
Tanpa Kian tahu, di balik pintu kamarnya, Ann sedang menguping pembicaraan lelaki itu dengan Papanya. Secuil rasa bersalah tiba-tiba menghinggapi hati kecil Ann. Kian selalu melindungi nama baiknya di depan Papanya, bahkan di saat-saat genting sekalipun.
"Thank you, Kian," desis Ann lirih.
Ia menarik napas panjang dan melangkah pergi dari depan pintu kamar lelaki yang sejak dua minggu yang lalu telah resmi menjadi suaminya. Suami pura-puranya. Ann beranjak naik menuju kamarnya sendiri di lantai dua.
Srek. Srek.
Ann berbalik ke kanan dan memejamkan mata. Sepuluh menit kemudian, ia berbalik lagi ke kiri masih dengan mata terpejam.
"Ahhh, sebel!" Ann merintih kesal.
Rasa bersalahnya pada Kian hari ini telah membuatnya tak bisa memejamkan mata. Sorot mata tajam dan dingin dari Kian tadi sore masih terasa menusuk-nusuk di hatinya.
Ann beringsut duduk dan bersandar pada bantalan ranjang. Ia menoleh pada sisi ranjang di sebelahnya yang masih luas. Ukuran ranjang ini sama persis dengan ranjang di hotel Jeju Island kemarin. Namun entah mengapa, ranjang di sana terasa lebih hangat dan membuat tidurnya lebih lelap. Apa karena saat itu ada Kian yang tidur di sebelahnya?
"Ck. Ayolah otak, kita tidur yuk! Besok jadwalku padat!" rengek Ann kesal pada dirinya sendiri.
Ia menoleh pada jam beker di atas meja nakas kecilnya, jam setengah 1 dini hari. Ann kembali merebahkan diri dan berusaha memejamkan mata. Namun hingga setengah jam, pikirannya masih melantur ke mana-mana.
"Hihhhhh, ini semua gara-gara kamu, Kian! Awas aja kalo kamu nggak bertanggung jawab!" cecar Ann seraya kembali duduk dan turun dari ranjangnya.
Ia menarik bantal miliknya dan beringsut keluar dari kamarnya sendiri lantas turun ke lantai satu. Cukup lama Ann berdiri di depan kamar Kian, ia sudah membawa kunci cadangan dan membuka pintu kamar Kian perlahan-lahan.
__ADS_1
Kamar yang terang benderang membuat Ann bisa menemukan sosok Kian dengan cepat. Lelaki itu sedang tidur tengkurap dengan memeluk bantal lusuh yang hampir dibuang oleh Ann tempo hari. Kian bahkan tidur masih dengan mengenakan seragam kerjanya.
Sambil mengendap-endap, Ann menghampiri ranjang Kian, mematikan lampu dan meletakkan bantalnya di sebelah lelaki itu. Jaraknya cukup jauh, jadi Kian tak akan menyadari keberadaannya.
Terdengar suara napas Kian yang teratur, Ann menghembuskan napasnya lega dan memejamkan mata. Setidaknya malam ini saja, ia akan menemani Kian untuk menebus rasa bersalahnya atas kejadian tadi sore. Ann menguap, kantuknya telah datang.
.
.
Dingin, sesak, sakit, dan gelap!!
Deg. Kian terhenyak, ia membuka mata dan sekelilingnya telah berubah menjadi gelap gulita. Apa sedang ada pemadaman? Mengapa penthouse mewah bisa mati lampu??!
"Kian, diam. Jangan nangis! Laki-laki tidak boleh cengeng! Hentikan tangismu sekarang."
Kian menelan salivanya dengan cepat, suara-suara itu mulai datang memenuhi kepalanya. Teriakan, desahann, tangisan, dan suara benturan semua bersahutan secara bergantian.
"To-long," desis Kian sekuat tenaga, sekujur tubuhnya mulai berkeringat dan gemetar ketakutan.
Plak.
"Bawa anakmu pergi dari rumah ini! Aku kan sudah bilang, jangan tunjukkan wajahnya padaku!"
__ADS_1
"Kian, masuk! Jangan keluar sebelum Ibu memintamu keluar!!"
"Ibu," rintihnya panik.
Kian menutup kedua telinganya dengan cepat. Ia benci gelap, traumanya pada kegelapan membawa memori buruk masa kecilnya kembali.
"Tolong," pinta Kian memohon entah pada siapa.
Tubuhnya sudah basah oleh keringat, sesak di dadanya semakin menjadi-jadi.
"Tolong aku, Ann," desis Kian ketakutan, matanya ****** menatap ke sekeliling kamar yang gelap pekat.
Kian ingin berteriak, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
"Ann, tolong," setetes air mata lolos lagi, Kian lekas menyekanya dan memeluk bantal Nenek Sofia.
"Brengsek, kubunuh kau!"
"Kian, lari!!"
"Ibu!!"
"Ibuuuu ... hah, hhh, Ibu."
__ADS_1
**************************