(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Makan Bersama


__ADS_3

Suasana yang temaram di cafe tak jauh dari tempat tinggal Ann membuat hatinya ikut meredup. Daren duduk berhadapan dengannya, memandangi wajah sayu Ann yang sejak tadi murung dan tak bersemangat.


"Kamu setuju dengan permintaan Papamu?"


Ann menggeleng cepat. "Kamu pikir aku semurah itu? Bahkan denganmu yang sudah tiga tahun bersama, aku tak berani melakukan hal itu!"


"Tapi kali ini hubungan kalian bukan hanya sekedar pacaran, Ann. Kalian sudah resmi menjadi suami istri. Sebenarnya dia berhak untuk meminta 'hal' itu."


Ann mengernyit heran dengan perkataan Daren. "Jadi maksudmu aku boleh tidur dengannya?"


"Of course not!! Bukan itu maksudku," sela Daren marah. "Jangan coba-coba dia menyentuhmu sedikitpun! Melihat dia menggandeng tanganmu saja tadi sudah membuatku ingin membunuhnya!"


"Calm down, Daren. Dia hanya menuntunku tadi, nggak ada maksud apapun," bela Ann.


"Segeralah akhiri pernikahan kalian, lalu mari kita menikah!" putus Daren mantap.

__ADS_1


Bola mata Ann melebar mendengar penyataan Daren. "Lalu bagaimana dengan kariermu?"


Daren tak menyahut. Di satu sisi ia berat untuk merelakan kariernya yang pasti akan hancur namun di sisi lain kehilangan Ann juga bukanlah pilihan yang sepadan.


"Setahun, Daren. Tunggulah aku setahun ini saja. Aku akan meyakinkan Papa untuk menunda kehamilanku hingga setahun. Setelah itu kita bisa bersama kembali tanpa halangan."


"Lalu bagaimana jika akhirnya kamu dicoret dari ahli waris Papamu?"


"Nggak akan, Papa nggak akan setega itu sama aku," ucap Ann percaya diri. Ia adalah satu-satunya darah daging Jonathan, tidak akan mungkin semua hartanya akan jatuh ke tangan orang lain selain Ann.


"Baiklah. Aku akan menunggumu, Beb." Daren meraih tangan Ann yang terkulai di meja dan menggenggamnya dengan erat.


Ting.


Ann mendesah panjang sebelum kemudian mengayunkan langkahnya keluar dari dalam lift. Lampu dapur yang masih menyala membuat Ann sontak menoleh dan memperhatikan Kian yang sedang memasak sesuatu di sana. Aroma gurih rempah terendus oleh indra penciuman Ann, perutnya seketika berdendang. Ia hanya sempat minum kopi saat di cafe tadi bersama Daren.

__ADS_1


"Kamu nggak makan?"


Ann tersentak, lamunannya sontak buyar berganti sosok Kian yang sudah berdiri di depannya dengan membawa dua buah piring.


"Apa itu?" tanya Ann seraya menunjuk hasil masakan Kian yang nampak aneh.


"Cobalah dulu. Ini adalah makanan yang biasa Nenek Sofia masakkan untukku," saran Kian seraya berbelok ke meja makan dan meletakkan dua piring tadi di sana.


Mencium aroma yang menggugah selera dan ditawari makan tanpa harus repot-repot beli atau masak, Ann pun beringsut ke meja makan tanpa berpikir dua kali. Ia menarik kursi yang terselip di bawah meja dan duduk dengan tak sabar.


Kian mendekatkan piring milik Ann ke arah wanita itu lantas ia pun duduk berseberangan. Sambil menyendok makanannya, Kian memperhatikan Ann yang nampak sangat lahap menikmati hasil masakannya.


"Hmm, enyak. Inyi makanyan apa nyamanya?" tanya Ann dengan mulut penuh kunyahan makanan.


Kian tersenyum datar. Ia melahap nasi disendoknya sambil memperhatikan Ann yang sangat antusias mengunyah.

__ADS_1


"Nenek Sofia dulu menamainya Nasi Sayur Sampah."


...****************...


__ADS_2