
Pukul 9 lewat 20 menit, Kian menenteng tas plastik berisi bahan masakan yang tadi pagi ia beli secara online dan dititipkan di resepsionis. Ia masuk ke dalam lift dan menekan kode menuju penthouse.
Ttting.
Kian melangkahkan kakinya keluar sambil menarik napasnya dalam. Suasana hatinya memburuk sejak melihat Ann berada di studio tadi siang. Padahal harusnya tak boleh seperti ini. Bukankah mereka sudah menandatangani surat kesepakatan?
"Kian."
Kian tersentak, ia menoleh cepat ke arah sofa di living room. Ann duduk di sana mengenakan piyama berendanya yang sangat tipis.
Sekujur tubuh Kian memanas lagi, ia beringsut ke dapur dan memasukkan beberapa bahan yang harus disimpan di dalam kulkas.
"Kian, aku minta maaf untuk kejadian tadi siang." Ann berdiri dan menyusul Kian di dapur.
Kian masih bergeming, ia memasukkan sayur wortel ke rak kulkas. Meski berusaha tenang, namun nyatanya tangannya gemetaran menahan amarah dan kecewa pada Ann.
"Kian, kamu dengerin aku, kan?" ulang Ann saat tak dipedulikan.
Setelah semua bahan telah aman berada di kulkas, Kian menutup pintunya dan melangkah ke tempat Ann mengawasinya.
"Aku nggak tahu kalo kamu ternyata bertugas di sana," elak Ann tanpa rasa bersalah.
"Bukannya kamu sudah sering melihatku memakai seragam ini?"
"Iya, tapi aku lupa! Aku baru inget setelah lihat kamu tadi."
Kian tersenyum sinis, ia membuang muka.
"Tapi bukannya kita sudah sepakat untuk—"
"Kamu benar, kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Tertulis di pasal nomor 2 dan nomor 5."
"Jadi harusnya kamu nggak perlu marah kaya tadi. Aku malu!"
"Malu? Harusnya aku yang malu, Ann!" sela Kian kesal.
Ann terdiam, ia menatap Kian dengan pandangan yang sukar dijelaskan.
"Bagaimana kalo Papa melihat tayangan itu? Apa kamu pernah berpikir teman-teman sekantorku akan menganggapku lelaki perebut?!"
__ADS_1
"Kian, bukankah sebelum ini kamu nggak pernah peduli dengan pendapat teman-temanmu??"
"Tapi bukan berarti dengan begitu kamu bisa berbuat semaumu di tempatku bekerja!"
"Aku nggak berbuat semauku. Aku tadi juga menjelaskan kalo sudah menikah, kan?"
"Iya, betul. Kamu menjelaskan itu setelah melihatku. Bahkan menjaga jarak tempat dudukmu setelah menyadari di tempat itu juga ada aku."
Ann terhenyak mendengar perkataan Kian. "Kenapa sekarang kamu jadi mengatur apa yang harus aku lakukan?"
"Karena aku suami kamu, Ann."
"Ingat Kian, pernikahan kita hanya di atas kertas! Jangan terlalu banyak berharap aku akan memperlakukanmu dengan spesial! Kamu nggak perlu berlagak jadi suami kecuali di depan papa!" jelas Ann kesal.
Kian menarik nafas panjang, ia menatap Ann lekat-lekat.
"Dan perlu kamu ingat juga Kian, jangan pernah melewati batas. Lebih baik kamu menjauh dariku atau kamu tidak akan bisa hidup tenang seumur hidupmu!" ancam Ann dengan serius.
Kian tersenyum kecut, ia membalas tatapan Ann yang menyorotkan kebencian itu tak kalah dingin.
"Kamu tahu, hidupku bahkan sudah hancur sejak aku belum bertemu denganmu, Ann. Jadi tidak ada bedanya lagi sekarang."
