(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Penolakan


__ADS_3

Sekujur tubuh Ann memanas ketika semua kamera tersorot padanya. Terlebih pertanyaan-pertanyaan dari Host yang seolah menginterogasi membuat Ann grogi bukan kepalang.


"Bila kamu sedang gugup, lihatlah ke depan. Anggaplah orang-orang di depanmu itu sebagai tanaman yang tak bisa merespon apapun yang kamu katakan."


Ucapan Papanya kembali terngiang di telinga Ann. Ia menarik nafas dan menatap lurus ke depan. Namun seraut wajah yang sedang menatapnya tajam dari belakang kamera sontak membuat jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Kian!?


Waktu satu jam terasa berjalan sangatlah lamban bagi Ann, ketika tatapan dari dua mata yang selalu menatapnya dengan teduh itu kini berubah menakutkan. Beberapa kali Ann mencoba untuk relaksasi dan memusatkan pikirannya pada Daren, namun nyatanya sesekali pandangannya tertuju pada Kian yang tetap mematung di sana tanpa ekspresi. Hanya sorot matanya saja yang seolah berbicara dan meminta Ann keluar dari sana secepatnya.


Hingga acara usai, Ann semakin dibuat gelisah saat Kian tak sekalipun menghampirinya di stage. Lelaki itu nampak sibuk berbincang dengan seseorang lantas menghilang di balik pintu keluar.


"Kamu mau aku antar pulang?"


Ann tersentak. Ia menoleh pada Daren yang sudah selesai mengganti pakaiannya.


"Nggak perlu. Aku bawa mobil, kok," sahut Ann menolak.


Daren melambaikan tangan pada Diki yang berada tak jauh darinya.


"Acaraku hari ini sudah selesai, kan? Kamu bawa mobilku, deh! Nanti aku telefon kalo butuh di jemput." Daren memberikan kontak mobilnya pada Diki.


"Eh, nggak usah, Daren. Aku pulang sendiri aja. Lagian aku tinggal di dekat sini sekarang." Ann menoleh pada Diki dengan sungkan. "Kasian Mas Diki kalo pulang sendiri."


"Ah, nggak apa. Dia sudah terbiasa. Iya kan, Bro?" tukas Daren meminta persetujuan.


"Iya, nggak apa, kok. Santai saja, Ann!" sahut Diki seraya tersenyum lebar.


Ann mengedarkan pandangnya mencari Kian, namun lelaki itu tak muncul lagi.


"Kamu nyari siapa, sih?" tanya Daren saat menyadari sejak tadi Ann terlihat gelisah.

__ADS_1


"Hmm, kenalanku. Ya sudah. Ayo, kita cari makan saja kalo gitu." Ann menarik tangan Daren agar cepat pergi dari dalam studio sebelum Kian memergokinya.


Daren menurut, ia memberi kode tangan pada Diki agar stand by dengan ponselnya. Diki mengangguk dan mengacungkan jempol.


"Hei, jangan buru-buru dong!" Daren balik menarik tangan Ann dengan lembut.


"Kita harus cepet pergi. Nanti aku ceritakan!"


"Ada apa, sih?"


"Suamiku kerja di sini!"


"What?!"


Ann menarik Daren masuk ke dalam lift dengan cepat dan menekan tombol close dengan tergesa-gesa. Perlahan-lahan pintu pun mulai menutup, Ann menghembuskan nafasnya lega dan melepas cekalannya pada Daren seraya memejamkan mata. Namun hingga beberapa detik berlalu, suara denting pintu lift yang tertutup tak kunjung terdengar.


"Mau masuk?"


"Tunggu, sepertinya aku tahu siapa kamu?!" Daren mengawasi Kian dengan lekat-lekat.


Ann reflek menarik lengan Daren yang maju ke pintu hendak menghampiri Kian. Suasana mulai kaku dan menegangkan.


Kian melirik tangan wanita yang sejak tadi telah meluluhlantakkan hatinya dan beralih menatap tajam pada Daren.


"Beb, dia?" Daren menoleh pada Ann yang langsung mengangguk. "Oh, jadi ini suamimu?"


"Ann, pulanglah denganku," pinta Kian seraya mengawasi Ann setengah memohon, tak mempedulikan perkataan Daren sama sekali.


Daren sontak berang dan mendorong bahu lelaki di depannya hingga membuat Kian mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Ann memang sah sebagai istrimu. Tapi dia tetaplah milikku. Jangan dekati dia!"


"Semua orang tahunya saya adalah suami Ann. Jangan campuri urusan kami."


"What!? Kami?!"


"Daren, ayo pergi!" Ann menarik lengan Daren yang mulai terpancing emosi.


Kian terhenyak, ia menatap Ann dengan tajam dan dingin. Jadi dia di tolak?? Ann lebih memilih pulang bersama lelaki itu!?


"Jangan ketinggian kalo mimpi, Bro! Tolong sadar diri, oke?!" kecam Daren seraya menunjuk wajah Kian dengan jari telunjuknya.


"Daren, ayo!" Ann menarik Daren masuk ke dalam lift dengan sedikit memaksa.


Begitu mereka berdua sudah berada di dalam lift berdinding kaca, Ann lekas menekan tombol close. Pintu pun mulai menutup perlahan-lahan. Ann masih sempat melihat tatapan Kian yang mulai meredup tertuju padanya sebelum kemudian pintu lift tertutup rapat. Ann mendesah lega, lift pun turun perlahan.


"Pulanglah dengan Mas Diki. Ada yang harus aku selesaikan dengan Kian di rumah."


"Beb, aku ikut."


"Nggak. Ini urusan intern antara aku dan dia," tolak Ann tegas.


"Tapi, aku khawatir dia akan berbuat sesuatu yang buruk sama kamu!" Daren bersikeras.


Ann menggeleng ketika kekasihnya itu menatapnya penuh kekhawatiran. "Nggak akan, Kian bukan lelaki seperti itu. Percayalah sama aku."


***********************


Hmmm ... hmm ... ada yang mulai cemburu, nih! 😆

__ADS_1


Yuk Bestie, jangan pelit jempol dan komen ya bila menyukai karya otor receh ini 🫰🏻


__ADS_2