
Selama hidupnya, Kian tak pernah tertarik untuk terlibat hubungan asmara dengan siapapun. Sejak ditinggalkan oleh orang tuanya, ada rasa trauma pada diri Kian yang semakin hari semakin mengakar hingga ia tumbuh dewasa.
Sebagai lelaki normal, tentu saja ia memiliki kriteria wanita idaman. Meski tak harus cantik secara fisik, Kian sangat menyukai wanita berkulit bersih. Bila boleh menambahkan, ia juga sangat menyukai wanita yang memiliki buah dada padat dan mungil. Tak perlu yang besar berlebihan, yang pas dengan cakupan telapak tangannya tentunya lebih menantang.
Dan kini, kriteria itu sudah ia lihat dengan jelas dengan mata kepalanya sendiri. Ann memilikinya!! Dan mata lancangnya melihat semua pemandangan itu dengan penuh sukacita!
"Ann! Cepat!!" seru Kian seraya berbalik. Ia menyentuh dadanya yang berdebar hebat.
Kian tak tahu bila seluruh dinding di hotel sangat kedap suara. Jadi sekeras apapun ia berteriak, Ann tak akan mendengarnya.
Sementara Kian tak berani berbalik, Ann dengan santainya masuk ke dalam bathtub dan tak menyadari bila dinding pojok ruangan terbuat dari kaca.
"Aahhhh, nikmatnyaaa ..." desahh Ann sambil memejamkan mata.
Wangi sabun aromatic yang merilekskan membuat Ann bagai berada di surga. Otot-otot tubuhnya yang kaku perlahan-lahan mulai merenggang. Ann ingin tidur sebentar saja.
Sementara itu di luar, Kian sudah berpindah tempat dan duduk di meja makan. Ia menghembuskan napasnya yang masih syok setelah melihat tubuh Ann tanpa sehelai benangpun. Nafsu nakalnya mulai bergejolak butuh dipuaskan. Sesuatu di bagian bawah tubuhnya menegang tanpa bisa ia kontrol. Kian menoleh pada botol minuman yang tadi Lukas letakkan di meja. Sebotol Jus Tangerine yang dingin. Tanpa ragu Kian meraihnya dan memutar tutup botol minuman itu. Aneh, tutupnya tak tersegel. Namun karena pikirannya telah kalut, Kian tak peduli.
Glek ... glek ... glek.
Habis. Ia meneguk jus itu hingga tandas.
.
.
Duk.
"Awww."
Ann tersentak dan mengaduh saat tanpa ia sadari kepalanya terantuk tepian bathtub. Entah sudah berapa lama ia tidur sambil berendam. Air di bathtub yang tadinya hangat kini telah berubah menjadi dingin. Ann memutuskan naik dan membilas tubuhnya di shower.
Sambil mengenakan bathrobe, Ann keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian di kopernya. Kian ternyata sudah memindahkan koper itu ke dalam lemari. Dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang luas, Ann bersenandung sambil mencari sosok Kian. Lelaki itu tak ada di kamar. Ann mengernyit penasaran seraya membuka pintu lemari.
"Oh, My Gosh!!" jerit Ann terkejut.
Ia menemukan Kian sedang duduk meringkuk di dalam lemari.
"Apa-apa'an kamu, Kian! Ngagetin aja!" teriak Ann marah.
"Aaannnn," panggil Kian lirih. Seluruh tubuhnya terasa panas, napasnya menderu.
Ann mengawasi Kian dengan curiga, alih-alih marah karena Kian telah mengusilinya, Ann justru penasaran apa yang membuat Kian memanggilnya dengan sangat mesra seperti yang baru saja ia dengar.
"Kamu kenapa?" tanya Ann penasaran sambil mencolek lengan Kian yang masih betah meringkuk di dalam lemari.
Kian bergeming, ia menatap Ann sambil menahan sesuatu yang entah mengapa sangat menggebu-gebu di dalam tubuhnya.
"Kamu kenapa!?" tanya Ann lagi ketakutan. "Kamu kerasukan, ya!?"
Kian menggeleng cepat. Ia melepas genggaman erat kedua tangannya, merangkak keluar dari dalam lemari dan mendekat ke ranjang.
__ADS_1
"Kian, kamu kenapa!? Jangan bikin takut!" sungut Ann sambil mundur menjauh.
Kian berhenti dan menatap Ann yang entah mengapa nampak sangat seksi di balik bathrobe itu. Kian ingin merengkuhnya, ingin berada di atas tubuh wanita itu dan menjadikan dia miliknya!
"Kian!!" jerit Ann khawatir.
Plak.
Kian menampar pipinya sendiri. Sakit.
Plak.
"Kian!"
