
Dan setelah berdebat cukup lama di siang itu, akhirnya pasutri yang berbeda karakter tersebut berangkat ke airport.
Perjalanan kurang lebih 11 jam dengan satu kali transit di Singapura membuat Kian yang baru pertama kali bepergian dengan menggunakan pesawat, memejamkan mata selama berada di udara. Beruntung penerbangannya di malam hari, jadi ia tak perlu menyusahkan Ann selama di penerbangan.
"Kian, bangun! Kita sudah landing!"
Lamat-lamat suara yang beberapa hari ini sering terdengar di telinga membuat Kian membuka mata. Sinar matahari yang masuk dari jendela kecil di samping Ann membuat Kian mengerjap sesekali karena silau.
"Ya?" tanya Kian bingung saat melihat Ann merapikan beberapa alat make upnya yang berceceran di pangkuan dan meja kecil yang melintang di atas tubuhnya.
"Kita sudah landing!" ulang Ann gemas.
Sejak naik pesawat dari Singapore, Kian tak sekalipun membuka mata. Padahal ia bilang ini adalah pengalaman pertama naik pesawat, tapi justru Kian nampak lebih menikmatinya dibanding Ann.
Kian memeriksa barang-barang di sekitar tempat duduknya, memastikan tak ada yang tertinggal sebelum penumpang di kabin bussines class diijinkan turun lebih dahulu.
Udara hangat menyambut mereka berdua begitu keluar dari pintu pesawat dan menuruni tangga. Sebuah minibus sudah menunggu di bawah untuk membawa penumpang yang baru turun dari pesawat ke bandara.
Begitu masuk di dalam bandara Jeju International Airport, wajah yang tak asing mencuri perhatian Ann. Lukas??
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" tanya Ann terheran-heran.
Lelaki bernama Lukas yang merupakan tangan kanan Jonathan tersenyum lebar dan berlari menghampiri majikannya.
"Selamat datang di Jeju, Miss Ann!" sapa Lukas berbinar. "Boleh saya minta paspornya? Biar saya urus. Silahkan Miss Ann dan suami menunggu di mobil. Ada supir yang sudah menunggu di depan."
Ann menurut, meski dalam benaknya masih ingin bertanya untuk apa Lukas berada di sini. Papanya sangat keterlaluan sampai harus mengirim mata-mata.
"Aku mau beli kopi dulu, kamu mau?"
Ann menoleh pada Kian dan menggeleng. "Kamu saja, perutku masih nggak nyaman!"
Kian mengangguk dan berlalu pergi berlawanan arah dengan Ann. Begitu sampai di lobi, seseorang yang mengangkat papan bertuliskan "Ms. Annastasia & Mr. Kiandro" membuat Ann paham bila orang itu adalah supir yang di maksud oleh Lukas. Ann menghampiri lelaki berusia 50 tahunan itu.
"Miss Ann?" tanyanya kemudian setelah Ann berdiri di depannya dan melepas sunglassesnya.
"Ya. Where is the car??"
"Di sana Miss, mari."
Ann terperanjat. Orang Korea bisa berbahasa Indonesia?
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Ann mengikuti lelaki itu dan masuk ke dalam mobil minivan mewah.
"Tuan Kiandro?"
"Dia masih beli kopi, tunggu saja di tempat tadi. Nanti pasti dia nyamperin!"
Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum ramah, ia lantas menutup pintu di sebelah Ann dan bergegas kembali ke lobi sambil tetap membawa papan kecil yang bertuliskan nama Ann dan Kian.
Ann menghembuskan napasnya lelah. Ia memperhatikan jam digital kecil di atas tivi yang berada di depan kursinya. Jam 7 waktu Korea.
Tak menunggu lama, Kian masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Lukas.
"Kita langsung ke hotel dulu ya, Miss?" tanya Lukas dari kursi depan.
"Boleh. Saya lelah ingin istirahat dulu sebentar!"
"Baik."
Mobil pun perlahan melaju. Kian yang segar bugar karena telah menikmati tidur yang berkualitas selama di penerbangan sesekali memotret jalanan yang dilalui dengan kamera mirorrless Sony a6400 miliknya.
Cklik.
Kian membidik sebuah pantai yang mereka lewati. Air laut yang berwarna biru zambrud membuatnya ingin mengabadikannya dalam kenangan. Pasirnya yang putih, ombaknya yang tenang dengan langit cerah berwarna biru, Kian tersenyum kecil memperhatikan foto yang baru saja ia ambil. Belum tentu ia akan kembali ke tempat ini lagi, jadi Kian mengumpulkan sebanyak mungkin foto agar bisa ia kenang suatu saat nanti.
