
Kian mengawasi arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jam 20.30. Roy dan Rey baru saja tidur setelah Kian menemani mereka tadi. Selama dua hari ini Cinta sibuk di toko Bakery-nya karena banyak pesanan, ia sengaja meminta tolong pada Kian untuk mengawasi si kembar selama ia lembur.
Sambil bersenandung, Kian memencet tombol lift menuju ke lantai teratas. Ia sempat memasakkan nugget dan sayur oseng untuk makan malam si kembar tadi, aroma masakan melekat di tubuh jangkungnya yang semakin gendut karena jarang berolah raga dan beraktifitas. Selama sakit, Kian mendapat cuti spesial dari kantornya, alhasil ia tak melakukan banyak hal selain bermain dengan Roy dan Rey.
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan, Kian melenggang keluar sembari tetap bersenandung. Ia tak memperhatikan seseorang yang tengah menatapnya di meja makan. Seorang wanita yang selama tiga hari ini sekarat karena memikirkannya. Melihat Kian keluar dari lift tanpa memperhatikannya membuat hati Ann sedikit nyeri, apakah Kian memang tak melihatnya atau berpura-pura tak melihat?
"Kian."
Langkah Kian terhenti, tangannya yang terulur di handle pintu mendadak melayang di udara, debaran di dadanya yang mulai santai sejak Ann pergi sontak berdetak tak beraturan lagi. Kian menoleh ke asal suara yang tadi memanggilnya di meja makan, wanita yang selama tiga hari ini menghilang dari hari-harinya tengah berdiri di sana sembari menatapnya dengan sendu. Kian menghembuskan napasnya gugup, gemuruh debaran di dadanya berganti menjadi tusukan belati yang menghujam jantungnya.
Kian tak tahu harus merespon apa, rasa kecewanya pada Ann ternyata lebih besar dari rasa rindunya pada wanita itu. Kian hanya mematung di tempatnya berdiri, ia tak maju juga tak mundur.
Suasana mendadak menjadi hening dan kaku di antara keduanya. Ann dihujani rasa bersalah, sementara Kian lebih memilih untuk memendam rasa kecewanya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Ann saat ia tak tahu harus berkata apa.
Kian tak menyahut, ia memang belum makan malam, tapi makan malam bersama Ann sepertinya ide yang buruk. Kian masih belum siap untuk berdebat.
"Sudah," lirih Kian berdusta.
Ann mengangguk kikuk, ia menelan salivanya yang entah mengapa sangat susah untuk melewati kerongkongannya.
"Aku ... aku mau--"
"Kian, tunggu!"
Langkah Kian kembali terhenti, namun tangannya sudah mencengkram handle pintu dengan erat. Kian berharap bisa menyalurkan energi negatifnya pada handle besi itu.
"Aku mau minta maaf." Akhirnya kata itu meluncur dengan lancar dari bibir tipis Ann. "Aku tahu kamu kecewa, tapi aku bersumpah aku nggak melakukan apapun selama berlibur bersama Daren!"
__ADS_1
Kian tersenyum kecut, ia menghembuskan napasnya yang terasa sesak. Liburan berdua tanpa melakukan apapun? Sepertinya Kian lebih percaya gajah bisa terbang dibanding Ann berlibur tanpa melakukan apapun bersama Daren!
"Terserah kamu mau percaya sama aku atau nggak. Aku sudah berkata jujur kali ini!" timpal Ann bersikeras.
Kian kembali berbalik, ia menatap Ann dengan tajam. "Untuk apa kamu menjelaskan hal ini padaku, Ann? Bukankah aku tidak diperkenankan untuk mencampuri kehidupan pribadimu? Bukankah perjanjian di antara kita sudah jelas?"
Jderrr.
Bagai kilat yang tiba-tiba menyambar, Ann terhenyak mendengar pernyataan Kian. Sorot mata Kian sangat menakutkan, Ann pernah melihat sorot semacam ini kala Kian tengah menyuting acaranya di Stasiun Tivi dulu.
Pandangan tajam Kian beralih pada kaki Ann yang dibalut perban. Ekspresi dingin wajahnya berubah kala melihat kaki itu terluka. Kian penasaran ingin bertanya namun ia lebih memilih untuk kembali fokus pada emosinya.
"Bila tidak ada lagi hal penting yang mau dibicarakan, aku mau tidur."
Kian berbalik, ia menekan handle pintu dan mendorongnya. Hembusan napasĀ yang tak beraturan membuat suasana hati Kian semakin memburuk. Ann sukses membuat malamnya berantakan, Kian pasti tak akan bisa tidur nyenyak malam ini!
__ADS_1
...****************...