(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Undangan Makan Malam + Makan Malam


__ADS_3

Sepulang dari meeting dengan Wedding Organizer, Kian langsung mandi dan memasak seporsi mie instan karena ia lapar lagi usai menandatangani surat perjanjian pernikahan itu.


Harga dirinya yang memang sudah musnah sejak Pak Nathan memintanya menikah dengan Ann, namun kejadian beberapa jam yang lalu sangatlah melukai martabatnya. Tanpa ada surat perjanjian itu, Kian juga tak mungkin berbuat sesuka hati pada Annastasia. Ia tahu diri dan sudah bisa memposisikan diri akan menjadi suami macam apa nantinya. Wanita independen seperti Ann tidak mungkin akan patuh pada Kian begitu saja.


Sambil melahap mie kuah yang tadi ia buat ekstra pedas dengan irisan cabe rawit, Kian mengetik sesuatu di keypad ponselnya. Nama Annastasia sudah tercantum dinomor tujuan. Dan tak sampai satu menit, pesan itu telah terkirim ke nomor Ann. Kian tersenyum kecut.


Dan esok paginya, mood jelek ternyata masih betah menghinggapi hati Kian. Ditambah perutnya yang bergejolak sejak subuh membuat Kian semakin tak bisa meredam amarahnya pada Ann. Perempuan itu bahkan tak membalas pesannya semalam. Kian bergegas mandi dan bersiap berangkat bekerja meski perutnya masih melilit dan diare gara-gara makan pedas semalam.


Setiba di ruang departemen setengah jam kemudian, beberapa teman nampak sedang berkerumun di kubikel milik Santi. Kian melewati mereka dengan tak acuh, ia memang tak begitu akrab dengan teman-temannya. Kian hanya menyapa mereka seadanya dan tak pernah bergabung saat mereka sedang bergosip.


"Betul kan yang aku bilang tempo hari, pasti Hendra deketin anaknya Pak Kuncoro biar dia bisa naik jabatan!" terdengar suara Santi saat Kian melewatinya.


Deg. Kian terkesiap, langkahnya terhenti dan ia menoleh pada kerumunan teman-temannya yang masih fokus menatap layar komputer. Sebuah berita online muncul di layar memperlihatkan foto salah seorang kru dari Departemen Electric bersama seorang wanita mengenakan pakaian pengantin.


"Eh, Kian? Udah dari tadi?" tanya Mbak Ninis yang hendak kembali ke mejanya begitu melihat Kian berdiri tepat di belakang mereka.


Beberapa teman Kian yang sedari tadi masih asyik memperhatikan layar komputer sontak menoleh pada Kian.


"Oh, nggak, Mbak. Baru aja," sahut Kian grogi karena beberapa sorot tajam dari wanita-wanita di Departemennya menjurus padanya.


Kian pun kemudian beringsut pergi dari sana dan berjalan cepat menuju kubikelnya. Ia tak ingin teman-temannya menyadari bila tadi Kian sempat menguping pembicaraan mereka.


Seketika itu pikiran Kian mulai berkecamuk akan berbagai hal. Hendra yang tidak pernah terekspos kisah asmaranya tiba-tiba menikah dengan putri Direktur Marketing. Nyali Kian menciut seketika. Lantas bagaimana bila kabar pernikahannya sendiri nanti tersebar luas?!


Kian menggeleng cepat. Tidak. Ia tidak mau menjadi topik gosip teman-teman satu perusahaan. Terlebih Ann adalah putri dari Komisaris yang menaruh saham cukup besar di perusahaan ini. Kian akan menjadi bulan-bulanan semua teman-temannya.


"Uhhh," rintih Kian lirih saat perutnya melilit lagi.


Ia buru-buru menarik kertas wishlist di mejanya dan berdiri. Sepertinya diare ini akan mengganggung aktivitasnya hari ini bila tak segera diobati. Sambil menahan rasa sakit, Kian berjalan cepat menuju toilet pria. Ia bahkan tak menyadari bila Risa sempat tersenyum dan menyapanya. Kian yang sudah kesakitan fokus untuk sampai di toilet secepatnya sebelum isi di perutnya keluar.


Tiga puluh menit kemudian.


Kian keluar dari minimarket yang berada di Upperground Stasiun Televisi tempatnya bekerja sambil menenteng kresek kecil berisi obat diare dan sebotol air mineral. Ia lantas naik lift lagi menuju Studio 3.


Lift mulai bergerak naik, Kian mengeluarkan obat itu dan lekas meminumnya. Ia harus segera menemui Pak Nathan sepulang dari kantor nanti. Tiba-tiba saja Kian jadi sangat khawatir pada rencana pernikahannya.


Tepat saat pintu lift terbuka perlahan, ponsel di saku celana Kian bergetar. Ia merogoh sakunya cepat.


Pak Nathan is calling...


"Halo, Pak."


"Kian, hari ini aku mengundangmu makan malam. Cepatlah datang setelah kamu pulang dari kantor!"


