah dengan lelaki dengan model begini?! Apa Papanya tidak salah pilih?? Bagaimana mungkin seorang Ann menikah dengannya? Apa kata dunia?!!


Kian mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ann. Cukup lama tangan itu terulur sebelum kemudian Ann menyambutnya dengan risih.


"Kian."


"Annastasia!"


Kian memperhatikan tangan Ann yang di gosokkan ke bagian belakang roknya dengan sedih. Kesan pertamanya pada Ann pastinya tak semenarik yang ia bayangkan.


"Kalian mengobrollah. Papa mau menelefon Lukas di dalam sebentar!" Jonathan memperhatikan Kian dan Ann.


Ann menolehi Papanya dan menggeleng sebagai kode bahwa ia tak ingin ditinggalkan sendirian. Namun Jonathan tetap tak acuh dan berbalik pergi. Ann mendesah kecewa.


Kian yang melihat itu lekas berbalik dan kembali duduk di gazebo. Ia paham bila tak mungkin Ann akan menyukainya secepat ini.


"Kamu kenal Papaku sejak kapan?!" tanya Ann penasaran.


Kian terkesiap. Ia menoleh pada Ann yang sudah menatapnya penuh selidik.


"Sejak dua tahun yang lalu."

__ADS_1


"Baru dua tahun dan Papa sudah nekat menikahkan Putrinya dengan orang yang baru ia kenal? Hebat! Pake pelet apa?"


Kian terhenyak. "Pelet?"


"Iya, pelet! Nggak mungkin Papaku bisa segampang itu nikahin aku sama kamu kalo bukan karena ilmu hitam yang kamu pake!"


Kian menggeleng cepat. "Saya tidak pernah memakai ilmu hitam apapun."


"Masa? Terus imbalan apa yang kamu dapet setelah kita menikah? Perusahaan? Rumah? Atau vila??"


"Kenapa berbicara seperti itu?"


"Nggak mungkin Papa nggak memberimu imbalan apapun! Aku tahu dengan jelas orang sepertimu pasti mengincar harta kami, ya, kan?!"


Kian menahan debaran di dadanya yang semakin memanas mendengar hinaan Ann. Tidak apa bila Ann tidak menyukainya, tapi menghinanya seperti ini jelas sangat keterlaluan.


"Sepertinya kamu salah menilai saya. Tolong jangan samakan saya dengan orang-orang yang kamu maksud. Dan tentang pernikahan itu, saya pun tidak menyetujuinya. Jangan berpikir saya akan dengan mudah menerima perjodohan ini." Kian berdiri dan menatap Ann dengan tajam.


Ann yang masih berdiri tak jauh dari Kian dengan tangan bersedekap di dada hanya merespon dengan senyum kecut.


"Bulshit!" desis Ann lirih.


"Saya datang kemari karena menghormati Pak Nathan sebagai orang yang telah banyak membantu saya dulu. Jangan salah tanggap dan mengira saya setuju untuk menikah denganmu!" jelas Kian.


Ann membuang muka. Nafasnya tertahan untuk beberapa saat setelah mendengar penjelasan Kian.


"Terima kasih untuk hinaanmu hari ini. Saya permisi." Kian menarik tas waistbagnya dan berlalu dengan tubuh bergetar menahan emosi.


Sekilas aroma parfum lelaki itu terendus indra penciuman Ann. Aroma kayu dan lime yang maskulin. Ann berbalik dan mengawasi lelaki bernama Kian itu pergi. Tubuh jangkungnya berjalan dengan cepat menyusuri koridor rumah Ann dan menghilang.


Ann mendesah letih. Ia tak bermaksud berkata kasar pada Kian, entah mengapa ia malah menjadikan lelaki itu pelampiasan amarahnya pada Daren. Padahal melihat penampilan Kian yang polos dan apa adanya, Ann yakin bila dia adalah lelaki yang baik. Ann kembali menoleh ke ujung koridor di mana Kian tadi melewatinya. Apa ia terlalu kasar??

__ADS_1


*****************


__ADS_2