(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bertemu WO


__ADS_3

"Hari ini kosongkan jadwal saya setelah jam 4 sore, Jes!" perintah Ann begitu tiba di kantor.


Jessy yang merupakan sekretaris Ann sejak pertama kali ia menjabat sebagai wakil CEO di perusahaan Winata Group mengangguk dengan cepat.


"Dan juga, tolong hubungi Pak Edwin untuk segera menemui saya. Pekerjaannya berantakan!" sambung Ann tegas.


Jessy kembali mengangguk dan mencatat perintah Ann di tablet kecil yang ia bawa.


Ann menghempas tubuhnya ke kursi empuk di belakang meja kerjanya dan menarik nafasnya dengan penuh semangat.


"Apa saja jadwal saya hari ini, Jes!"


"Jam sembilan nanti Miss Ann ada rapat dengan beberapa direksi residence. Jam 1 ada meeting dengan klien sekaligus menandatangi surat kontrak pembangunan apartemen dengan pihak jasa konstruksi."


Ann mengangguk paham. "Setelah itu jangan terima jadwal apapun, mengerti?!"


Jessy mengangguk cepat.


"Jadi sambil menunggu waktu rapat, tolong tinggalkan saya sendiri sekarang!" perintah Ann lugas.


Jessy menurut, ia bergegas pergi dari ruangan Ann tanpa menoleh lagi. Setiap kali berada di ruangan itu seluruh tubuhnya memanas dan tegang. Sifat Ann yang tegas, disiplin dan perfeksionis membuat Jessy menderita tekanan batin sebagai sekretarisnya.


Ann menatap layar laptopnya lama, ia sudah memutuskan untuk membuat draf perjanjian pernikahan kontrak dengan Kian. Jam lima nanti pihak WO sudah mengatur jadwal untuk bertemu dengannya dan Kian, jadi sekalian Ann bisa membahas tentang surat perjanjian ini dengan lelaki culun itu.


Surat perjanjian pernikahan sementara, jemari Ann mulai mengetik keyboard dan memperhatikan layar monitor.


Sepuluh jam kemudian, tepat jam lima sore lebih sedikit, Ann turun dari citycarnya dan bergegas masuk ke restoran yang sudah mereka sepakati tadi siang. Ann menaiki tangga utama menuju restoran Italia itu dengan hati-hati. Ia mengenakan heels 10 cm bila sedang bekerja dan tadi ia lupa membawa sandal untuk ganti.


Setiba di dalam, Ann mengedarkan pandangannya mencari Kian atau pihak WO yang sudah membuat janji. Karena masih sepi, akhirnya Ann memilih untuk duduk di tempat yang sedikit terbuka agar ia bisa menyesap podnya dengan bebas. Ya, saat sedang tak di rumah, Ann bebas menyesap pod vapenya. Papanya akan murka bila tahu putrinya merokok meski tak mengepulkan asap dari batang tembakau.


Sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela, Ann menghisap podnya dalam-dalam. Sensasi dingin dan manis menyergap paru-paru dan tenggorokannya. Ann kemudian menghembuskan asap itu dengan penuh kenikmatan.


"Kamu merokok?"


Ann tersentak, ia menoleh cepat dan menemukan Kian sudah berdiri di samping mejanya dengan tatapan menyelidik.


"Ini bukan rokok, ini POD!" elak Ann.


Kian mengibaskan asap dari pod itu dengan tangannya dan duduk di depan wanita itu.

__ADS_1


Ann tersenyum dan menghisap podnya lagi, lantas meniupkan asapnya ke wajah Kian.


"Hentikan, Ann! Itu racun!" sungut Kian tak suka. Ia membuang muka dan bersandar.


"Kamu nggak ngerokok? Dih, nggak macho!" cibir Ann tertawa.


"Memangnya kalo merokok itu macho, begitu?"


"Jelas, lah! Lelaki itu baru keliatan kerennya kalo pegang rokok!" jelas Ann.


Kian tak menanggapi ocehannya. Ia mengalihkan pandangan mencari waitres agar bisa segera memesan makanan. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi siang. Saat seorang waitres menoleh pada Kian dan Ann, secara reflek Kian mengangkat tangannya untuk memanggil waitres itu.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya waitres dengan sopan sambil menyodorkan buku menu.


Kian memeriksa lembaran demi lembaran buku menu yang memamerkan foto setiap masakan khas restoran. Ia butuh sesuatu yang mengenyangkan dari sekedar pasta dan roti pizza.


"Risotto dan hot lemon tea," pesan Kian setelah menimbang cukup lama.


