(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Berhentilah Mencintainya


__ADS_3

Melihat respon Kian yang acuh entah mengapa membuat Ann sangat terluka. Ia tahu bila Kian memang pantas memperlakukannya demikian setelah apa yang Ann lakukan padanya. Ann sadar bila Kian pasti sangat kecewa, bahkan mungkin mulai membencinya, tapi kenapa Ann justru tak rela?


Ann sudah memutuskan untuk berpisah dengan Daren, ia memantapkan hati untuk memilih Kian dan memulai hubungan baru dengan lelaki introvert itu. Meski rasanya sudah sangat terlambat, namun Ann masih berharap Kian masih mau memaafkannya. Ann sadar bila ia tak bisa kehilangan Kian! Ann tak bisa hidup tanpanya.


Drrrttt ... drttt ...


Ponselnya yang bergetar di meja nakas membuat perhatian Ann terpecah, ia melirik nama yang muncul di layar dengan malas.


Lukas is calling ...


Kening Ann berkerut heran, ada apa Lukas menelefonnya tengah malah begini?


"Halo, Lukas?"


"Miss, Pak Nathan sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit."


.


.

__ADS_1


Hening, sunyi. Ann menyetir mobilnya dengan kalap sementara Kian tak hentinya menghela napas panjang berulang kali. Kondisi tangan Kian tak memungkinkan untuknya menyetir.


Berita tentang acara liburan Ann dan Daren muncul di banyak media gosip. Bahkan foto Ann yang hanya memakai pakaian tipis untuk menutupi bikininya terekspos pula di laman internet. Jonathan yang saat itu tengah menonton televisi sontak terkejut bukan kepalang. Penyakit jantungnya kambuh saat itu juga.


Tiba di Rumah Sakit, Ann langsung berlari menuju ruangan tempat Papanya dirawat. Jonathan belum bisa dipindahkan ke kamar rawat inap, kondisinya sudah stabil namun masih harus dikontrol sampai besok pagi. Melihat anak dan menantunya datang tak membuat Jonathan bahagia, ia justru semakin terluka karena rasa bersalahnya pada Kian.


Ann menyeka air matanya dan berdiri di samping ranjang Jonathan. Sementara itu Kian memilih untuk menjaga jarak, ia tahu mertuanya pasti sangat marah karena Kian telah membohonginya.


"Tinggalkan Papa berdua dengan Kian. Papa hanya ingin berbicara berdua dengan Kian."


"Pa ..." Ann menggenggam tangan Jonathan yang dingin namun Papanya itu tak sekalipun menoleh padanya. "Pa, aku minta maaf."


Ann menyeka air matanya dengan sedih, hukuman dari Papanya terasa sangat menyakitkan untuknya. Dengan langkah lunglai, Ann keluar dari IGD dan memilih menunggui Papanya di kursi panjang yang berada di depan ruangan.


Sementara itu, Kian perlahan mendekat ke ranjang mertuanya dengan kepala tertunduk. Ia tak berani beradu tatap karena merasa bersalah telah membohongi Jonathan.


"Berpisahlah dengan Ann," putus Jonathan.


Kian terhenyak, berpisah? Bercerai??

__ADS_1


"Papa sudah tidak punya alasan lain untuk menahanmu untuk tetap tinggal bersama Ann. Papa pernah berada di posisimu, Kian. Dan Papa tahu benar bagaimana rasanya."


"Pa, istirahatlah. Kita akan bicarakan ini besok, Papa harus fokus untuk pulih terlebih dahulu."


Jonathan menggeleng lemah, ia memperhatikan raut wajah Kian yang nampak kacau. "Besok Lukas akan mengurus semua berkas perceraian kalian. Maafkan Papa, Kian."


"Tidak, Pa. Saya tidak pernah berniat untuk menceraikan Ann."


"Tapi cintamu pada Ann akan semakin membunuhmu perlahan, Kian. Menyerahlah, mungkin kalian memang tidak berjodoh."


Kian menggeleng tak setuju. Setidaknya biarkan ia bertahan hingga perjanjian mereka selesai, bila memang setelah itu Ann masih tak bisa mencintainya barulah setelah itu Kian akan menyerah.


"Saya mencintai Ann, Pa. Saya tulus menyayangi Ann."


"Hentikan, Kian. Ann tidak pantas untukmu."


Tidak pantas?? Kian termanggu. Ann terlalu berkilau untuk Kian yang lusuh, begitukah??


"Kamu terlalu baik untuk Ann. Hentikan cintamu sekarang juga sebelum kamu menyesal seperti Papa."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2