Kian tersenyum lega, ia pun juga sudah mempunyai rencana untuk menemui Pak Nathan, kebetulan sekali malah ia diundang makan malam.


"Baik. Saya akan datang, Pak!"


"Bagus. Aku akan mengirim alamat restorannya lewat chat."


"Baik, Pak Nathan."


Tit

__ADS_1


Kian menghembuskan nafasnya lega. Ia mengayunkan langkahnya ke Studio 3 dengan cepat. Hari ini ia hanya bertugas di satu acara yaitu merekam acara taping "The Path" tiga episode sekaligus.


"Eh, Risa!" panggil Kian saat baru menyadari seorang wanita melewatinya tanpa menoleh.


Risa juga sedang menuju studio yang sama dengan Kian. Mereka juga bertugas merekam acara yang sama. Risa menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ya?" tanya Risa saat Kian hanya diam mematung di belakangnya.


Kian menghembuskan nafasnya gugup, ekspresi Risa tak sehangat biasanya. "Kamu juga bertugas di sini?" Kian balik bertanya.


"Apa bertugas di satu segmen yang sama juga nggak boleh?" Risa kembali melempar pertanyaan.


Kian menggeleng cepat. "Oh, bukan begitu maksudku. Maaf. Ya sudah, ayo kita cepat stand by!"


Kian lebih dulu masuk ke studio dan bergerak cepat menuju kamera satu. Ia mengalihkan rasa gugupnya dengan mengecek kondisi kamera Canon yang selalu menjadi kamera favoritnya dan lighting yang masuk agar visual yang tertangkap kamera hasilnya sempurna. Para bintang tamu dan pembawa acara sudah bersiap di stage. Kian mendengarkan arahan dari sutradara lantas memasang headphone di kepalanya.


"Studio 3 standby ... crew standby ... camera 1 standby...!"


*********************


Makan Malam


Andai saja Risa tak pernah mengungkapkan isi hatinya, mungkin Kian tak akan sesalting ini saat bertemu dengannya. Rasanya sangat canggung sehingga mau tak mau Kian jadi sedikit menjaga jarak agar gadis itu tak semakin salah paham pada kebaikannya.


Tepat jam lima sore, Kian turun ke lantai satu dan check lock sebelum kemudian berlari ke tempat parkir motornya. Jam tujuh ia sudah harus tiba di Restoran mewah yang lokasinya cukup jauh dari rumah. Kian sudah memutuskan akan pulang dulu untuk mandi dan berganti baju. Ia tak ingin Ann menghinanya lagi seperti kemarin.


Tiga puluh menit perjalanan menuju rumah, satu jam melakukan persiapan dan hanya tersisa tiga puluh menit terakhir untuk ia sampai di Restoran itu tepat waktu.


Kian mengenakan kemeja berwarna biru pastel lengan panjang yang ia lipat sampai sebatas siku. Sambil menunggu Jonathan dan Ann datang, Kian memperhatikan pemandangan lampu-lampu kota dan lalu lalang mobil yang selalu menarik perhatiannya. Di Green Area, ia pun selalu memilih untuk menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di pinggir jendela hanya untuk bisa melihat gemerlap pemandangan indah kota di malam hari.


Kruk, kruk.


Kian meraba perutnya yang mulai keroncongan. Seharian ini ia tak berani mengisi perutnya dengan apapun karena khawatir tiba-tiba kebelet lagi. Ia sengaja menahan lapar dan tak ingin merusak momen penting makan malam ini. Kian harus mengajukan syarat pada Jonathan agar pernikahannya tak terendus siapapun.


Saat sedang mengedarkan pandangan untuk mencari waiters, tanpa sengaja Kian melihat seorang wanita yang selama beberapa hari ini mengguncang emosinya bak rollercoaster. Ann muncul dari balik pintu dan mengenakan setelan blazer berwarna merah dan sepatu berhak tinggi yang membuatnya terlihat sangat anggun dan cantik. Kian menahan nafasnya gugup, tanpa sadar ia menelan salivanya saat melihat rok di atas lutut yang Ann kenakan membuat pahanya terekspos bebas. Kian membuang muka, ia tak ingin nalurinya sebagai seorang lelaki membuatnya lepas kontrol menikmati paha mulus nan putih bersih itu.


Ann mendekat ke meja Kian dan duduk. Ia meletakkan tas mahalnya di kursi sebelah dan mengawasi wajah Kian yang merah padam karena grogi.


"Kamu sudah taβ€”"


Pet.


Tiba-tiba lampu Restoran mati. Ann tersentak dan menolehi sekitarnya yang seketika menjadi gelap gulita.


Kian pun tak kalah panik, ia benci gelap. Matanya mulai nanar mencari nyala lampu. Namun tiba-tiba saja sebuah lampu sorot menyala, berjalan cepat ke sebuah titik dan berhenti di tubuh Ann.