Waitres mencatat pesanan Kian dan beralih memperhatikan Ann.


"Saya cappuchino aja, lagi malas mau makan!" Ann menghirup ujung podnya lagi dan kali ini menghembuskan asapnya keluar jendela.


"Baik, mohon ditunggu." Waitres pun berlalu pergi setelah mencatat pesanan mereka berdua.


"WO-nya kenapa lama sekali, ya?" gumam Kian entah pada siapa.


"Masih kena macet kali!" sahut Ann tak acuh, pandangannya yang sedari tadi bergerilya ke seluruh penjuru restoran tiba-tiba terhenti di seragam yang Kian kenakan. Seragam hitam dengan logo sebuah Stasiun Televisi di dada sebelah kanan dan bordiran nama di dada sebelah kiri.


"Kamu kerja di Stasiun Tivi?" tanya Ann akhirnya.


Kian memperhatikan seragamnya dan mengangguk. "Iya," sahutnya minder.


Ann tersenyum kecut. Pilihan Papanya benar-benar tak sepadan dengan standart lelaki yang di idamkan Annastasia!


"Kenal Papaku cuma dua tahun, cuma kerja di Stasiun Tivi dan akhirnya menikahi putri konglomerat. Ending yang sangat epic!"


Kian menatap tajam pada Ann. Umpatan pedas itu meluncur lagi dari bibirnya yang tipis.


"Oh, iya. Aku hampir lupa." Ann meletakkan Podnya dan beralih mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang mahal. Ia lantas menyodorkan selembar kertas di depan Kian.

__ADS_1


Kian membaca kertas itu dengan penasaran. Sebuah judul tulisan dengan deretan huruf besar dan bold sontak menyita perhatiannya.


SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.


Kian terbelalak, dadanya berdebar aneh saat membaca tulisan itu.


"Itu surat perjanjian antara kita. Karena pernikahan ini dilakukan karena terpaksa, jadi aku nggak mau terjadi sesuatu hal yang nantinya akan membuat kita menyesal dikemudian hari. Aku sebagai pihak pertama dan kamu sebagai pihak kedua." Ann mulai menjelaskan isi dari lembaran kertas itu.


"Kamu bisa menambahkan pasal lain bila mau. Nanti kita bahas lagi begitu sudah fix. Aku juga akan menyiapkan surat perceraian yang sudah aku tanda tangani, jadi nanti begitu waktunya tiba untuk kita berpisah, kamu tinggal tanda tangan saja kapanpun kamu mau."


Kian membaca pasal demi pasal yang tertulis di lembaran itu. Debaran di dadanya semakin meletup-letup tak terkendali. Matanya nanar menatap barisan tulisan yang ia genggam.


"Bagaimana? Kamu bisa bawa dulu kertas itu. Isilah pasal yang kamu inginkan. Besok kita bertemu lagi untuk tanda tangan!"


"Apa ini harus?"


Ann terbelalak, ia menatap Kian dengan pandangan tak percaya.


"Jadi maksudmu kamu mau menikahiku selama-lamanya, begitu?!"


"Tidak, bukan begitu. Maksudku kita hanya perlu membuat kesepakatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama kita menikah. Tidak perlu sampai membuat surat perjanjian seperti ini!"


"Lalu siapa yang bisa menjamin kamu akan tetap mematuhi kesepakatan kita?! Bisa saja kamu tiba-tiba berpura-pura mabuk dan meniduriku, iiiiih, amit-amit!!" Ann bergidik ngeri.


Deg.


Kian terluka mendengar hal itu. Dia lelaki normal yang bisa saja tergoda melihat Ann, namun dia bukan lelaki murahan yang bisa seenaknya meniduri perempuan dengan paksaan.


"Baiklah. Aku akan menandatanganinya."


"Eh, kamu nggak mau menambahkan pasal lain?" tukas Ann terkejut dengan respon Kian.


"Tidak." Kian menarik bolpoin dari saku kemejanya dan menandatangani surat perjanjian itu tanpa basa-basi.


Ann yang masih syok dengan sikap Kian yang sangat kooperatif hanya bisa menatap lelaki itu dengan takjub.


"Nih!" Kian mengembalikan lagi lembaran itu pada Ann dan membuang muka dengan jengah.


"Baiklah, terima kasih atas kerjasamamu yang sangat baik. Besok aku akan memberikan salinannya padamu!"

__ADS_1


"Tidak perlu. Kamu simpan saja surat itu sesukamu. Dan jangan khawatir, aku bukan seorang pemabuk!"


***********************


__ADS_2