
Kian terbelalak, napasnya sontak tertahan melihat Ann membuang bantal miliknya ke tempat sampah.
"Apa yang kamu lakukan!?" sentak Kian tanpa sadar dengan suara meninggi.
Ann terlonjak kaget. Ia menoleh ke pintu dan menatap Kian tengah melotot marah padanya.
Kian membuka pintu dengan lebar dan melangkah cepat ke tempat sampah untuk memungut kembali bantal yang sudah Ann lemparkan ke sana.
"Bantal itu menjijikkan, Kian! Aku nggak suka lihatnya!" terang Ann sambil menunjuk bantal kumal didekapan Kian.
Mendengar Ann menghina bantal kesayangannya membuat Kian mendengus marah, ia menatap wanita dihadapannya ini dengan tajam. "Jangan pernah menyentuh barang-barang milikku! Bukankah kamu sendiri yang membuat perjanjian untuk tidak mencampuri urusan privasi masing-masing!"
Ann terperanjat mendengar umpatan Kian padanya. Selama ini ia melihat Kian sebagai sosok lelaki paling sabar sedunia. Hanya karena sebuah bantal kumal dan jelek, ia bahkan membentak Ann seperti ini??
"Kamu membentakku cuma gara-gara bantal jelek itu?!" tanya Ann terheran-heran.
Kian menghela napasnya yang beradu cepat tanpa bisa ia kontrol lagi. "Ini bantal milik Nenekku. Jangan pernah kamu berani menyentuhnya, apalagi membuangnya seperti tadi!"
Ann terhenyak, bibirnya seketika kelu. Tapi bantal itu sudah sangat lusuh dan kumal, bagaimana bisa Kian tidur nyenyak di dekat bantal menjijikkan seperti itu.
"Keluarlah. Bereskan barang-barangmu, nanti sore supir Papa akan menjemput kita."
"Aku nggak mau pergi, Kian! Kenapa sih kalian maksa banget!"
__ADS_1
"Kamu pikir aku juga mau pergi, huh? Kamu pikir aku senang?!" tukas Kian kesal.
"Aku memang pengin banget pergi ke sana, tapi nggak sama kamu!!" teriak Ann tak kalah kesal.
Kian terdiam, ada rasa sakit yang tiba-tiba mencubit hatinya. Ia berelaksasi sebentar dan membuang muka untuk menetralkan amarah yang menguasai pikiran dan tubuhnya.
"Baiklah. Pergilah dengan lelaki itu nanti malam," putus Kian berat hati.
Ann mengawasi Kian tak percaya, bagaimana Kian bisa tahu bila Ann hanya ingin mengunjungi tempat itu dengan Daren.
Dengan lemah, Kian menarik tiket itu dari saku celananya dan melemparkannya pada Ann. Ia juga merogoh Pod milik wanita itu dan menyodorkannya cepat.
"Keluarlah," perintah Kian menahan sakit, bantal milik Nenek Sofia masih ia pegang dengan erat di tangan kirinya.
Ann menatap Kian penuh kebencian, tangannya merampas Pod miliknya sembari memungut tiket yang berserakan di bawah kakinya.
Kian memejamkan mata saat pintu kamarnya ditutup dengan keras oleh Ann. Napasnya yang sedari tadi tak stabil perlahan mulai rileks saat wanita itu sudah pergi. Kian memperhatikan bantal berwarna biru muda yang sudah kumal itu dengan sedih. Ia lantas mendekatkan bantal itu ke hidungnya dan menghirup dalam-dalam aroma khas Nenek Sofia yang masih tersisa di sana. Perpaduan wangi mint dan eucalyptus sontak menusuk indranya, membuat Kian semakin merindukan sosok Nenek Sofia yang telah meninggalkannya pergi.
Sementara itu, dengan derap langkah yang penuh amarah, Ann masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu tak kalah keras dari saat ia membanting pintu kamar Kian tadi.
"Dasar laki-laki primitif! Nggak waras!" cecar Ann emosi sambil melempar tiket yang sedari tadi ia genggam ke meja.
Masih dengan emosi yang meluap-luap, Ann meraih ponselnya dan menekan angka 1 cukup lama. Panggilan ke nomor Daren otomatis terhubung dan Ann menempelkan ponselnya ke telinga. Tidak aktif.
__ADS_1
"Arrrggg!!" teriak Ann kesal.
Sudah beberapa hari ini sejak Ann resmi menikah dengan Kian, Daren memblokir nomornya. Ann tak memiliki koneksi yang bisa menghubungkannya langsung dengan Daren karena selama ini tak ada siapapun yang mengetahui hubungan mereka, bahkan Diki, manajernya, sekalipun.
Ann melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan bergerak cepat ke kamar mandi. Lebih baik ia langsung ke apartemen Daren dan meminta penjelasan padanya.
Beberapa jam setelah itu, Kian sedang memasak nasi goreng saat kemudian Ann turun dari lantai dua dan beringsut masuk ke dalam lift di sebelah living room. Tadinya Kian sudah menyiapkan dua porsi namun setelah melihat Ann pergi dengan tergesa-gesa akhirnya dia mengembalikan satu porsi nasi untuk Ann ke dalam magicom. Ann tidak membawa koper atau apapun, berarti wanita itu tak akan pergi lama, Kian membatin dalam hati.
Aroma bumbu nasi goreng yang Kian tumis di wok pan sempat tercium oleh Ann. Perutnya merespon aroma wangi itu dengan berkukuruyuk.
'Kian bisa memasak??' Ann bergumam dalam hati.
Tapi untunglah, jadi dengan begitu ia tak perlu sibuk merasa bersalah pada lelaki primitif itu karena tak memasakkan apapun untuknya.
Lift turun perlahan menuju basement. Ann menyandarkan tubuhnya pada dinding kaca di sebelah. Dosa apa yang telah ia lakukan hingga harus menikah dan tinggal bersama orang aneh macam Kian? Mengapa Tuhan begitu tega menggariskan takdirnya yang sudah ia rancang dengan indah,namun hancur seketika hanya dalam hitungan satu bulan?
Ann menghela napas berat di dalam lift yang sunyi. Belum juga seminggu ia menikah, tapi perang dingin sudah menghiasi rumah tangganya. Ia pun baru menyadari bila Kian ternyata sangat menakutkan saat sedang marah. Ann bergidik sendiri, pepatah yang mengatakan bila 'Tak ada yang lebih berbahaya dari marahnya orang sabar' itu ternyata benar. Beruntung tadi Kian tak berbuat kasar padanya.
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan, Ann mengayunkan langkahnya keluar dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling basement. Namun belum juga sampai di mobilnya, tubuh Ann terpaku menatap seseorang yang sangat ia rindukan ternyata berada di tempat yang sama.
Mobil Daren berhenti tak jauh dari tempat Ann berdiri mematung, hampir saja Ann berlari mendekat sebelum kemudian langkahnya terhenti ketika seorang wanita lebih dulu membuka pintu di kursi depan dan masuk. Ann terhenyak, napasnya tertahan, bibirnya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Tanpa sadar setetes air bening membasahi pipinya, Ann berbalik dan berlari masuk kembali ke dalam lift sebelum Daren menyadari keberadaannya. Dengan tangan gemetar Ann menekan tombol lantai menuju penthouse dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Pintu lift pun perlahan menutup tepat di saat mobil Daren melaju pergi.
__ADS_1
"Cut! Bagus!"
*********************