
"Nenek Sofia dulu menamainya Nasi Sayur Sampah."
Ann terbelalak mendengar penjelasan Kian. Ia sontak menghentikan kunyahan makanan di dalam mulutnya.
Melihat Ann yang terkejut, Kian tak dapat menahan tawanya. Ia meletakkan sendok di tangannya dan tertawa.
"Kamu serius ini sayur sampah?" tanya Ann syok.
"Hahaha ... itu hanya nama, Ann. Sayurnya ya sayuran segar!"
"Terus kenapa dinamai sampah?" tukas Ann masih penasaran.
"Karena sayurannya bermacam-macam, belum lagi ada tambahan ayam, udang, tempe dan tahu. Penampilannya mirip sampah, kan?" jelas Kian sembari memungut lagi sendoknya, bersiap untuk melahap nasinya dan menyisihkan sayuran ke pinggiran piring.
Ann menghembuskan nafasnya lega. Tadinya ia pikir Kian benar-benar memasak sayuran yang berasal dari sampah! Ann terlanjur menelan separuh porsi dan sangat menikmatinya sedari tadi.
Suasana pun kemudian menjadi hening, hanya denting piring dan sendok yang terdengar bersahutan. Ann benar-benar kelaparan, menangis ternyata cukup menguras tenaga. Itulah mengapa Ann sangat benci menangis karena ia jadi gampang lapar setelahnya.
Kian memperhatikan Ann sesekali, sebenarnya tadi ia marah pada wanita yang sedang menikmati setiap suap masakan buatannya itu. Entah mengapa melihat Ann memeluk kekasihnya tadi, darah Kian seketika mendidih. Seharian ini ia dibuat melayang dengan semua tingkah laku Ann yang sangat manis, tadinya Kian pikir Ann sudah membuka hati padanya, namun ternyata ia salah! Kian terlalu naif.
"Kian, sepertinya kita harus merevisi surat perjanjian kita."
Kunyahan makanan di mulut Kian sontak tertelan.
__ADS_1
"Uhuk." Kian meraih gelas di sampingnya lantas meneguk isinya hingga tandas.
Begitu makanan yang tersangkut di tenggorokannya telah meluncur mulus ke dalam lambung, Kian menghembuskan napasnya lega.
Ann mengawasi Kian dengan heran. "Apa aku salah bicara?" lirih Ann bertanya.
Kian menggeleng dan meletakkan sendoknya dipiring. Ia tak lagi berselera untuk makan setelah mendengar perkataan Ann.
"Nasimu nggak dihabiskan?" Ann menatap nasi di piring Kian yang masih tersisa separuh.
Kian memperhatikan nasi di piring Ann yang sudah habis lantas mendorong piring miliknya ke arah wanita itu.
Mendapatkan rejeki nomplok, Ann tersenyum senang dan meraih piring Kian. Ia melahap nasi bercampur sayuran yang sangat enak itu tanpa mempedulikan Kian yang hanya bisa menggeleng takjub melihat selera makan Ann yang luar biasa. Dan tanpa menunggu lama, piring itu bersih tanpa tersisa nasi sebutir pun.
Kian menopang kedua lengannya di meja dan menatap Ann dengan serius. Belum reda kobar amarah di dalam hatinya, Ann kembali menyiramnya dengan pertamax turbo.
Ann mengusap ujung bibirnya yang basah dengan tisu lantas menghela napas panjang sebelum membuka mulut.
"Kita percepat proses perceraian kita. Karena menunggu setahun pun percuma, Papa sepertinya nggak akan menyerahkan ahli warisnya padaku sebelum aku hamil dan punya anak," terang Ann tanpa berani menatap Kian.
"Begitu?"
"Iya, begitu. Jadi kita akan berpisah tiga bulan lagi. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Apakah setelah itu kamu akan kembali padanya?"
Ann mengernyit. "Maksudmu Daren?"
Kian mengangguk dengan menahan debar panas di dalam dada. Tangannya mengepal tanpa bisa ia kontrol.
"Sepertinya begitu. Entahlah, aku belum memikirkannya sekarang ini. Fokusku adalah segera melepaskan ikatan kita agar kamu nggak perlu lagi menyiksa dirimu sendiri dengan tinggal bersamaku."
"Kenapa kamu selalu berpikir bila aku tersiksa hidup denganmu, Ann? Apakah aku pernah mengeluh?"
"Nggak. Justru dengan sikap baikmu yang seperti ini bikin aku semakin merasa bersalah sama kamu, Kian!"
"Lalu kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu sedikit saja untukku!?"
Deg. Ann tersentak. Ia menatap Kian dengan intens. Tatapan teduh dan tulus itu menusukkan sesuatu ke dalam hatinya.
"Maksudku ..., ah, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Ann!" lanjut Kian merevisi. Sepertinya ia terlalu jujur kali ini.
"Aku takut, Kian. Aku takut hatiku lama-lama goyah kalo tinggal lebih lama denganmu di sini."
Kian tersenyum kecut. Alasan macam apa itu! Apakah seburuk itu dia dimata Ann? Hingga Kian tak pantas untuk dicintai oleh wanita kelas atas sepertinya?
"Baiklah. Lakukan sesukamu, Ann. Seperti biasanya, aku hanya akan patuh pada semua kemauanmu," putus Kian akhirnya. Ia bersiap untuk berdiri dan kembali ke kamar.
__ADS_1
"Tunggu, Kian."
...****************...