
"Kian, bangun!"
Gerakan memijat lembut di lengan Kian membuatnya membuka mata dengan lemah. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela membuat kantuk Kian seketika lenyap. Ia menoleh pada sosok wanita tua yang masih betah memijati lengannya.
"Nenek kok baru bangunin aku," lirih Kian serak sembari beranjak duduk.
Nenek Sofia tersenyum hangat. "Kamu semalam pulang larut banget. Mana tega Nenek bangunin kamu pagi-pagi."
Kian mengucek kedua matanya yang masih terasa sepat. Semalam ia pulang jam 2 dinihari karena teman satu shifnya mendadak sakit, alhasil Kian menggantikannya. Padahal pagi ini adalah jadwalnya mengantar Nenek Sofia kontrol ke Rumah Sakit.
"Aku mandi dulu ya, Nek." Kian turun dari ranjang sempitnya lantas bergegas ke kamar mandi di ruang tengah.
Satu jam berikutnya, usai sarapan dan memanasi motor maticnya, Kian membonceng Nenek Sofia menuju Rumah Sakit. Selama dua kali dalam sepekan, Nenek Sofia menjalani Hemodialisis atau cuci darah. Sudah dua tahun ini tindakan cuci darah itu rutin di lakukan. Tiap kali mengantar Neneknya kontrol, Kian akan bertukar shif dengan temannya dan kehidupannya yang mononton ini tak pernah membuat Kian mengeluh.
"Nggak usah digandeng, Kian. Nenek bisa jalan sendiri!" sungut Nenek Sofia sembari menepis tangan Kian yang mencengkram erat lengannya.
Kian menurut, ia membiarkan Nenek kesayangannya itu berjalan sendiri mendahuluinya. Di lorong menuju ruang untuk cuci darah, Kian melihat sosok yang sudah ia kenal sejak beberapa bulan ini tengah duduk di ruang tunggu.
"Itu Jonathan sudah menunggu kita, Kian! Ayo cepat!" Nenek Sofia berbalik dan memerintah Kian untuk mempercepat langkahnya.
"Iya, sabar, Nek."
"Kamu lelet sekali!" dengus Nenek Sofia sembari lebih dulu berlalu.
Saat melihat Kian dan Nenek Sofia datang dan mendekat, Jonathan sontak berdiri dan tersenyum hangat.
__ADS_1
"Halo, Nek! Hai, Kian!" sapanya berbinar.
Kian tersenyum dan menyalami Jonathan. "Selamat siang, Pak Nathan."
"Kenapa kamu belum masuk? Sudah jam berapa ini!" sela Nenek Sofia.
"Saya nungguin Nenek, nggak asyik kalo masuknya sendirian!" sahut Jonathan terkekeh sembari menggamit lengan Nenek Sofia dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan Hemodialisis.
Kian tersenyum sumbang menyaksikan keakraban keduanya. Ia beringsut duduk di ruang tunggu, masih 4 jam lagi tersisa sebelum mereka keluar dari ruang itu, jadi Kian akan memanfaatkan waktu yang lumayan ini untuk tidur.
Di kantin Rumah Sakit, 4 jam kemudian. Nenek Sofia, Kian dan Jonathan tengah makan bersama sembari mengobrol ringan.
"Apa masih gatal, Nek? Mau aku belikan obat?" Kian mengawasi Nenek Sofia yang terlihat menggaruk beberapa bagian di tubuhnya, salah satu efek samping Hemodialisis.
"Nggak usah! Nanti juga hilang sendiri. Cepat makanlah nasimu, kita harus segera pulang. Kamu masuk malam kan?"
"Pak Nathan baik-baik saja, kan?" tanya Kian akhirnya.
Jonathan tersentak, ia menolehi Kian. "Baik. Memangnya aku terlihat bagaimana, Kian?"
"Pak Nathan terlihat lebih kurus dari sebulan yang lalu. Apa Pak Nathan tidak merasakannya?"
Jonathan menggeleng cepat, ia lantas meneguk air mineral di hadapannya dengan gugup. Dokter mengatakan bila kondisi ginjalnya tak membaik meskipun telah cuci darah, semua itu karena Jonathan memiliki riwayat hipertensi.
"Kian bener, kamu terlihat semakin kurus, Nathan! Apa kamu yakin keadaanmu baik-baik saja?" Nenek Sofia mulai khawatir.
__ADS_1
"Baik kok, Nek. Malah tak pernah sebaik ini, setiap bertemu kalian saya selalu merasa lebih baik!" dusta Jonathan.
Nenek Sofia melirik Kian yang juga tengah menatapnya. Mereka berdua tahu bila kondisi Jonathan semakin memburuk, sama seperti keadaan beberapa orang yang pernah cuci darah bersama Nenek Sofia. Dan mereka berakhir dengan meninggal.
Namun kenyataannya, justru Nenek Sofialah yang lebih dulu meninggal dibanding Jonathan. Tiba-tiba saja di malam itu Nenek Sofia sesak nafas, beruntung Kian sempat membawanya ke Rumah Sakit. Keadaannya sempat stabil, bahkan sempat bergurau dengan Jonathan yang langsung datang menjenguk malam itu juga. Tapi nyatanya, beberapa jam setelah Jonathan pulang, Nenek Sofia menghembuskan napas terakhirnya.
"Kian, ayo kita pulang."
Kian menoleh lemah pada Jonathan yang masih setia menemaninya di pemakaman Nenek Sofia.
"Pak Nathan, ada satu wasiat dari Nenek yang harus saya sampaikan pada anda," ucap Kian lirih.
Jonathan tak menyahut, ia mengawasi raut wajah Kian yang muram.
"Nenek meminta saya untuk mendonorkan satu ginjal saya untuk anda."
Bola mata Jonathan terbelalak seketika, ia menggeleng syok. "Nggak, Kian. Tidak perlu sampai seperti itu."
"Ini adalah wasiat beliau sebelum meninggal. Tugas saya hanyalah menyampaikan, diterima atau tidak terserah anda, Pak."
"Aku nggak mau mengorbankan kamu, Kian. Kalo aku mau aku bisa membeli ginjal siapapun! Asal itu bukan kamu."
"Saya tidak akan mati hanya dengan mendonorkan satu ginjal saya. Justru saya dan Nenek ingin anda tetap hidup dan memulai kehidupan yang baru. Semoga anda bisa meringankan beban saya untuk memenuhi permintaan terakhir Nenek Sofia."
"Kian ..."
__ADS_1
"Saya mohon, tolong bantu saya untuk menunaikan permintaan terakhir Nenek Sofia, Pak Nathan! Hiks ..."
...****************...