(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kehidupan Baru


__ADS_3

Penthouse mewah dua lantai dengan 4 kamar tidur dan akses lift private. City view yang sangat indah bisa dilihat kapanpun dari balkon lantai bawah. Ada kolam renang juga di balkon lantai atas.


Penthouse yang dihadiahkan oleh Jonathan berada di lantai paling atas apartemen mewah yang masih di bawah kepemilikan PT. Winata Group. Letaknya yang strategis dan dekat dengan pusat kota membuat Kian tak perlu lagi naik motor untuk menuju ke tempatnya bekerja. Ia hanya perlu berjalan kaki karena jarak Stasiun Televisi tempatnya bekerja sangat dekat dengan Penthouse yang ia tempati.


Hari kedua pasca menikah, pasutri baru itu menempati Penthouse mereka dan membereskan barang-barang yang sudah dikirim sejak beberapa hari yang lalu.


Ann menempati kamar di lantai atas, sementara Kian memilih untuk menempati kamar di lantai bawah. Beberapa baju milik Ann sengaja diletakkan di kamar Kian untuk berjaga-jaga bila Papanya sewaktu-waktu datang menjenguk mereka.


Ann memberi batas daerah kekuasaannya. Kian tak diperbolehkan naik ke lantai atas, dan Ann tidak akan merecoki lantai bawah kecuali ke dapur dan nonton tivi.


Hari pertama tinggal bersama di Penthouse, Kian lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktunya dengan membaca buku atau menonton youtube.


Aura kebahagiaan sebagai pengantin baru sama sekali tak terlihat di rumah itu. Mereka berdua menjalani kesibukan masing-masing tanpa komunikasi yang berarti.


Meskipun saat di hotel beberapa kali Kian harus menelan salivanya gugup tatkala melihat Ann berpakaian minim, di rumah pun tak ada bedanya. Beberapa kali Kian memergoki istrinya itu di dapur mengenakan hotpant dan t-shirt ketat berpotongan leher rendah. Membuat hormon testosteronnya melonjak naik seketika.


Dan pagi ini, saat Kian tengah menikmati sinar hangat mentari dari balkon. Suara gemericik air di sink mengalihkan perhatiannya. Dapur yang memang bersebelahan dengan balkon membuat segala aktivitas di sana bisa terdengar hingga di luar. Kian berbalik, ia melongok ke arah dapur. Dari balik pintu kaca, ia bisa melihat Ann sedang membuat kopi dari mesin Dolce Gusto Automatic.


Kian menarik nafasnya dalam-dalam. Udara pagi yang sejuk dari ketinggian seperti ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kian jadi teringat pada masa kecilnya sesaat sebelum ia dan Nenek Sofia akhirnya pindah ke kota.


"Kamu mau kopi?" tanya Ann dari dapur.


Kian menoleh. "Boleh," ia berbalik dan menghampiri wanita itu.


"Mau espreso, latte macchiato, chocochino??"


"Terserah."


Kian memang tak begitu maniak pada kopi. Apapun ia minum asal tak beracun.


Ann memasukkan sebuah kapsul kopi kecil ke alat itu dan menutupnya. Tak berapa lama, kopi mulai mengalir ke dalam gelas yang sudah disiapkan.


"Nih!" Ann menyodorkan gelas itu pada Kian.


"Terima kasih," ucap Kian seraya mengendus aroma kopi yang wangi.


Ann tak menyahut, ia membawa gelas kopi miliknya keluar dari dapur dan melangkah pelan ke balkon. Tangan kanannya menggenggam pod sementara tangan kiri membawa gelas kopi.


Kian menyusul ke balkon dan memilih untuk duduk santai dibangku kayu.


"Apa acaramu hari ini?" tanya Ann sambil berbalik dan mengawasi Kian.


Kian meletakkan gelasnya di meja. "Tidak ada."


"Apa kamu keberatan bila aku meminta bantuanmu?"


Kian menatap Ann penasaran.


"Aku mau minta bantuanmu untuk mengantarkanku ke suatu tempat."

__ADS_1


"Ke mana?" tanya Kian akhirnya.


"Nanti aku beri tahu!"


Ting tong ting tong.


Ann dan Kian menoleh bersamaan ke pintu. Siapa yang datang bertamu sepagi ini?


