
Sejak keluar dari lift, Ann terus saja menempel pada Kian. Sembari berjalan berdampingan, mereka berdua akhirnya tiba di apartemen Cinta. Kian memencet bel sambil sesekali melirik Ann yang bergelayut manja di lengan kirinya sementara dua paperbag berisi kado untuk Roy dan Rey dipegang erat oleh Ann.
"Kamu sering datang ke tempat ini?" selidik Ann cemburu.
Kian menggeleng cepat. "Hanya tiga kali."
"Hanya?!" Ann terbelalak kesal.
Kian mengatupkan bibirnya penuh penyesalan, dia berkata jujur tapi rupanya malah menambah masalah baru. Haruskah ia berbohong?
Cklik.
Pintu perlahan terbuka dari dalam.
"Om Kian!!"
Seorang bocah perempuan sontak melompat dan memeluk Kian setelah pintu terbuka lebar. Ann tersentak kaget untuk beberapa saat, ia melepas gandengannya pada lengan Kian agar bocah kecil ini bisa memeluk Kian sepuasnya. Merasa Ann sedikit menghindar, Kian menolehinya dengan rasa bersalah.
"Aku dan Roy sudah nunggu Om Kian dari tadi, kami kelaparan!" decak gadis kecil itu setelah Kian menggendongnya.
"Rey, turun! Tangan Om Kian masih sakit."
Cinta tiba-tiba muncul dari dalam. Ann mengawasinya dengan kaget, terlebih saat penampilannya dan Cinta terlihat tak jauh berbeda. Mereka sama-sama mengenakan dress dengan motif bunga-bunga, hanya berbeda di warna saja. Ann membuang muka dan memutar bola matanya kesal.
Gadis kecil bernama Rey itu perlahan melorot dari gendongan Kian, ia lantas berlari menghampiri Cinta.
"Mom, who is she?" Rey menunjuk Ann yang berdiri di belakang Kian.
__ADS_1
Kian menarik lengan Ann agar berdiri di sampingnya. "Dia istri Om Kian, Rey."
"What is istri?" tanya Rey dengan polosnya.
Cinta menarik napasnya dalam. "Istri is someone you love the most, Rey. Your partner in life."
"But I thought Om Kian loves you, Mom."
"Rey!" Cinta menutup mulut putrinya dengan cepat. Ia menarik Rey untuk mundur. "Maaf Ann, Mas Kian. Rey terkadang terlalu bar-bar."
Kian menghembuskan napasnya keki, ia melirik Ann yang mematung tegang.
"Yuk, masuk! Makan malamnya sudah siap, kita langsung makan aja." Cinta berbalik dan berjalan mendahului tamunya sembari menggandeng Rey.
Sesekali Rey menoleh pada Ann yang menatapnya tajam, seolah ada sinar laser yang keluar dari bola mata Ann dan menembus si kecil Rey. Untuk pertama kalinya, Ann mendapatkan saingan seorang bocil yang masih di bawah umur. Membuat Ann jadi berpikir ulang untuk memiliki anak perempuan karena pasti nantinya mereka berdua akan memperebutkan perhatian Kian.
"Di mana suamimu?" tanya Ann tanpa basa-basi.
Kian menolehi Ann dan mengkodenya untuk diam. Ann yang tak paham dengan maksud Kian hanya menatapnya bingung.
Bukannya menjawab, Cinta malah mempersilahkan Kian dan Ann untuk duduk di kursi yang melingkari meja makan. Aneka masakan chinese food sudah tertata rapi di tengah-tengah meja, tak lupa sebuah kue tart bersusun dua juga berada di antaranya.
Ann menarik kursi dan duduk di sebelah Kian. Rey memilih untuk duduk di samping Kian namun Cinta lebih dulu menarikkan kursi di sebelah Ann untuk putri kecilnya itu.
"Di mana Roy?" tanya Kian bingung karena sedari tadi ia tak melihat bocah lelaki itu.
"Hmm, Roy sedikit ngambek malam ini. Tiba-tiba dia menolak untuk tiup lilin," jelas Cinta tak enak hati.
__ADS_1
Kian mengernyit heran, Roy memang sedikit temperamental karena dia sangat sensitif.
"Apa aku boleh menemuinya?"
"Roy mengunci pintu kamar, Om! He's mad at us," sela Rey.
Ann yang tak paham pada seluk beluk keluarga Cinta hanya bisa membisu, terlebih setelah tadi Kian memintanya untuk tak banyak bicara.
Pada akhirnya Kian bangkit dari kursinya. "Tunggu 10 menit, aku akan mencoba membujuk Roy untuk keluar dan merayakan ulang tahunnya bersama-sama."
Cinta mengangguk, Rey turun dari kursinya dan berlari mengikuti Kian. Hanya Ann yang terdiam karena tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya memperhatikan Kian yang menghilang di balik lorong.
"Apa kamu mencintai Kian?"
Ann terhenyak, ia mengawasi Cinta yang tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan itu padanya.
"Ofcourse I do. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ann balik bertanya dengan heran. "Sepertinya kalian belum lama berteman, tapi mengapa kamu bertingkah seolah-olah paling mengerti Kian!"
Cinta tersenyum lirih, ia membalas tatapan menyelidik Ann dengan hangat. "Karena aku tahu dia seperti apa. Tapi sepertinya justru kamu yang belum tahu banyak tentang Kian. Tentang latar belakang keluarganya, tentang pendidikannya, bahkan tentang ... kisah di balik luka di perutnya."
Ann tertawa, Cinta bertingkah seolah-olah paling paham tentang Kian. Padahal jelas-jelas Ann yang lebih dulu mengenal Kian dan paham seluk beluk tentangnya. Tapi tunggu, luka di perut?? Ann terkesiap.
"Jagalah Kian dengan baik bila kamu memang benar-benar mencintainya. Aku tahu gosip buruk tentangmu, Ann. Jadi sebaiknya kamu waspada, jangan lengah dan jangan sampai melepas Kian."
"Kamu mengancamku?" Ann tersinggung. Dalam sehari sudah ada dua orang yang mengancamnya secara terang-terang, daebak!!
"Aku nggak mengancam, aku hanya memintamu berhati-hati. Seandainya kalian berpisah karena artis itu, aku tentu dengan senang hati akan merebut Kian darimu."
__ADS_1
...****************...