
"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Kian khawatir. Ia menoleh pada Ann yang sejak tadi tiba-tiba diam membisu usai ditelefon oleh Jonathan.
Ann mengangguk, tatapannya menembus keluar kaca mobil yang tengah melesat cepat. Secara tiba-tiba Jonathan menelefon dan meminta Ann datang secepatnya entah mengapa membuat perasaannya tak nyaman. Tak biasanya Papanya seperti itu.
"Ann, katakan sesuatu, jangan membuatku tambah khawatir!" Kian menarik lengan Ann yang terkulai lemah di pangkuan wanita itu.
"Nggak ada apa-apa, Kian. Papa cuma ingin kita datang ke sana secepatnya."
"Tapi Papa baik-baik saja, kan?" ulangnya lagi tak puas.
Ann menoleh pada Kian yang tengah fokus menyetir, ada gurat kekhawatiran di wajah suami palsunya itu. Saat Kian akhirnya menoleh dan tatapan mereka bertemu, Ann berpaling dengan cepat.
"Aku juga nggak tahu. Papa nggak bilang apapun selain menyuruh kita datang secepatnya. Itu saja!" jelas Ann lirih.
__ADS_1
Sebenarnya yang membuat suasana hati Ann tiba-tiba memburuk bukan hanya karena telefon dari Papanya, tapi juga momen beberapa jam yang lalu di mana Kian sangat bahagia ketika menggendong dan bercanda dengan Hero. Ada secuil rasa bersalah di hati Ann saat melihat mereka tertawa bersama, mata Kian sangat berbinar selama memandangi batita mungil itu. Pun saat mereka harus berpisah karena Jonathan meminta Ann segera datang, Kian nampak kecewa karena harus berpisah dengan si mungil Hero. Ann menghela napas panjang.
Kian yang merasa tengah terjadi sesuatu pada Ann hanya bisa menolehi wanita itu sesekali. Ia penasaran namun tak berani bertanya terlalu detail karena Ann paling tak suka bila dipaksa.
Mobil pemberian Jonathan yang baru sempat Kian kendarai melesat cepat menyusuri jalanan yang lengang. Kian memilih untuk melewati jalan pintas agar bisa segera sampai di pusat kota dan tiba di rumah Jonathan secepatnya. Begitu mobil sedan hitam dengan plat nomor spesial itu memasuki gate perumahan elit, para penjaga gate segera mengontak security di rumah Ann agar mereka membuka pintu pagar kokoh rumah mewah Boss Winata Group. Kian menginjal pedal gasnya lebih dalam, ia sudah tak sabar ingin segera sampai.
Setelah mobil masuk melewati pagar dan parkir di carport, Ann bergegas turun tanpa menunggu Kian mematikan mesin mobil. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah.
"Ada di ruang kerja, Miss. Anda sudah di tunggu." Lukas membukakan pintu lebih lebar agar Ann bisa masuk.
Ann mengernyit, di ruang kerja?
Namun alih-alih bertanya, pada akhirnya Ann memilih untuk berlalu dari hadapan Lukas dan berjalan cepat menuju ruang kerja Papanya di ujung ruangan.
__ADS_1
Kian yang sempat mendengar pembicaraan mereka lekas mengikuti Ann dengan perasaan campur aduk. Tidak biasanya Jonathan bersikap misterius seperti ini.
Tiba di depan pintu ruang kerja Jonathan, Ann mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu tiga kali.
"Masuk!" perintah Jonathan dari dalam.
Ann menoleh pada Kian yang sudah berdiri di sampingnya, ia menghela napas panjang sebelum kemudian menekan handle pintu ke bawah dan mendorong pintu kayu berukiran itu perlahan.
Jonathan nampak duduk di belakang meja kerjanya dan memperhatikan sebuah berkas yang terbuka di hadapannya.
"Duduklah kalian berdua!" perintah Jonathan setelah memperhatikan anak dan menantunya hanya berdiri mematung di depan pintu.
...****************...
__ADS_1