
Kian memang belum tidur saat ia mendengar sayup-sayup suara pintu lift yang terbuka. Ia menoleh ke jam dinding di atas meja. Jam 11.15 WIB. Jonathan baru pulang satu jam yang lalu, beruntung Ann tak bertemu dengan Papanya itu.
Usai makan malam dan mengobrol tentang masa lalu mereka berdua yang menyenangkan, Jonathan pamit pulang setelah jam menunjuk angka 10. Ia bahkan sempat berpesan pada Kian agar memarahi Ann saat nanti wanita itu pulang. Namun, jangankan memarahi, untuk bertemu dengan Ann saja rasanya Kian tak punya keberanian lagi. Ann sudah melihat sisi terapuh dari dirinya, Kian sudah tak punya nyali untuk sok bijak pada istrinya itu.
Setelah yakin bila Ann sudah kembali ke rumah dengan selamat, akhirnya Kian mulai dilanda kantuk. Sukmanya hampir saja dibawa mimpi saat suara ketukan di pintu sontak membuatnya sadar kembali. Kian menajamkan pendengarannya. Ann menggedor pintu kamarnya dengan tak sabar.
"Aku mau ambil bantalku!" teriak Ann dari luar.
Kian menoleh pada sisi sebelah ranjangnya, memang benar ada dua bantal yang bukan miliknya. Dengan sigap Kian menarik bantal-bantal itu dan berdiri.
"Kian!"
"Iya, sebentar!" sahut Kian dari dalam seraya memasang sandal.
Ia membawa bantal itu dengan satu tangan dan membuka kunci pintu. Sebelum membukanya, Kian lebih dulu menarik napasnya yang seketika memburu. Tidak, dia tidak boleh lengah. Dia hanya perlu mengembalikan bantal itu lantas kembali tidur.
Cklik.
"Nih!" Kian melempar bantal itu dengan cepat.
__ADS_1
Ann yang terkejut sontak terhuyung ke belakang setelah bantal-bantal besar itu menimpa tubuhnya.
Tak ingin Ann terluka, Kian reflek menarik lengan dan menahan tubuhnya. Ia terpaku sejenak, Ann begitu seksi dengan piyama-piyamanya yang selalu berenda. Tanpa sadar Kian menelan salivanya gugup. Saat ia merasa sesuatu mulai bereaksi di bagian bawah tubuhnya, sontak Kian melepas cekalan tangannya di pinggang Ann hingga wanita itu akhirnya jatuh terjerembab.
"Awww," Ann meringis menahan sakit di pantatnya.
Karena iba, Kian mengulurkan tangan untuk membantu Ann berdiri, namun wanita itu malah menariknya di saat Kian lengah hingga akhirnya ia jatuh menindihnya.
Saat tiba-tiba Ann menciumnya, Kian tak tahu harus merespon bagaimana. Ucapan Ann tempo hari yang memintanya menjauh seolah terngiang kembali. Di antara rasa bimbangnya, bibir tipis itu dengan lihainya ******* bibir Kian tanpa ampun. Ada sensasi manis dan lembut yang Kian rasakan, namun ia masih ragu untuk membalas ciuman itu.
Dan sekarang, tiga puluh menit kemudian. Kian masih bersandar di bantalan ranjang dengan mata terbuka lebar. Ia masih syok dengan kejadian ciuman itu.
"Ahh, sudah gila kamu, Kian!" rutuk Kian pada dirinya sendiri.
Perlahan ia mulai berebah dan menenggelamkan kepalanya di bantal Nenek Sofia.
Wajah Ann yang entah mengapa berubah sendu setelah Kian meningalkannya tadi melintas kembali.
'Tidak, jangan lengah!' Kian membatin dalam hati.
__ADS_1
Ciuman itu terjadi hanya karena terbawa suasana, tidak ada perasaan apapun di dalamnya. Bilapun ada, itu hanyalah nafsu sesaat yang pasti cepat musnah.
Ann sudah memintanya untuk menjauh, jadi tugas Kian hanyalah menurut. Mulai besok segalanya akan berubah seperti sedia kala. Ia tak akan lagi terjebak dalam situasi seperti malam ini. Kian mulai menguap, kantuknya kembali datang dan ia pun perlahan menutup mata.
Sementara itu di lantai dua, di kamar bernuansa putih dan biru, Ann termenung dengan jari telunjuk masih menempel di bibir. Kantuknya seketika lenyap.
Rasanya seperti mimpi, ia berciuman dengan dua lelaki dalam sehari! Apakah ia sudah gila?? Bagaimana bisa ia tergoda untuk mencium Kian yang belum lama tinggal bersamanya??
"Ahhhh, memalukan!" rintih Ann lirih, ia masih syok dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Tapi, Kian seperti lampu terang benderang yang membuat Ann silau, seperti magnet yang selalu menariknya untuk mendekat, dan ... bibirnya terasa manis. Ann menelan salivanya gugup, ia tak pernah merasakan rasa manis saat berciuman dengan Daren selama tiga tahun berhubungan. Hanya ciuman yang panas dan penuh gairah yang Ann rasakan ketika bersama Daren. Dengan Kian, rasanya sangat berbeda. Apakah karena Kian tak merokok?? Ann termanggu sejenak. Tidak, pasti bukan karena itu!
Meskipun malu karena Kian tak membalas ciumannya, namun Ann sadar bila hal itu pasti karena sikap Ann yang plin-plan. Sungguh, Ann sendiri tak paham dengan apa yang ia inginkan! Separuh hatinya tak ingin ditinggal oleh Daren, namun separuhnya lagi takut kehilangan Kian.
Andai ia mengenal Kian lebih dulu, mungkin Ann akan jatuh cinta padanya lebih awal. Tapi, tidak! Kian tak memiliki kriteria lelaki idamannya, meskipun Ann bertemu Kian sebelum ia mengenal Daren, tak mungkin Ann akan menyukainya.
Ann melirik ponselnya di meja nakas, ia mengetuk layarnya sekali untuk melihat jam berapa sekarang. Jam 1 dini hari! Ann mendesah panjang, sepertinya ia akan susah tidur lagi kali ini. Setelah kejadian ciuman itu, tak mungkin Ann berani menunjukkan muka pada Kian. Ia malu. Terlebih setelah Kian mengingatkannya kembali pada ultimatumnya untuk menjauhi Ann tempo hari.
...****************...
__ADS_1