"Biar aku buka pintunya," putus Kian seraya berdiri dan melangkah cepat ke ruang tamu.


Ann mengikuti Kian di belakang dengan penasaran. Ia tidak sedang memesan makanan apapun, jadi sudah bisa dipastikan bukan kurir yang datang.


"Kian wait!" Ann menarik lengan Kian dengan cepat saat dari door screen ia melihat wajah Papanya sedang tersenyum lebar.


Kian terhenyak saat memperhatikan door screen yang ditunjuk oleh Ann.


"Gawat!!" desis Ann pucat.


Kian menarik nafasnya sesaat. "Kamu kunci kamarmu di atas. Biar aku yang buka pintu dan mengalihkan perhatian Pak Nathan!"


Ann mengangguk cepat, ia spontan berbalik dan berlari ke lantai atas.


Ting tong ting tong.


Kian mengayunkan langkahnya ke pintu dan menekan handle perlahan.


"Selamat pagi, Anakku!!" Jonathan merentangkan kedua tangannya dengan hangat.


"Di mana Ann? Apa dia masih tidur?" Jonathan mengurai pelukannya saat menyadari Ann tidak berada di samping Kian.


"Ah, dia ada di dalam, Pak!"


"Pak?" Jonathan terbelalak.


Kian terhenyak, ia menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


"Panggil aku Papa!" perintah Jonathan kemudian.


Kian menghembuskan nafasnya lega, tadinya ia berpikir bila telah melakukan kesalahan saat menjelaskan keberadaan Ann.


"Baik, Pa," bisik Kian sungkan.


Jonathan tertawa dan beringsut masuk ke dalam tanpa menunggu dipersilahkan oleh empunya rumah. Kian mengikuti mertuanya itu dengan khawatir.


"Ann!" teriak Jonathan sambil melangkah ke ruang tengah.


"Ah, Pa. Sepertinya Ann ada di balkon!"


Jonathan menoleh pada Kian, lantas melangkah lagi ke balkon di ujung ruangan.

__ADS_1


Kian menoleh ke tangga saat Jonathan sudah berlalu. Ann sedang mengendap-endap turun dari tangga itu dan berlari masuk ke dalam kamar Kian.


'Fiuh,' Kian mendesah lega.


Jonathan sudah sampai di balkon namun ia tak menemukan siapapun di sana.


"Tidak ada siapapun di sini," terang Jonathan seraya berbalik.


"Mungkin Ann sudah kembali ke kamar, Pa!" sela Kian dengan percaya diri.


"Ya sudah, kamu panggil saja dia! Kita sarapan bersama di sini!" perintah Jonathan seraya menghampiri meja makan.


Kian menarikkan kursi untuk mertuanya lantas membantu Jonathan duduk.


"Sebentar, Pa." Kian berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya.


Di dalam kamar, ia sudah menemukan Ann sedang duduk gelisah di pinggiran ranjang.


"Apa Papa curiga?" tanya Ann begitu melihat Kian masuk.


"Nggak, semua aman. Apa kamar atas sudah di kunci?"


Ann mengangguk cepat.


"Bagus. Sekarang kita keluar sebelum Papa mulai curiga!"


"Tunggu, kamu manggil siapa tadi?"


"Siapa??" Kian berbalik dan mengawasi Ann bingung.


"Kamu nyebut Papaku siapa?!"


Kian mendengus. "Pak Nathan yang memintaku memanggilnya demikian!"


Ann tertawa melihat ekspresi Kian yang nampak kesal. "Baiklah, jangan sewot gitu, dong!"


Ann lebih dulu melangkah ke pintu, namun belum menyentuh handle tiba-tiba langkahnya terhenti mendadak. Kian hampir saja membentur tubuhnya andai saja ia tak siap.


"Kenapa lagi?!" sungut Kian tak sabar. Ia tak ingin Jonathan curiga.


"Podku!!" pekik Ann tertahan sambil menutup wajahnya.


Kian menghembuskan nafasnya lelah. "Kamu letakkan di mana tadi?!"


"Di meja balkon!"


"Ya sudah, kamu temui Papa. Biar aku yang ambilkan Podmu di balkon!"


Ann mengangguk cepat. Ia membuka pintu dan melangkah cepat ke meja makan. Namun Papanya tak ada di sana.

__ADS_1


"Loh, di mana Papa?"


****************


__ADS_2