"Menjauh dariku, Ann! Seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu! Uhhhhhh." Kian berhenti sebentar untuk menghembuskan napasnya, namun nyatanya ia malah mendesahh. "Menjauh atau aku tidak akan bisa menahan diriku lagi!" perintah Kian di antara gejolak nafsunya yang semakin menggebu.
Ann terbelalak tak percaya. "Becandamu nggak lucu, Kian!"
"Kamu mau aku tiduri, huh!? Cepat ganti bajumu dan keluarlah!" Kian bersandar di sisi ranjang dan menahan ******* napasnya yang entah mengapa terasa sangat nikmat setiap ia hembuskan.
Ann menelan salivanya dengan gugup, ia segera menarik kopernya keluar dari dalam lemari dan berlari masuk lagi ke toilet. Ann masih tak menyadari bila dinding kaca itu menunjukkan dengan jelas lekuk tubuhnya pada Kian yang terengah-engah sendiri di luar.
Gundukan pink itu, Kian menelan salivanya sambil sesekali mendesahh tak terkontrol. Ia menurunkan zipper celananya. Tatapan Kian kemudian semakin turun ke bagian bawah tubuh Ann, ia memejamkan mata cepat sambil meraba meja nakas untuk mencari tisu atau apapun yang bisa menampung sesuatu yang meringsek keluar dari 'miliknya'
"Hmmmmhhh!!!! Annnn!!!"
.
.
"Kian."
"Kian."
"Kian, jangan bikin aku ketakutan!"
"Kian ..."
Remang-remang sinar matahari yang semakin meredup menyambut sukma Kian yang akhirnya kembali setelah beberapa jam ia tidur.
"Kian?"
"Hmmm," sahut Kian lemah.
Tenggorokannya kering. Tangannya kram, dengan lemah Kian berbalik dari posisi tidurnya yang tengkurap.
"Kamu sudah bangun?"
Kian menoleh pada Ann yang sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan khawatir.
"Belum."
__ADS_1
"Kian, jangan becanda!" sungut Ann kesal.
Kian tersenyum, efek obat itu sudah tak terasa lagi di tubuhnya setelah ia mengeluarkan lendir miliknya tiga kali. Dan yang tersisa kini tubuhnya sangat lemas tak bertenaga.
"Bisa minta tolong ambilkan aku air?" pinta Kian lemah sambil beranjak duduk dengan bertopang pada kedua lengannya perlahan.
Ann menurut, ia bergegas lari ke meja sideboard di samping tivi, mengambil sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Kian.
Sebelum meminumnya, Kian mengamati warna minuman itu dengan penuh kewaspadaan. "Apa ini tadi tersegel?"
Ann mengangguk cepat. "Aku yang barusan membuka segelnya!"
Kian menghembuskan napasnya lega dan meneguk air di botol itu hingga tetes terakhir. Ann menatap Kian dengan iba lantas duduk di pinggiran ranjang.
"Terima kasih, Kian."
"Terima kasih untuk apa?" tanya Kian bingung.
Ann menunduk malu. "Terima kasih karena kamu menyelamatkan aku. Aku sudah memarahi Lukas karena minuman itu. Dia bilang, Papa yang menyuruhnya memasukan obat perangsangg di Jus Tangerine itu!"
Kian menghembuskan napasnya berat. Ia tak tahu apa alasan Jonathan melakukan itu semua, namun yang pasti mulai saat ini Kian harus waspada.
"Maaf. Dan terima kasih banyak." Ann menatap Kian lekat-lekat.
"Tidak apa, maaf bila tadi aku sudah membuatmu ketakutan, Ann!"
Ann menggeleng cepat beberapa kali, Kian seperti melihat sosok gadis kecil saat melihat Ann melakukan itu, sangat menggemaskan. Tanpa sadar seutas senyum tersungging di wajahnya.
"Kamu beralasan apa pada Lukas? Apa dia tahu kalo aku meminum Jus itu?!"
"Nggak, lah! Lukas bisa curiga nanti. Aku bilang kalo kamu lagi istirahat dan nggak enak badan."
"Soal minuman itu?"
"Oh, aku bilang kenapa rasanya sangat aneh!"
Kian menatap Ann menunggu kelanjutan.
"Lukas beralasan rasa Jus Tangerine memang seperti itu. Tapi setelah aku mendesaknya, akhirnya dia mengaku kalo semua atas ide Papa!"
Kian menghembuskan napasnya lega, setidaknya nama baiknya terselamatkan.
"Kamu tahu, sepulang dari Jeju nanti Papa bilang aku sudah harus hamil, atau jika tidak maka bulan depan kita berangkat lagi ke Swiss!"
******************
Apakah itu sebuah kode dari Ann?😆
Kian, jangan kasi kendor!!
Jan lupa like, love, vote dan komennya, Bestie. Agar Otor semangat untuk update cerita ini setiap hari dan tau bila kalian menunggu update kisah Ann dan Kian.
__ADS_1