
Tiba di rumah setelah hampir seminggu lebih di rawat di Rumah Sakit tentu membuat Kian sangat bahagia. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran di hatinya, ia tak akan lagi bisa menikmati momen kedekatan bersama Ann seperti kemarin di Rumah Sakit. Seharian Ann menjaganya, menyuapi makan bahkan bersenda gurau tanpa ada lagi batasan di antara keduanya. Kian pasti akan sangat merindukan momen itu.
"Kian, waktunya makan siang! Ayo duduk sini!" Ann sudah menyiapkan seporsi makan siang untuk Kian dan duduk di sofa, bersiap untuk menyuapi lelaki yang masih tak bisa menggunakan tangan kanannya itu.
Kian yang sedang memperhatikan pemandangan kota dari jendela living room sontak menoleh cepat, entah mengapa hatinya berbunga melihat Ann memperlakukannya dengan istimewa beberapa hari ini. Dengan langkah pasti, Kian menghampiri Ann dan duduk tenang di sampingnya.
"Aaaaa ..." Ann membuka mulut saat bersiap menyendokkan nasi ke mulut Kian.
Dengan menahan senyum, Kian menurut dan membiarkan Ann melakukan rutinitas hariannya. Ia sudah seperti bayi yang harus di jaga 24 jam dan bergantung pada Ann.
"Besok aku sudah mulai ngantor, Kian. Tapi aku akan pulang saat tiba waktunya makan siang. Apa aku perlu membawa Bik Sri pindah ke sini juga, ya?"
Kian menggeleng cepat. Ia tak ingin ada orang lain di rumah ini selain dia dan Ann.
"Tapi kamu masih harus selalu dipantau."
Kian menelan makanan yang ia kunyah dan meneguk sedikit air di meja. "Aku sudah sembuh, Ann. Jangan merepotkan dirimu dengan pulang saat jam makan siang. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Nggak bisa. Kamu mau makan gimana? Tangan kananmu saja masih nggak bisa bergerak gitu! Setidaknya kalo ada Bik Sri, misal aku nggak bisa pulang nanti dia bisa gantikan aku nyuapin kamu."
Kian terbelalak kaget mendengar pernyataan istrinya, apa-apaan disuapi Bik Sri! Memangnya dia bocil!
__ADS_1
"Aku akan belajar makan dengan tangan kiri, Ann. It's oke. Jangan terlalu mengkhawatirkanku."
Wajah Ann sontak berubah sendu. Sebenarnya mendatangkan Bik Sri kemari bukan hanya untuk kepentingan Kian, tapi ada juga kepentingan Ann. Ia takut bila terlalu sering berdua dengan Kian maka perasaannya akan semakin terikat pada lelaki ini. Ann tidak mau, dan hal itu tidak boleh terjadi!
"Ann?"
"Hmm?"
Kian menunjuk nasi yang masih tersisa di piring dan mengkode Ann untuk kembali menyuapinya.
"Oh, maaf!" Ann kembali fokus menyelesaikan tugasnya tanpa berkata apa-apa lagi. Hatinya mulai oleng tiap kali berdekatan dengan Kian seperti ini.
Ann menggeleng lemah, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Kian. Merawat Kian adalah bagian dari tanggung jawabnya, namun semakin hari Ann merasa semakin takut jatuh pada pesona lelaki yang sedang menatapnya dengan penuh perasaan ini. Perlakuan Kian yang hangat dan lembut perlahan mulai merontokkan dinding pertahan Ann.
"Sebenarnya kamu tidak harus merawatku, Ann. Kontrak kita sudah sangat jelas mengatakan bila kita berdua tidak boleh melakukan hal ini." Kian menunduk sedih, hatinya terluka tiap kali mengingat perjanjian mereka.
Melihat ekspresi Kian yang berubah sendu, Ann mengalihkan tatapannya ke jendela. Kian benar, tapi mengapa hati nuraninya justru melakukan hal yang sebaliknya. Sejak kecelakaan itu, Ann semakin takut kehilangan lelaki ini.
"Bagaimana reaksi Daren seandainya dia tahu kamu memperlakukanku seperti ini?" cicit Kian lirih, seolah ia ingin menyadarkan Ann bila di hati istrinya ini masih ada sosok lelaki lain yang menguasai perasaan dan cintanya.
"Lalu aku harus bagaimana, Kian? Apa memperlakukanmu dengan baik juga dilarang? Aku hanya melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan seorang istri. Kamu pun pasti akan melakukan hal yang sama seandainya kecelakaan ini menimpaku, kan?!" cecar Ann gemas. Mengungkit Daren membuat rasa bersalahnya terusik.
__ADS_1
Kian tak lagi menyahut, membahas kontrak itu selalu membuatnya dan Ann berdebat. Terakhir kali malah pertengkaran mereka sangat hebat, Kian tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Ia hanya ingin Ann tegas pada perasaannya sendiri, bila perhatian pada Kian maka lupakan Daren atau sebaliknya.
"Sejujurnya perlakuanmu yang seperti ini membuatku Ge-er, Ann. Aku takut nanti malah tenggelam dalam perasaanku sendiri," lirih Kian pada akhirnya. Ia tak bisa berbohong lagi.
"Itulah mengapa aku ingin Bik Sri tinggal di sini! Aku juga takut, Kian!" umpat Ann kesal, setetes air mata tiba-tiba sudah menetes dari matanya yang indah. "Aku kesal dengan perasaanku sendiri! Semakin lama berdua denganmu membuatku semakin takut. Kita nggak seharusnya seperti ini. Harusnya kamu menolak saja waktu Papa memaksamu menikah denganku!!"
Kian terhenyak. Jadi Ann juga merasakan ketakutan yang sama dengannya? Lalu bila perasaan cinta itu mulai tumbuh, mengapa mereka masih harus takut? Apakah lelaki seperti Kian memang benar-benar tidak pantas untuk mendampingi wanita seperti Ann? Apakah ia harus menjadi seperti Daren agar bisa bersanding dengannya? Kian menghembuskan napasnya frustasi. Ia tak lagi berselera untuk melanjutkan makan siangnya.
"Dan sekarang Papa memaksa kita untuk mempunyai anak bila ingin namaku menjadi satu-satunya ahli waris! Kamu pikir aku nggak stress memikirkan hal itu?! Aku takut Kian!" geram Ann sambil memindahkan piring di pangkuannya ke meja.
"Maaf, Ann."
"Kamu pikir dengan meminta maaf maka semuanya akan berubah seperti semula? Nggak! Kamu sudah mengacaukan hidupku dengan menerima pernikahan ini. Dan sekarang aku harus bertahan untuk nggak jatuh hati sama kamu sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, itu berat Kian!!" Air mata Ann semakin menetes deras membasahi pipinya yang mulus.
Kian mengangkat tangan kirinya dan menyeka air mata itu dengan hati yang terluka. "Lalu kamu mau aku bagaimana, Ann?"
Ann menggeleng kesal, sudah terlambat untuk melakukan apapun. Mereka berdua sudah terjebak di dalam pernikahan ini! Tak bisa mundur ataupun maju.
"Apa kamu tidak bisa belajar untuk mencintaiku, Ann?" Kian meraih tangan Ann yang terkepal. "Apakah sesulit itu untuk mencoba menerimaku sebagai suamimu?
...****************...
__ADS_1