
Kian mengayunkan langkahnya dengan lebar dan cepat. Dadanya masih terasa panas dan berdegub kencang. Sesaat tadi ia sempat mengagumi kecantikan dan pesona Ann. Namun setelah mendengar hinaan wanita itu, penilaian Kian berubah drastis. Bagaimana bisa wajah yang cantik jelita dengan bibir tipis menggoda itu sangat lancar mengumpat padanya.
"Kian! Mau ke mana?"
Kian menoleh cepat, Jonathan sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan heran.
"Kok sudah pulang? Kita kan belum makan siang?!"
"Saya ada telefon dari kantor, Pak," sanggah Kian berdusta. Padahal ia sudah kehilangan mood berada di rumah ini.
"Nanti saya telefon kantormu! Ayo, kita makan siang bareng dulu!"
Kian terhenyak, untuk sesaat ia lupa bila Jonathan adalah pemilik saham terbesar di Stasiun Televisi tempatnya bekerja.
Karena Kian tak kunjung bergerak, Jonathan akhirnya menghampiri lelaki itu dan menariknya masuk lagi ke dalam rumah. Kian hanya bisa pasrah saat di dalam ia kembali bertemu dengan Ann yang sudah duduk santai di sofa dan sedang menonton televisi.
Ann yang menyadari Papanya mengajak Kian kembali lagi ke dalam rumahnya sontak mendengus kesal. Padahal tadinya ia pikir Kian sudah berhasil lolos dan pulang.
"Ann, ayo kita makan siang bareng!"
"Aku masih kenyang, Pa. Kalian saja makan duluan!" sahut Ann sambil tetap menatap layar televisi.
Kian menghembuskan nafasnya gugup, terlebih saat Bik Sum menarikkan kursi untuknya. Di meja sudah ada berbagai menu masakan yang ditata dengan sangat cantik. Kian seperti sedang makan di restoran saat melihat tatanan masakan-masakan itu.
"Aaannnnn ..."
Ann memutar bola matanya jengkel. Bila Papanya sudah memanggilnya dengan nada panjang seperti itu maka ia harus segera menurut. Sedikit berdecak Ann melangkahkan kakinya menuju meja makan. Sesaat pandangannya bertemu dengan tatapan Kian yang ternyata sedang memperhatikannya. Ann melengos dengan cepat dan menarik kursi di seberang Kian.
Bik Sum menyiapkan piring untuk Nona mudanya dan mengambilkan seporsi nasi untuknya. Ann hanya menatap piring itu dengan tak berselera.
"Kian, mulai besok kalian berdua akan dihubungi oleh Wedding Organizer yang akan mengatur semua acara pernikahan kalian berdua. Jangan merasa sungkan untuk mengutarakan keinginanmu pada mereka, Kian."
"Saya—"
"Papa! Papa bahkan belum mendengarkan penjelasanku tentang Daren!"
Jonathan beralih menatap Ann. Ia menunggu Putrinya melanjutkan kata-katanya.
"Apa Daren sudah setuju?" tanya Jonathan kemudian setelah Ann terdiam cukup lama.
__ADS_1
Ann menggeleng lemah, tangannya menggenggam sendok dengan erat.
Kian yang sedari tadi hanya menyimak tak sengaja melihat genggaman erat tangan Ann pada sendok itu.
"Baiklah. Kalau begitu kamu tidak punya pilihan lain."
"Saya belum siap menikah, Pak Nathan!" sela Kian tiba-tiba.
Ann terperangah, ia menatap Kian dengan tajam. Enak saja dia bicara begitu! Dipikir Ann juga siap dan setuju untuk menikah dengannya, huh!?
"Mohon maaf sebelumnya bila saya mengecewakan anda. Hanya saja saya merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup Nona Ann. Saya mohon maaf, Pak Nathan."
"Tidak, Kian! Kamu adalah laki-laki yang paling pantas bersanding dengan Putriku. Tolong jangan membuat situasi ini semakin rumit dengan membicarakan pantas dan tidak pantas," elak Jonathan tak suka.
"Kian benar, Pa. Ini terlalu mendadak. Kita bahkan baru ketemu hari ini. Bagaimana mungkin dalam hitungan satu bulan kita sudah jadi suami istri?!"
