(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Persiapan


__ADS_3

Hari berganti minggu dan tanpa sadar hari H itu telah semakin dekat. Semua persiapan sudah 80% rampung.  Gaun milik Ann dan setelan suit Kian pun telah selesai di buat. Hanya tinggal mendekorasi tempat yang pastinya akan di laksanakan di H-2.


Kian sudah mengajukan cuti selama 3 hari, namun ternyata Pak Hendri malah memberinya cuti 7 hari. Tadinya Kian menolak karena ia tak ingin jatah cutinya terpotong namun Pak Hendri meyakinkan Kian bahwa selama lima tahun bekerja tak sekalipun Kian mengambil jatah cutinya kecuali saat Nenek Sofia meninggal kala itu. Jadi Kian hanya menggunakan jatah cuti di tahun sebelumnya yang tak terpakai. Entahlah kebijakan macam apa itu, namun pada akhirnya Kian mengalah dan berpikiran bahwa jatah cuti yang tersisa bisa ia gunakan untuk beristirahat saja di rumah kontrakannya.


Dan lagi-lagi, Kian dibuat syok ketika Jonathan memberinya hadiah sebuah mobil. Sebuah sedan hitam persis seperti milik Ann. Jonathan tidak ingin Kian menggunakan motor maticnya lagi untuk bepergian. Meski merasa bersalah karena telah bersekongkol dengan Ann dibelakang Jonathan, namun Kian berjanji akan mengembalikan semua yang telah ia terima ketika kontrak pernikahan mereka telah berakhir nanti.


Sebuah penthouse mewah pun sudah siap untuk dihuni oleh Ann dan Kian setelah mereka menikah. Kian bersikukuh untuk tetap tinggal di kontrakannya saja, toh pernikahan mereka hanya pura-pura. Kian akan datang ke penthouse bila dibutuhkan, selebihnya ia akan tinggal di kontrakan. Dan sayangnya, Jonathan seperti telah mengendus akal bulus menantunya. Ia yakin Kian pasti tidak akan mau tinggal berdua dengan Ann. Jadi diam-diam Jonathan menghubungi pemilik kontrakan dan membeli rumah yang dihuni Kian dengan harga 10 kali lipat. Alhasil, pemilik kontrakan meminta Kian untuk pindah bulan depan dan mau tidak mau, akhirnya Kian terpaksa setuju tinggal di penthouse itu bersama Ann.


Hak tayang acara pernikahan akbar penerus Winata Group jatuh ke tangan Stasiun Televisi tempat Kian bekerja. Karena Jonathan memiliki saham cukup besar di sana, jadi otomatis segala ***** bengek acara pernikahan itu diliput. Padahal Ann bukanlah seorang artis, ia hanya beruntung terlahir sebagai putri tunggal Perusahaan besar PT. Winata Group.


Hari ini adalah hari terakhir Kian masuk sebelum besok ia akan mulai cuti. Di waktu luang, Kian lebih sering menghabiskannya dengan menyendiri di dalam studio. Ia tak lagi sering datang ke Green Area karena tak ingin bertemu dan berinteraksi dengan teman-temannya. Kian masih minder.


"'Mas Kian."


Kian terhenyak, ia menoleh cepat ke arah pintu. Risa sudah berdiri di sana dengan wajah sendu.


"Hai, Risa," sapa Kian seraya tersenyum hangat.

__ADS_1


Perlahan Risa masuk ke dalam studio dan menghampiri tempat duduk Kian. Ia pun duduk tak jauh dari sana.


"Apa Mas Kian bahagia?" tanya Risa sambil menatap Kian.


"Tentu saja," jawab Kian berdusta.


Risa tersenyum lirih, ia menunduk dan mengalihkan tatapannya. "Apa Mas Kian benar-benar akan menikah dengan perempuan itu?"


Kian mengawasi Risa dengan perasaan campur aduk. Risa pasti sangat tersakiti dengan berita pernikahan Kian. Pun begitu, Kian tak bisa memaksakan perasaannya pada gadis itu.


"Tentu saja, Risa."


Kian tersenyum sumbang. Ia menunduk untuk menutupi perasaannya.


"Aku tahu Mas Kian nggak seperti yang mereka bilang. Buktikan sama aku kalo mereka salah, Mas!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Risa.


Kian menarik nafasnya yang terasa berat untuk sesaat. "Risa, anggap saja apapun yang mereka katakan tentangku adalah benar. Biar waktu yang nanti akan menjawab semuanya."

__ADS_1


"Nggak! Mas Kian nggak boleh menikah karena terpaksa. Aku yakin apapun alasan dibalik pernikahan itu, Mas Kian melakukannya karena terpaksa. Iya, kan?" Risa menarik tangan Kian dan menggenggamnya erat.


Kian tertegun, ia mengawasi tangan Risa. "Risa, aku mencintai Ann," ucap Kian berdusta entah untuk keberapa kali. "Kamu pasti bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada aku."


"Nggak! Mas Kian bohong. Mas Kian nggak mencintai perempuan itu. Kenapa Mas Kian terus aja berbohong!"


Kian tak menyahut, ia hanya menatap mata Risa yang semakin meredup di antara desakan air matanya yang menetes deras.


"Maaf, Risa." Kian menarik tangannya perlahan dari genggaman Risa dan beralih membelai rambut gadis itu.


Risa tak menyahut, tangisnya semakin menjadi-jadi. Kian yang tak tahu harus merespon apa hanya bisa menepuk-nepuk pundak gadis itu dan sesekali membelai rambutnya. Ia tak suka melihat wanita menangis karena membuat traumanya kembali melintas. Trauma yang membuatnya selalu dilanda panic attack saat berada di kegelapan dan mendengar tangis seseorang.


Tak berapa lama, Risa sudah tenang kembali dan bisa menguasai diri. Ia bergegas pergi setelah mengucapkan selamat pada Kian. Risa tak ingin air matanya jatuh lagi bila masih berlama-lama dengan seniornya itu.


Dua kali 24 jam ke depan, ia akan mendapat status baru sebagai seorang suami. Kian mendesah perlahan, kisah hidup yang sesungguhnya akan segera dimulai.


*********************

__ADS_1


Menyukai cerita ini?


Jangan lupa tap favorit dan jempolnya ya, Bestie Kesayanganku ❤️


__ADS_2