Merasa seseorang sedang memperhatikannya, Kian menoleh ke samping tempat duduknya dan mendapati Ann berpaling keki saat tatapan mereka bertemu. Kian tersenyum, ia membidik kameranya ke arah Ann.
"Ann."
Ann menoleh.
Cklik.
"Kian!!" sungut Ann terkejut.
Kian terkekeh, ia memperhatikan hasil foto wajah Ann dan tertawa saat melihat wajah wanita itu sangat ekspresif.
"Kemarikan kameramu! Nggak sopan!"
"Hei, dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing!"
"Ssssttt!!" Ann membelalakkan mata sambil memberi isyarat untuk diam pada Kian.
__ADS_1
"Ada apa?" bisik Kian penasaran.
"Lukas itu adalah tangan kanan Papaku!"
"Aku tahu."
"Terus kenapa kamu sengaja ngomong gitu!"
"Biar dia mendengar!"
"Kian!" Ann semakin terbelalak kesal.
Melihat mimik wajah Ann yang sedang kesal karena digoda membawa kepuasan tersendiri bagi Kian. Ia tertawa dan kembali memandang keluar jendela.
Jeju Island dengan pemandangan lautnya yang indah, bila bukan karena Ann mungkin ia tak akan pernah mendatangi tempat ini. Selama jadi cameramen, Kian tak sekalipun berani mengambil tugas lapangan karena ia tak suka berpetualang. Terlebih ia tak akan pernah tahu bagaimana kondisi di luar. Ia bukan tipe lelaki yang suka tantangan. Kian selalu mengikuti arus dan betah berada di dalam zona nyaman.
Sekitar setengah jam perjalanan, pasangan suami istri yang kini harus bersikap mesra karena ada Lukas yang selalu memantau gerak-gerik mereka, akhirnya tiba di Grand Hyatt hotel. King Corner Suite Sea View yang berada di lantai 37 adalah kamar tempat mereka menginap selama 3 hari ke depan.
"Terima kasih, Lukas. Kamu bisa meninggalkan kami sekarang!" ucap Ann memaksakan senyum sambil menggamit lengan Kian.
Lukas meletakkan sebotol minuman di meja dan lekas menghampiri majikannya.
"Baik Miss. Jam tiga nanti saya akan menjemput anda. Saya tunggu di lobi."
"Oke. Thanks, Lukas!" sela Ann cepat.
Lukas pun keluar dari kamar setelah memastikan semua barang-barang majikannya tak ada yang tertinggal. Ia pergi sambil tersenyum riang. Misinya telah terlaksana dengan baik. Tinggal nanti menunggu waktu, kapan minuman yang sudah ia letakkan di meja akan diteguk oleh pasutri baru itu!
Ann melepas lengan Kian dan berbalik. Ia melempar sunglassesnya ke meja dan melangkah cepat ke toilet. Ia ingin mandi dulu sebelum rebahan sebentar.
Bathtub di tengah kamar mandi yang berbentuk seperti mangkok membuat Ann tersenyum riang. Ia paling suka berendam, dan sepertinya merendam seluruh tubuh dengan bathboom favoritnya akan membuat sendi-sendi di seluruh tubuhnya merenggang. Ann menutup pintu kamar mandi dan lekas mengisi bathtub dengan air hangat. Ia membersihkan sisa make-up di wajahnya dan melepas dressnya ke atas.
Kian yang berada di luar dan mengelilingi kamar tak henti-hentinya berdecak takjub. Pemandangan sepanjang pantai Jeju terlihat jelas dari dinding kamar hotelnya yang seluruhnya terbuat dari kaca. Kian melangkah perlahan ke tengah ruangan, ranjang Kingsize dengan sprai putih seolah menyapanya untuk berebah di sana. Namun sebuah gerakan tubuh di seberang ruangan mengganggu konsentrasinya yang sedang fokus memperhatikan setiap sudut ruangan.
Kian terbelalak, napasnya tertahan karena oksigen di sekitarnya seolah lenyap saat pandangannya tertuju pada Ann yang sedang bersiap masuk ke dalam bathtub dalam keadaan telanjangg bulat.
"Ann!! Tutup tirai kacanya!" teriak Kian syok sambil memalingkan muka.
***************************
Eaaaa, mata jadi Kian ternodai 😆
__ADS_1
Jan lupa jempol dan favoritnya, Bestie!