
-FlashBack On-
Di sebuah bangku taman yang dipenuhi beraneka macam bunga, seorang gadis berusia 15 tahun tengah berkutat dengan kertas gambar di pangkuan. Sorot matanya yang tajam nampak mengamati sekuntum bunga yang tumbuh tak jauh dari bangku tempatnya bersantai. Senyum tipisnya sesekali tersungging, entah apa yang berada di pikirannya saat tangan mungilnya dengan lihai menggores pena di kertas gambar.
"Hai, gadis bunga! Kamu nggak les hari ini?"
Sebuah suara berat yang muncul dari arah belakang sontak membuat gadis itu tersentak kaget. Ia menoleh pada si empunya suara.
"Mas Nathan! Ngagetin aja!" sungut gadis itu dengan kening berkerut dan bibir mengerucut.
Jonathan tertawa, ia beringsut duduk di samping Camellia, gadis ingusan yang sudah dijodohkan dengannya bahkan sejak ia masih bayi. Lily, begitu ia biasa dipanggil, terpaut usia 10 tahun di bawah Jonathan. Perbedaan yang sangat kontras itu membuat mereka berdua lebih pantas disebut Kakak Adik alih-alih sebagai calon suami istri. Namun demikian, keakraban keduanya tak pernah luntur meskipun keduanya tahu bila telah dijodohkan sedari kecil.
"Awas kalo Mas Nathan bilang sama Papa hari ini aku bolos les lagi," lanjut Lily tanpa menoleh pada Jonathan yang sedang memperhatikannya diam-diam.
"Iya, aku nggak akan bilang selama kamu rutin traktir minum kopi," janji Jonathan.
Fokus Lily pada gambarnya seketika buyar mendengar ucapan Jonathan. Ia mengetukkan ujung pensilnya pada buku gambar yang sedari tadi ia pangku, ia menatap tajam pada Jonathan.
"Emang kalo sudah tua doyannya minum kopi gitu, ya?"
__ADS_1
"Siapa bilang aku tua?!"
"Aku. Kenapa emang??"
"Aku masih 25 tahun!"
"Apalagi aku masih 15 tahun, jadi siapa yang lebih tua?!"
"Papamu!" tukas Jonathan tak mau kalah.
Lily terdiam, tapi kemudian tawanya pecah mendengar perkataan Jonathan. Ia baru menyadari bila perkataan lelaki yang sedang duduk di sampingnya ini benar adanya.
"Hahaha ... ya ya, Mas Jonathan memang jenius!" puji Lily seraya mengacungkan kedua jempolnya bangga.
Meski hanya dipuji oleh gadis ingusan, namun wajah Jonathan bersemu merah mendengarnya. Lily sangat cantik, wajahnya yang babyface selalu membuat Jonathan rindu. Senyumnya yang tulus dan apa adanya seolah menjadi candu.
"Wah, wajah Mas Nathan bisa berubah warna! Hebat!" goda Lily saat melihat wajah lelaki di depannya merona.
"Diam kamu, dasar gadis ingusan! Lanjutkan sana menggambarmu, aku mau lanjut jogging!" Jonathan bersiap untuk berdiri namun Lily sontak menarik lengannya dengan cepat.
__ADS_1
"Mas Nathan, besok lusa aku berangkat. Mas Nathan nggak mau ajak aku makan malam di mana gitu?"
Jonathan menghela napasnya yang tiba-tiba terasa sesak mendengar ucapan Lily. Jadi keputusan gadis itu sudah bulat untuk melanjutkan sekolahnya di London?
"Baiklah, Lily. Nanti malam aku akan menjemputmu. Kita makan malam di luar, oke?!"
"Asyik! Jangan telat ya, Mas Nathan!"
Jonathan tersenyum dan mengangguk, ia lantas berdiri dan memasang headset walkman di telinganya. "Aku lanjut dulu, ya! Sampai jumpa nanti malam!"
Lily mengangguk, senyumnya kembali merekah.
"Bye, Mas Nathan!" teriaknya sembari melambaikan tangan.
Jonathan berbalik, ia membalas lambaian tangan itu dan kemudian melanjutkan kegiatan sorenya.
Melihat lelaki yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya itu berlalu pergi, Lily kembali fokus pada kertas gambarnya.
-Flashback Off-
__ADS_1