
"Kian." Ann meraih tangan yang terkepal di setir mobil itu dan menariknya perlahan.
Kian menoleh, napasnya masih memburu naik turun karena emosi.
"Maafkan aku. Kamu benar, aku hanyalah korban dari keegoisan orang tuaku," lanjut Ann getir, "maafkan aku juga karena sudah melibatkanmu di kehidupanku yang rumit. Aku berharap semua ini cepat berakhir agar kamu nggak lagi terus menerus mengkhawatirkanku."
"Begitu, kah?" sela Kian berat.
Ann memaksakan diri untukĀ tersenyum dan mengangguk. "Aku jadi paham bagaimana posisi Mama yang pasti sangat tertekan karena perjodohan itu. Kamu pasti juga seperti itu bukan?"
Tatapan Kian terpaku pada raut wajah Ann yang meredup seiring dengan ucapannya yang semakin menyakitkan di hati Kian.
"Melihatmu menggendong dan menatap Hero tadi membuatku jadi semakin merasa bersalah, belum lagi karena tekanan dari Papaku yang semakin mengada-ada. Maafkan aku, Kian, kamu jadi terlibat sejauh ini."
"Hentikan, Ann. Ini sudah menjadi keputusanku untuk masuk di kehidupan kalian. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Ann menatap Kian lekat-lekat. "Apa kamu menyukai gadis bernama Zoya itu?"
"Apa?!"
__ADS_1
"Apa kamu menyukainya? Caramu menatap Hero sangat berbeda dan aku bisa merasakan keterikatan batin di antara kalian," cecar Ann penasaran.
"Oh, yang benar saja, Ann! Aku bahkan baru pertama kali bertemu dengan Hero!"
"Jangan-jangan dia adalah anakmu?! Jangan-jangan diam-diam selama ini kalian punya hubungan sebelum bertemu denganku?"
"Ann, cukup. Kenapa masalahnya jadi melebar ke mana-mana? Sebenarnya apa masalahmu, huh? Kenapa malah balik mencurigaiku?"
"Benar kan, Kian? Katakan yang sebenarnya bila Hero adalah anakmu!"
"Ann, hentikan!" Kian menghembuskan napasnya emosi.
Amarah Ann terhenti saat dalam hitungan detik, Kian menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Ia membenamkan kepala Ann ke dadanya yang bidang dan hangat. Debaran tak beraturan yang sejak tadi ia tahan kini bisa didengar Ann dengan jelas. Bahkan mungkin semakin menggaduh tak terkontrol ketika tubuh mereka berdua menyatu dalam pelukan.
Tangis Ann seketika pecah, air mata yang sedari tadi ia tahan sejak pulang dari rumah Papanya sontak merembes kembali membasahi T-shirt Kian. Dadanya terasa sesak oleh berbagai macam rasa sakit hingga menusuk ke ulu hati. Ini kali ketiga Ann menangis di depan Kian, bahkan kali ini di pelukan lelaki itu!
Kian yang biasanya kaku dan tak peka entah mengapa tiba-tiba saja menjadi lelaki yang perhatian. Ada luka yang masih disimpan oleh Ann dan Kian paham bila luka itu akan tertoreh selamanya apabila tak segera disembuhkan. Kian tak ingin Ann juga memiliki luka yang sama dengannya, Ann tidak pantas mendapatkan semua itu. Ann wanita yang baik. Biarlah cukup Kian saja yang memiliki trauma pada masa lalunya, jangan sampai istrinya itu juga memiliki trauma yang sama.
"Kita pulang?" tanya Kian sembari menyibak sebagian rambut Ann yang tergerai menutupi wajahnya setelah wanita itu sudah tenang dan mulai bisa menguasai diri di pelukannya.
__ADS_1
Ann mengangguk, ia mengurai pelukannya dan menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Ia melirik Kian yang tengah memandangi wajahnya yang pasti membengkak sekarang ini. Sekilas Ann melihat senyum di bibir Kian yang seksi itu, sebelum kemudian Kian kembali melajukan mobilnya perlahan.
Sesampai di basement Penthouse, Kian membukakan pintu mobil untuk Ann dan mengulurkan tangan untuk membantunya turun. Ann menyambut tangan itu dan keluar dari mobil perlahan. Sambil bergandengan, mereka berdua melangkah ke lift. Kian menekan tombol 'Open' tanpa melepas genggaman tangannya pada Ann.
"Beb!"
Sebuah suara bariton menghentikan langkah Kian dan Ann yang hampir saja memasuki lift. Serentak mereka berdua menengok dan menemukan Daren berdiri dengan tatapan nanar di belakang mereka.
Ann menepis genggaman Kian, ia berbalik lantas memeluk Daren dengan erat.
"Daren, huhuhu ..." tangis Ann pecah lagi di pelukan Daren.
Kian yang tak menyangka akan melihat adegan mesra itu hanya bisa menahan napas dengan tubuh gemetar dan tangan terkepal. Tanpa menunggu lagi, Kian masuk ke dalam lift dan segera menutup pintunya tanpa mengawasi sepasang kekasih itu lagi. Bagaimana mungkin Ann bisa berpikir bila Kian berada di posisi seperti Mamanya? Justru yang kini Kian rasakan adalah ia berada di posisi Jonathan! Dengan tangan gemetar, Kian menekan angka kode akses menuju Penthouse.
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan. Kian bergegas melangkah keluar dan masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lebar. Ia menarik T-shirtnya ke atas, melemparnya ke sembarang tempat lantas beringsut masuk ke kamar mandi. Ia butuh guyuran air dingin untuk meredakan panas di sekujur tubuhnya!
...****************...
__ADS_1