
Tok tok tok.
Kian mengetuk pintu kamar Roy yang tertutup rapat. "Roy, ini Om Kian. Bisa buka pintunya?" bujuknya lembut.
Rey berdiri di samping Kian dengan wajah harap-harap cemas. Ia tahu betapa Roy sangat membenci momen pertambahan umurnya. Dan setiap tahun Kakaknya itu selalu bertingkah seperti ini.
"Roy, open the door, please." Kian mengetuk lagi pintu itu dengan sedikit keras.
"He won't, Om. Roy benci acara ulang tahun."
Kian mengernyit heran, sepanjang yang Kian tahu, semua anak pasti akan bahagia saat momen ulang tahunnya tiba. Kenapa Roy justru sebaliknya?
"Kenapa dia benci ulang tahun? Tell me, Rey."
Kian duduk di samping Rey dengan bertumpu pada satu kakinya.
"Because--"
Cklik.
Kian dan Rey menoleh bersamaan, Roy tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan muncul dengan wajah muram. Kian kembali berdiri dan masuk ke kamar si kembar yang selalu menjadi tempatnya nongkrong bila berkunjung ke rumah Cinta.
"Kemarilah, Om ingin mendengar alasanmu." Kian menepuk ranjang Roy dan memintanya duduk.
__ADS_1
Dengan kepala tertunduk, Roy menghampiri Kian dan merangkak naik ke atas ranjangnya. Sementara Rey mengekor di belakang Kakaknya yang masih bermuram durja.
"Kenapa kamu tidak mau merayakan momen ulang tahunmu?" tanya Kian hati-hati.
Roy menarik napasnya dalam sebelum kemudian ia memberanikan diri menatap Kian.
"Karena aku dan Rey adalah anak yang tidak diharapkan oleh Mom. Jadi untuk apa kami merayakannya?!" ungkap Roy sebelum kemudian kembali tertunduk sedih.
Melihat ekspresi Roy yang nampak sangat terluka, entah mengapa Kian merasa ikut sakit. Apakah karena ia juga anak yang tidak diharapkan hadir di dunia??
"Roy, kenapa kamu bisa berpikir Mom tidak mengharapkan kehadiranmu? Bukankah selama ini Mom sudah merawat kalian dengan baik?" tanya Kian balik.
Roy menggeleng lemah. "Itu karena Mom terlanjur memilikiku dan Rey."
"No, Om Kian rasa bukan karena itu, Roy!" sela Kian memotong.
"Om tidak tahu dari mana kamu mengambil kesimpulan seperti itu. Apa mungkin karena kalian tidak memiliki Papa?"
Roy mengangguk lemah.
"Apa kamu pernah bertanya pada Mom di mana Papa kalian?"
"Mom selalu bilang bila Papa sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Kami tidak punya Papa sejak kami lahir."
__ADS_1
Kian menghela napas panjang. Ia memang tidak pernah mengobrol dengan Cinta perihal ini. Yang ia tahu Cinta tak punya suami, dan Kian tak pernah mengorek lebih jauh.
"Bila Mom tidak mengharapkan kehadiran kalian, harusnya kalian tak perlu lahir. Mom bisa saja membuang kalian, bukan? But she didn't." Kian mengelus rambut Roy dengan penuh kasih. Setidaknya alasan ini adalah alasan tersimpel yang bisa diterima oleh logika anak-anak.
Roy menolehi Rey, mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Kalian masih terlalu kecil untuk paham. Suatu saat nanti saat kalian sudah besar, kalian akan paham bila Mom sangat mencintai kalian berdua hingga mempertahankan kalian untuk hadir di dunia dan merawat kalian," jelas Kian berusaha menyederhanakan kata-katanya.
Roy kembali menarik napasnya dalam, ia membelai pipi Rey yang masih menatapnya penuh kasih. Dalam hati, Kian mulai merasakan rasa sayang pada dua anak yang memiliki latar belakang sepertinya ini.
"Yuk, kita keluar. Mom sudah menunggumu untuk merayakan hari bahagia ini bersama-sama!" ajak Kian sembari berdiri.
Roy tersenyum dan akhirnya menurut. Melihat kakaknya berubah pikiran, Rey meloncat girang dan menggandeng tangan kakaknya keluar dari kamar.
Drttt ...
Langkah Kian terhenti saat ponselnya bergetar di saku celananya. Apakah Ann lagi?
Kian merogoh ponsel itu, notifikasi yang muncul di layar menampilkan barisan nomor asing mengirimkan pesan. Tadinya Kian ingin acuh dan tak mempedulikan pesan itu namun lampiran foto yang muncul di notif membuat rasa penasaran Kian timbul.
Dengan gesit, Kian membuka pesan itu. Bukan hanya satu foto yang dikirim oleh pesan itu, ada lima file yang sedang berputar dan dalam proses terunduh. Kian menunggu foto itu tampil dengan jantung berdebar, foto siapa ini?? Apakah orang itu salah nomor?
Tapi tunggu, saat satu persatu foto itu berhasil terunduh, jantung Kian bukan lagi berdebar, dunianya terasa runtuh saat itu juga. Foto Ann yang sedang telanjangg terpampang dengan sangat jelas di layar ponselnya. Sepertinya angle foto ini diambil dari sisi ranjang, dan Ann tengah berdiri melepas pakaiannya.
__ADS_1
Tubuh Kian memanas detik itu juga, dadanya bergemuruh hebat. Tidak melakukan apa-apa, huh?? Bahkan Ann sudah melakukan lebih dari yang Kian kira! Wanita murahan!!
...****************...