"Apanya yang tidak mungkin? Kalian masih bisa saling mengenal dan saling menjajaki setelah resmi menikah. Bahkan mungkin itu lebih baik karena kalian terhindar dari fitnah!" keukeh Jonathan.
Ann menghembuskan nafasnya gusar. Ia melirik Kian yang juga sedang meliriknya untuk meminta bantuan.
"Sudah. Jangan membantah perintah Papa. Suka atau tidak suka, kalian berdua akan tetap menikah bulan depan! Jangan lupa, Kian, Nenek Sofia sudah mengamanahkanmu padaku!"
"Jadi persiapkan waktu kalian sebaik mungkin untuk saling mengenal. Beritahu WO apa saja yang kalian inginkan untuk pernikahan kalian nanti. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat!"
Ann tak lagi menyahuti titah Papanya. Ia tahu tak mungkin memenangkan perdebatan dengan lelaki kesayangannya itu.
Kian pun demikian, ia mati kutu saat Jonathan menyinggung perihal Nenek Sofia.
"Mari kita makan siang!" perintah Jonathan seraya lebih dulu menyendok sayuran yang tersaji di depannya.
Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dalam diam. Sesekali Jonathan bertanya pada Kian tentang beberapa hal terkait pekerjaannya.
Ann tak memperdulikan mereka berdua, ia sibuk mengunyah dan menikmati seporsi ayam saus lemon favoritnya dan tumis pokcoy saus tiram. Rasanya ia ingin segera pergi dari meja makan dan kembali ke kamarnya. Mengubur dirinya dalam-dalam di balik selimut tebal nan hangat. Ia ingin segera sibuk dengan pekerjaan hingga tak ada waktu untuk memikirkan hal remeh temeh seperti ini.
Usai menghabiskan makan siangnya, Ann berpamitan untuk kembali ke kamar. Tatapannya sempat kembali bertemu dengan Kian namun secepat kilat Ann berpaling.
Sesampainya di kamar, Ann meraih ponsel yang tadi masih ia tinggalkan di meja nakas. Ia terbelalak kaget saat melihat ada 21 panggilan tak terjawab dari Daren. Ada beberapa pesan juga yang masuk, Ann membukanya satu persatu.
[Beb, please. Jangan gegabah mengambil keputusan. Kita bicarakan lagi hal ini baik-baik.]
__ADS_1
[Beb, aku mohon angkat telefonku sebentar. Kita harus bicara.]
[Beb, I'm sorry. I really really sorry. Aku minta maaf atas perkataanku semalam. Aku nggak bisa kehilangan kamu, Beb!]
[Beb, please angkat telefonku!]
[Beb, aku sakit.]
Ann tersentak. Sakit?!
Secepat kilat Ann beranjak dari duduknya dan menarik tasnya yang tergeletak di atas meja. Ia bergegas turun melalui lift dan berlari menuju garasi mobil.
"Ann, mau ke mana kamu?"
"Daren sakit, Pa! Aku mau menjenguk dia," sahut Ann cepat seraya membuka pintu mobilnya.
Ia tak memperhatikan bila sedari tadi Kian mengawasi gerak-geriknya.
"Kian, temani Ann!"
Ann terhenyak, ia menoleh cepat pada Papanya.
Kian yang sedari tadi hanya diam menyimak pun ikut terkejut dengan perintah Jonathan yang tiba-tiba.
"Pa!"
"Berangkatlah bersama Kian atau tidak usah pergi sekalian!"
"Pak, saya mau kembali ke kan—"
"Cepat. Antarkan Ann ke rumah mantan kekasihnya. Urusan kantormu biar aku yang handle!"
Kian menolehi Ann yang juga sedang memperhatikannya. Ia melangkah ragu menghampiri Ann yang langsung membuang muka begitu Kian sudah berdiri di dekatnya.
Ann melempar kontak mobilnya dan mendengus sambil berlalu ke kursi penumpang. Kenapa hidupnya harus berakhir dengan lelaki seperti Kian!? Tidak adakah yang lebih keren dan lebih dandy sedikit?
Jonathan mengawasi dua manusia kesayangannya dengan senyum lega. Terlebih setelah Kian masuk dan duduk di balik kursi kemudi. Mobil sedan itupun perlahan keluar dari carport. Begitu seharusnya kehidupan Putrinya berjalan. Kian lelaki yang tepat.
*****************
__ADS_1