(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Setelah Pertengkaran Itu


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Dunia Ann yang tadinya terang bersinar berubah kelam usai pertengkarannya dengan Kian di malam itu. Dan keesokan harinya, Ann tak lagi melihat Kian di penthouse. Surat perceraian yang sudah Ann siapkan sejak awal saat mereka menandatangani surat perjanjian itu tiba-tiba raib. Ann sudah mengira bila Kian yang membawanya karena hanya Kian yang memegangnya. Dan itu lebih baik karena Ann hanya tinggal menunggu putusan pengadilan atas perceraian mereka. Namun sayangnya hingga dua bulan berlalu, tak ada panggilan apapun dari Pengadilan.


Ann tetap melalui hari-harinya seperti biasa. Ia akan pergi ke kantor pada pagi hari dan kembali pulang saat malam. Suasana rumahnya kini berbeda tanpa Kian, dapur yang biasanya selalu berisik dan bau masakan kini sunyi. Ann sempat merindukan Kian, namun nyatanya rasa sakit karena telah dibohongi dan diperalat lebih besar sehingga Ann selalu menampik perasaan rindu itu sendiri.


Permasalahan dengan Daren telah benar-benar selesai. Usai bertengkar dengan Kian, Ann langsung menghubunginya dan mengancam akan membuat popularitas Daren hancur seandainya foto telanjangnya tersebar.


"Aku bersumpah akan menuntutmu, Daren! Aku akan membuat kariermu hancur dan berakhir di penjara seumur hidup!" ancam Ann kala itu.


Dan setelahnya, Ann tak lagi mendapat telefon atau pesan apapun dari Daren. Mantan kekasihnya itu seolah lenyap ditelan bumi, hanya sesekali Ann melihat iklannya di papan reklame di pinggir jalan.


"Miss, anda tidak pulang?"

__ADS_1


Ann tersentak, lamunannya buyar seketika. Entah sejak kapan Jessy sudah berdiri di depan mejanya dengan tatapan menyelidik. Sudah dua bulan ini Boss-nya selalu melamun dan pulang larut malam. Jessy tentu saja terganggu sekali dengan kebiasaan baru Ann karena ia jadi ikut pulang larut malam. Karena aturannya, Sekretaris akan pulang setelah Boss-nya pulang.


"Iya, sebentar lagi aku pulang, Jes! Kamu pulanglah dulu," perintah Ann begitu bisa menguasai diri.


Jessy mengangguk. "Baiklah. Saya permisi pulang dulu ya, Miss. Selamat malam."


Ann mengangguk dan memperhatikan tubuh Jessy yang kemudian menghilang di balik pintu. Jiwanya terasa kosong, Ann tak lagi memiliki siapapun untuk berbagi. Tak ada yang menunggunya pulang ke rumah, tak ada yang menanyakan apakah ia baik-baik saja, tak ada yang ...


"Hiks ..." tangis Annastasia luruh kembali.


Sikap acuh Papanya membuat beban Ann semakin berat. Jonathan menolak untuk bertemu Ann secara pribadi, kecuali untuk urusan kantor. Seolah Ann benar-benar ditinggal sendirian di muka bumi ini.


Ann mencomot selembar tisu, ia mengelap air mata yang membasahi pipinya. Karena sudah tak memiliki siapapun untuk berbagi, maka Ann akan mencari pelampiasan di tempat lain. Ia mulai bangkit dan meraih tas kerjanya. Ann butuh sesuatu yang bisa menenangkan otak dan hatinya.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan, tibalah Ann disebuah gedung pencakar langit yang cukup populer di kalangan anak muda. Salah satu lantai teratas di gedung itu adalah diskotik, dan Ann ingin mabuk!


Tting.


Lift terbuka di lantai 35. Ann melenggang keluar dan bergegas memasuki ruangan yang sepertinya sangat bising di dalam. Suara dentuman musik yang menghentak terdengar dari luar, Ann tersenyum tak sabar.


Untuk pertama kalinya selama ia hidup, Ann menginjakkan kaki di club malam. Ia sedikit canggung karena ini adalah pengalaman pertamanya berada di ruangan bising ini. Sebenarnya Ann tak menyukai suara berisik, hanya saja mulai sekarang ia akan membiasakan diri.


Ann mengamati sekitarnya , DJ yang memainkan musik di turntable-nya, puluhan orang yang bergoyang di dance floor, beberapa kelompok orang yang duduk di kursi sofa dan akhirnya ia memutuskan untuk duduk di kursi bar. Setidaknya ini hal yang biasanya dilakukan oleh pemula sepertinya.


Seorang bartender menghampiri Ann saat ia sudah duduk di kursi bar yang cukup tinggi. Suara bising membuat Ann harus menajamkan telinganya dan mengamati gerakan bibir Bartender itu saat menyapanya. Ketika Bartender itu menunjukkan sebuah botol minuman, barulah Ann paham bila Bartender itu bertanya apa yang akan dipesan olehnya. Karena tak paham apapun tentang minuman, akhirnya Ann memperhatikan barisan botol yang berjajar di belakang Bartender. Ia memilih botol yang paling menyita perhatiannya dan menunjuk botol itu. Bartender tersebut mengacungkan jempolnya pada Ann, ia lantas mempersiapkan pesanan Ann dalam waktu singkat.


Segelas cairan berwarna kuning keemasan dengan es di dalamnya membuat Ann menelan saliva. Ann meraih gelas itu, ia mendekatkannya ke hidung dan mengendusnya. Aroma menyengat sontak menyeruak dan membuatnya mual. Ann lantas meletakkan kembali gelas itu dan melirik Bartender tadi yang sesekali juga sedang meliriknya. Apakah sangat terlihat bila Ann adalah seorang newbie??

__ADS_1


"Hai, Ann! Wah, surprise sekali melihatmu di sini!"


...****************...


__ADS_2