Ann terbelalak, ia menoleh pada Kian yang juga tak kalah kaget. Seorang waitres tiba-tiba sudah berdiri di samping Kian dan menyerahkan sebuket bunga mawar dan peony yang besar. Kian menerima buket bunga itu dengan ragu, dan perlahan lampu sorot beralih menerangi tubuhnya.


Satu lampu sorot lagi muncul, menyinari Ann. Kian akhirnya sadar, bila Jonathanlah dalang di balik semua ini. Jonathan menjebak mereka berdua agar seolah-olah Kian sedang melamar Ann.


Dengan jantung berdebar, akhirnya Kian berdiri dari kursinya dan berjalan ke kursi Ann yang berada tepat di depannya. Entah mendapat keberanian dari mana, Kian yang takut pada gelap tiba-tiba saja tak lagi panik seperti biasanya. Kian berdiri di samping kursi Ann, membungkuk dan memberikan buket bunga itu seperti adegan yang biasa ia lihat di film-film.


Ann yang tak menyangka akan mendapat kejutan semanis ini hanya bisa terperangah tak percaya. Ia menerima buket dari Kian dengan jantung berdebar.

__ADS_1


"Thank you, Kian," ucap Ann lirih.


Kian mengangguk dan tersenyum.


Prok-prok-prok...


Lampu seketika menyala di iringi riuh tepuk tangan para waitres dan tamu. Seorang waitres mendekat lagi, ia membawa nampan lengkap dengan sebuah box kecil berwarna biru pastel seperti kemeja yang Kian kenakan. Kian hanya termanggu saat waitres itu menyodorkan nampan itu padanya.


"Buat saya?" bisik Kian bingung.


Waitres itu mengangguk dan memberi kode pada Kian agar memberikan kotak itu pada Ann.


Kian mengangguk ragu, ia meraih box itu lantas berbalik. Tangannya yang sejak tadi masih gemetaran usai memberikan bunga pada Ann, semakin bergetar grogi saat kini yang ia bawa adalah kotak perhiasan yang entah apa isinya. Kian menatap Ann yang juga sedang mengawasinya.


Rasanya seluruh tubuh Kian ingin lenyap saat ini juga. Ia malu, entah mau disimpan di mana wajahnya nanti!


Kian mendekat ke kursi Ann dan kali ini memilih untuk berjongkok di dekat wanita itu. Ia membuka kotak kecil itu perlahan, isinya adalah sebuah cincin permata yang sontak berkilauan saat Kian menatapnya.


"Will you marry me?" bisik Kian parau.


Entahlah saat ini ia hanya mengikuti instingnya saja. Ia merasa seperti dijebak dalam situasi yang mengharuskannya berakting di depan orang banyak seolah-olah mereka berdua adalah pasangan yang sesungguhnya.


Ann menatap cincin yang Kian sodorkan dengan mata berkaca-kaca. Seharian tadi ia bahkan sangat kesal pada lelaki yang kini bersimpuh di depannya, melamarnya!!


"Ya, Kian," sahut Ann dengan suara bergetar menahan haru.


Kian menghembuskan nafasnya lega. Tadinya ia sangat takut bila Ann akan menolaknya di depan banyak orang. Perlahan Kian berdiri dan mengambil cincin itu lantas menyematkannya di jari Ann yang lentik.


Ann tersenyum, matanya berbinar sangat indah hingga tanpa sadar Kian seperti terhipnotis saat melihatnya. Baru kali ini Ann tersenyum semanis itu padanya. Kian tak menyangka bila Ann memiliki pesona yang tersembunyi di balik sifatnya yang angkuh.


Prok, prok, prok ...


Terdengar lagi riuh tepuk tangan dari orang-orang yang berada di dalam Restoran.


Wajah Ann bersemu merah di balik rambutnya yang ikal tergerai. Ia menunduk mengawasi cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang sangat sederhana dibanding puluhan cincin berlian yang ia miliki. Namun entah mengapa Ann sangat menyukainya. Kilauannya nampak sangat indah dan gemerlapan.


Kian kembali ke kursinya dengan jantung yang mungkin sekarang sudah berpindah tempat di lututnya. Ia malu, sangat malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia tak menyangka Jonathan akan menjebaknya di situasi seperti ini. Kian menghembuskan nafasnya perlahan sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.


"Terima kasih, Kian!" ucap Ann saat Kian sudah duduk lagi di depannya dan situasi telah kembali kondusif.


"Sama-sama," jawab Kian keki.


"Cincinnya sangat indah, aku suka. Terima kasih!" Ann sangat berbinar dan memperhatikan lagi cincin di jari manisnya.


Kian menghembuskan nafasnya bimbang, padahal ini semua bukanlah murni atas inisiatifnya. Tapi melihat Ann yang sangat bahagia mendapatkan perlakuan spesial ini, mau tak mau Kian merahasiakan siapa dalang di balik semua ini agar Ann tak kecewa padanya.


******************


Mon maap bab ini digabung ya, Bestie!


Otor khilaf πŸ˜…


Jan lupa jempol dan favoritnya!

__ADS_1


__ADS_2