
Sejauh mata memandang, hanya hamparan bunga Camellia putih yang nampak di mata. Sangat indah, sangat mendamaikan hati. Dia tidak sedang berada di Camellia Hill, lingkungan dan tamannya berbeda jauh. Hawa yang hangat dan sinar matahari yang teduh membuat AnnĀ betah berlama-lama duduk di bangku kayu yang menghadap ke taman bunga itu.
"Ann."
Ann tersentak, ia menengok cepat ke belakang.
"Kian, kok kamu di sini?"
Kian tak menyahut, ia mendekat ke bangku dan duduk di samping Ann. Di tangannya ada setangkai bunga Camellia berwarna merah yang sangat cantik.
"Nih, buat kamu!" Kian menyodorkan bunga itu pada Ann.
Ann mengernyit. "Dari mana kamu dapat Camellia warna merah? Aku dari tadi cuma lihat Camellia putih di sekitar sini," tanya Ann terheran-heran.
Kin tersenyum. "Aku menanamnya sendiri khusus untuk kamu."
"Oh, ya?" Ann terbelalak tak percaya.
Kian mengangguk dan mendekatkan bunga itu pada Ann. Karena Ann tak kunjung menerimanya, akhirnya tangan Kian mendekat ke samping kepala Ann dan menyelipkan bunga itu di telinga istrinya. Ann begitu cantik dengan bunga Camellia terselip di telinga.
"Ann, tolong."
__ADS_1
Ann kembali mengernyit. "Tolong apa, Kian?"
"Tolong aku, Ann."
Ann semakin tak paham, wajah Kian berubah gelisah setelah menyelipkan bunga tadi padanya.
"Kamu kenapa?"
"Tolong, Ann. Tolong aku."
"Kian, tenang dulu! Ngomong yang jelas." Ann menarik dagu Kian yang menunduk tegang.
"Tolong ..."
"Ann, tolong ..."
Deg. Ann terkesiap. Sontak ia membuka mata saat menyadari bila ia tidak sedang bermimpi. Sekelilingnya gelap, namun Ann bisa melihat samar-samar sosok Kian sedang duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Ann lekas beranjak turun dari ranjang dan menyalakan sakelar lampu di sisi ranjangnya.
Pet.
Cahaya sontak memenuhi ruangan berukuran 8 x 8 meter persegi itu. Ann memejamkan mata sebentar untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retinanya.
__ADS_1
Kian mendongah di antara ******* nafasnya yang naik turun, Ann sedang berdiri tak jauh darinya. Saat melihat Kian duduk meringkuk dengan sekujur tubuh basah dan gemetaran, Ann sontak berlari mendekat dan duduk di hadapan lelaki itu.
"Kian, kamu kenapa?" tanya Ann panik.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Kian bingung, seingatnya tadi ia tak mendengar suara pintu di buka. Dan tidak mungkin rintihannya terdengar hingga kamar atas.
"Kamu kenapa? Kita ke Rumah Sakit, ya?" Ann mengguncang bahu Kian yang gemetaran dengan takut.
Kian menggeleng, ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Tidak seharusnya Ann melihat keadaannya yang seperti ini, memalukan!!
"Pergilah, Ann!"
"Apa maksudmu dengan pergi! Kamu kesakitan seperti ini mana tega aku ninggalin!!"
"Pergilah, aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit. Kembalilah ke kamarmu!" sentak Kian, ia sedang berusaha mengatur ritme nafas dan tremor di tubuhnya.
Ann tertegun. Kian menepis tangan Ann di bahunya.
"Kian, jangan keras kepala. Kalo sampe terjadi apa-apa sama kamu, aku adalah orang pertama yang akan disalahkan oleh papa!" sungut Ann kesal.
Kian tak menyahut, tremor di sekujur tubuhnya masih belum bisa ia kontrol sepenuhnya. Phobianya akan gelap ternyata masih menghantui.
__ADS_1
"Katakan Kian, apa yang harus aku lakukan? Kamu butuh sesuatu? Aku ambilkan minum, ya?"
**************