(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Papa Mau Bayi


__ADS_3

Ann menggeleng cepat. "Boleh aku ikut?"


"Tapi di sana panas. Kamu pasti tidak akan betah."


"Aku kan bisa pake topi, pake jaket dan pake SPF dengan daya perlindungan UV 50+ PA ++++!" sanggah Ann bersikeras.


Kian menghela nafas panjang. "Tapi setelah ke makam, aku mau mengunjungi rumah kenalanku. Apa kamu tidak apa-apa?"


Sekali lagi Ann menggeleng. "Nggak apa. Lagian sudah lama kita nggak bepergian bareng! Terakhir malah tiga minggu yang lalu pas ke rumah papa."


Kian kehabisan kata, padahal tadinya ia pikir hidupnya sudah kembali tenang tanpa Ann.


"Jangan salah paham. Aku ikut karena cuma pengen tahu makam Nenekmu seperti apa. Nenekmu kan juga nenekku!" timpal Ann saat melihat wajah Kian seperti tertekan.


"Siapa yang salah paham? Pikiranmu selalu buruk sama aku!"


"Habisnya kamu lama nggak jawab. Aku kan jadi mikir kalo kamu nggak suka kalo aku ikut ke makam!" Ann menyerocos.


Kian meletakkan sisirnya ke tempat semula dan berbalik mengawasi Ann. "Ya sudah, cepatlah bersiap-siap!" perintah Kian mengalah.


Seketika Ann berbinar senang. "Yeay, oke aku ganti baju dulu!" jeritnya riang seraya berdiri dan berlari keluar.


Kian mengulum senyum saat wanita yang masih berperilaku seperti bocah itu keluar dari kamar. Ia lantas melilitkan arloji di pergelangan tangan dan melangkah keluar sambil bersenandung. Kian berjalan pelan ke dapur untuk memasak sarapan.

__ADS_1


"Kian, kalo mau bikin sarapan, bikinin aku nasi goreng, ya! Aku kangen makan nasi goreng buatanmu!" teriak Ann lantang dari lantai atas.


Kian tersenyum kecil, ia lantas membuka pintu kulkas dan mengeluarkan bawang merah dan bawang putih. Masih dengan bersenandung, Kian mengiris bawang-bawang itu dengan pisau. Tangannya lantas dengan lihai menumis dan memasukkan dua porsi nasi putih ke wok pan. Ia pun memberi sedikit garam, kecap dan saus tomat.


Saat nasi goreng sudah masak, Kian menatanya di dua piring dan lanjut menggoreng telur mata sapi. Begitu semua sudah selesai, ia lekas membawanya ke meja makan.


Ann masih belum juga turun dan menyelesaikan persiapannya. Kian akhirnya menunggu sambil menyalakan televisi dan menonton siaran berita.


Tak berapa lama, sesosok wanita dengan pakaian panjang serba hitam, topi pantai yang lebar lengkap dengan kacamata hitam turun dengan malu-malu. Kian menoleh tepat di saat Ann menuruni tangga terakhir.


"Pfff, kamu mau ke mana?" tanya Kian heran, tak kuasa menahan tawa. Ann terlihat sangat fashionable.


"Katanya mau ke makam?" Ann balik bertanya dengan heran.


Kian tertawa lepas. Ann malah terlihat seperti hendak datang ke pesta dengan gaun hitam berbahan sifon dan manik-manik di bagian dada.


"Kamu malah terlihat seperti mau datang ke pesta! Hahaha ..." Kian memegangi perutnya yang seketika kram karena menertawai Ann.


Ann merengut dan menghentakkan kakinya dengan kesal. "Ih, kamu, nih! Ini outfit terkeren, tauk!"


"Ya, ya, ya. Terserah kamu saja lah. Ayo, kita sarapan dulu!" sela Kian akhirnya, ia masih tertawa sesekali. Perutnya sudah keroncongan karena terlalu lama menunggu Ann berdandan.


Ann melepas topi lebar dan kacamatanya, ia berjalan cepat ke meja makan. Dua piring nasi goreng yang tertata di meja membuat perutnya merespon dengan berdendang.

__ADS_1


"Hmmmm, wanginyaaaa!" Ann mengendus nasi goreng di piring miliknya setelah duduk dengan nyaman.


Kian tersenyum memperhatikan tingkah Ann yang sangat kekanakan. Seolah ia tak pernah memakan nasi goreng enak sebelumnya.


"Oh, iya. Semalam aku sudah transfer ke rekeningmu, Ann," terang Kian sambil melahap nasi goreng buatannya.


Ann memicingkan mata pada Kian, ia meletakkan lagi sendok yang sudah ia ganggam.


"Aku kan sudah bilang, nggak perlu kamu kirimi aku uang setiap bulan."


"Tidak apa. Aku hanya melakukan tanggung jawabku sebagai suami. Meskipun tidak seberapa, sih."


"Kian, kita kan sudah sepakat—"


"Kalo kamu tidak mau, kamu bisa sedekahkan uangnya ke Panti Asuhan. Lagipula jumlahnya tidak seberapa. Masih kalah jauh dengan pendapatanmu." Kian tersenyum masam.


Ann menghela nafas panjang, ia menatap Kian dengan sedih. "Baiklah. Aku terima uangmu. Terima kasih banyak, suamikuuu," puji Ann kemudian.


Kian terkesiap mendengar Ann mengucapkan kata 'suami'. Sesuatu di dalam dadanya seperti meletup dan berbunga-bunga. Kian tersenyum lirih.


"Papa semalam chat aku, dia kirim video bayi! Kamu tau apa yang dia katakan?"


Kian menggeleng cepat merespon perkataan Ann.

__ADS_1


"Tolong jangan buat Papa menunggu terlalu lama. Bulan depan berangkatlah ke Swiss bila kamu belum juga hamil!"


...****************...


__ADS_2