"Baiklah. Sepertinya kamu mulai melewati batas itu. Jadi lebih baik kita menjaga jarak mulai sekarang!" putus Ann serius. "Kamu tahu dengan jelas bila aku sangat mencintai Daren. Jadi jangan coba-coba kamu menyuruhku untuk berpisah darinya!"
Kian terdiam, bibirnya seketika kelu. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk hatinya.
"Lagipula sekarang Daren sudah terbuka mengenai hubungan kami, tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Aku bisa saja memutuskan hubungan kita kapanpun aku mau. Tapi demi Papa, aku akan bertahan sampai kontrak kita selesai!"
Kian mengangguk paham, tangannya yang sejak tadi terkepal emosi mulai merenggang. Ucapan Ann bagai tamparan keras baginya, pukulan telak yang memaksanya mundur tanpa sempat ia maju.
"Baiklah. Lakukan apapun yang kamu mau. Aku tidak akan lagi ikut campur urusanmu."
"Bagus, seharusnya begitu dari awal. Jangan ada perasaan apapun di antara kita!" Ann menatap tajam pada Kian.
"Oke. Baiklah, Miss Ann. Saya mengerti." Kian masih mengawasi dua mata indah milik Ann sebelum kemudian ia berbalik dan meninggalkan Ann sendiri.
Hatinya seperti disayat oleh pisau berkarat, ada sakit yang tak bisa ia jelaskan mengapa. Kedua matanya mulai memanas, namun Kian berusaha menahan semua amarah pada Ann dan lebih memilih untuk mengubur semuanya. Lebih baik begini. Tidak boleh lebih dari ini.
Setelah Kian menghilang di balik pintu kamarnya. Ann menghembuskan nafas berat. Sungguh ia tidak menyangka sebelumnya bila kejadiannya akan berubah runyam seperti ini. Ia bahkan melupakan fakta bahwa Kian bekerja di Stasiun Televisi itu, bagaimana Ann bisa lupa??
__ADS_1
Drrrttt .... Drtt ...
Ponsel yang Ann tinggalkan di meja bergetar dan mengagetkannya. Ia lekas berlari dan membaca nama yang muncul di layar.
Papa Angry Bird is calling ...
Sontak Ann melempar ponselnya ke sofa, gawat!! Bagaimana ini?! Papanya pasti mendengar berita tentang tadi siang di kantor Kian!
"Halo," sapa Ann ragu setelah panggilan ke empat kali dari Papanya cukup memaksa.
"Apa Kian baik-baik saja? Papa menelefonnya sejak tadi sore tapi ponselnya tidak aktif!"
"Jadi Papa nelefon aku cuma buat tanya keadaan Kian?"
Terdengar hembusan napas berat di ujung sana. "Papa bertanya keadaan Kian karena Papa tahu dia pasti tersakiti dengan acaramu tadi siang!"
"Pa."
"Ann, tidak bisakah kamu meninggalkan lelaki itu dan fokus pada suamimu? Hormati Kian apapun keadaannya!"
"Pa, dengerin dulu."
"Cukup. Kamu yang harus dengerin Papa sekarang. Berhentilah berbuat semaumu. Kian sudah mengorbankan banyak hal untuk kita."
"Papa selalu mikirin perasaan Kian, tapi Papa nggak peduli dengan perasaanku!"
"Sudah cukup waktu tiga tahun Papa berikan untukmu dan Daren. Lantas mau menunggu berapa lama lagi? Sepuluh tahun? Atau sampai Papa meninggal?!"
"Pa!! Papa nggak akan meninggal secepat itu. Kenapa sih Papa selalu membahas kematian!"
"Karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, Ann. Maka dari itu, jangan pernah lewatkan kesempatan sekecil apapun untuk membahagiakan orang-orang di sekitarmu!"
Ann termanggu, ia kehabisan kata-kata.
"Papa tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali di kemudian hari. Mulai sekarang hormati Kian sebagai suamimu!"
"Baiklah, Pa."
"Sampaikan salam Papa untuk Kian. Katakan padanya untuk menelefon Papa secepatnya."
__ADS_1
***************************